• Home
  • 16 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 September 2002

    Guratan Sejarah Sosial Mathesie

    CHARLOTTE Mathesie tidak bermaksud membuat foto seni. Syahdan, pada 1945 di Kreuzberg, Berlin Barat, wanita itu punya keinginan melanjutkan usaha studio foto ayahnya. Setiap hari ia memotret warga kota itu, dari sekadar untuk keperluan pasfoto, paspor, dan kartu tanda pengenal, hingga langganan-langganan yang ingin bergaya memakai pantalon, topi, atau gaun baru. Ia juga menjadi tukang potret keliling yang datang dari satu keluarga ke keluarga lain dan merekam pesta ulang tahun ataupun acara makan malam. Mathesie bukan seorang flaneur-pengembara estetika-pengikut gerakan surealisme, dadaisme, atau aliran kebudayaan mana pun yang tengah bergejolak di kalangan seniman Jerman saat itu. Ia juga bukan aktivis politik yang memiliki keyakinan seni sebagai alat ekspresi partai. Ia adalah juru foto biasa, seperti di sini tukang foto perkawinan. Pun tak ada niat ia kelak akan berpameran. Bila ia menyimpan klise semua pelanggannya, itu hanyalah untuk kepentingan praktis. Ia ingin warga kota mampu mencetak ulang "nostalgia" dan kebahagiaan mereka dengan mudah. Tapi itulah, karena hal ini dilakukan selama puluhan tahun, saat ia meninggal dan studio bubar pada 1993, seorang kurator bernama Stephane Bauer menemukan sekitar 300 ribu arsip negatif foto yang luar biasa. Meski terkesan remeh-temeh, foto-foto yang direkamnya itu adalah sebuah dokumentasi sosial warga Kreuzberg. Apalagi masa itu adalah masa seusai Perang Dunia II, yang menyebabkan hilang atau cerai-berainya anggota keluarga. Lebih-lebih tembok kukuh yang terkenal itu berdiri membelah kota. Maka bepergian ke studio bersama keluarga seolah memiliki arti untuk membangun identitas kembali melalui foto. Lihatlah bagaimana mereka mengabadikan seluruh fase kehidupan keluarga: mulai bayi, anak-anak, saat baru kawin, hingga menjadi keluarga besar. Tentu saja mereka tak lupa memotret anjing kesayangan. Semua: klik dengan wajah tersenyum. Riang. Seolah foto adalah upaya rehabilitasi terhadap kepahitan. Dari foto, kita dapat melihat bagaimana pengaruh mode Amerika. Banyak warga minta dijepret ala aktor film James Dean. Anak-anak kecil minta difoto bak koboi dan Indian. Mungkin mereka membayangkan diri menjadi Winnetou dan Old Shatterhand. Kita dapat melihat "metamorfosis" tubuh, rambut, selera busana, dan gaya seseorang karena orang yang sama selalu rajin berpotret dari tahun ke tahun. Lihatlah pelanggan bernama Ibu Kaso. Secara rutin ia berpose di depan kamera dari tahun 1927 sampai 1983, dari remaja sampai menjadi nenek. Pakaian, aksesori, dan gayanya berubah-ubah karena mengikuti tren. Ini suasana yang mungkin kontras dengan Berlin Timur. Di balik tembok yang membatasi Kreuzberg, kita membayangkan sebuah aura kota lain yang murung, penuh antrean warga meminta jatah roti, dengan hidup serba diawasi. Syahdan, Agam Wispi, penyair Lekra yang eksil ke Berlin pada 1970-an, punya cerita. "Saya harus jujur, kehidupan di Berlin Timur saat itu begitu dikontrol intel. Makin lama ada gejala-gejala anti-orang asing. Saya menyelinap ke Berlin Barat. Sewaktu saya masuk Berlin Barat, begitu terang benderang, lampu-lampu berkilauan. Tapi, begitu saya kembali lagi ke Berlin Timur, begitu suram, seperti masuk kuburan," katanya suatu saat dalam sebuah wawancara. Dan Kreuzberg bukanlah seperti Berlin Timur. Kreuzberg adalah kota yang terbuka bagi orang asing. Inilah distrik di Jerman yang sejak 1967 banyak menerima luapan imigran Turki. Dan tanpa disadari, Mathesie pun menjadi fotografer pertama yang mengabadikan imigran itu. Lihatlah serial foto anak-anak Turki mengenakan pakaian putih selempang dan topi bak sultan Ottoman. Itulah kebiasaan mereka saat khitanan. Nun di Istanbul, ada sebuah tradisi: anak-anak diantar oleh orang tuanya menziarahi Masjid Eyup yang dianggap sakral. Di situlah mendiang Eyup Ansari, sahabat nabi, dimakamkan. Anak-anak itu lalu berdoa dan berfoto di depan makam Eyup. Meski jauh dari tanah air, ternyata tradisi itu tetap dipertahankan di studio Mathesie. Studio itu "sama sakral"-nya dengan makam Eyup Ansari. "Sampai sekarang, banyak warga Turki atau Yunani di sana," kata Yudhi Soerjoatmodjo, fotografer dan Direktur I See, yang baru saja mengunjungi Kreuzberg. Sebuah kegiatan di studio foto umum sering diremehkan karena dianggap bermental tukang. Tapi ternyata arsip-arsip Mathesie membukakan mata kita bahwa ia bisa menjadi bagian dari sebuah sejarah sosial yang bermakna. Seno Joko Suyono

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pengangkatan

Sakit

TEMPO DOELOE

Buku

Dua Wajah Kiai Sadrach

Catatan Pinggir

Sancho

Fotografi

Guratan Sejarah Sosial Mathesie

Tari

Gendari yang Mengalir

TEMPO|interaktif

Jackie Chan Tak Suka Kekerasan

Nasional

Kejaksaan Temukan Aliran Duit PNS Batam ke Dhana  

Olahraga

Gagal Bawa Bayern Raih Gelar, Heynckes Ogah Pergi  

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah  

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

Nasional

Insiden Anas-Ibas Efek Konflik Internal Demokrat  

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif