• Home
  • 16 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 September 2002

    Gendari yang Mengalir

    GENDARI meluncur. Matanya terbebat. Koreografer Elly Luthan pekan lalu menampilkan Gendari, sosok yang sering dilupakan. Dalam Mahabharata, dikisahkan Gendari mencucuk matanya sendiri lantaran ingin menyelami penderitaan Destarata, suaminya, penguasa Astina yang buta. Pakeliran wayang kulit yang "pro-Pandawa" jarang memberikan porsi besar pada Gendari. Itu lantaran Gendari adalah ibu para Kurawa. Ia seorang wanita yang dikenal memiliki hati pendendam, sangat bertolak belakang dengan karakter Kunti, ibu para Pandawa yang menjalani kodratnya. Elly ingin memahami Gendari dari sudut seorang ibu yang juga berduka apabila anaknya mati. Baginya, Gendari adalah lambang kekecewaan. Gendari mengharapkan dirinya diperistri Pandu, tapi mendapatkan Destarata. Ia sakit hati, bersumpah agar kelak anak-anaknya selalu menjadi musuh anak-anak Pandu. Pertunjukan ini menunjukkan pergeseran perhatian Elly. Pada 1998, Elly mementaskan Kunthi Pinilih, sebuah koreografi yang puitis. Dapat disebut kini Elly menjalani titian karakter yang berlawanan dari Kunti ke Gendari. Panggung Gedung Kesenian Jakarta itu awalnya temaram. Sulistyo Titokusumo, penari senior, muncul dengan rambut putih panjang. Lalu sembilan penari perempuan yang mengenakan kostum hitam sederhana gaya Yogya bergerak perlahan dari posisi bersimpuh ke posisi berdiri sejajar. Sebuah bedhaya hitam. Suasana yang hendak dibangun seperti hati yang kering. Terasa karya Elly kali ini berbeda dengan garapan-garapan sebelumnya. Adegan demi adegan mengalir tanpa suatu transisi. Gerongan (kor laki-laki) garapan Blacius Subono menjadi jembatan yang mengantar ke adegan berikutnya. Biasanya, buat menggambarkan perkembangan adegan, Elly menggunakan gending atau perpindahan pola gerak lantai. Pada Kunthi Pinilih selalu ada transisi seperti ini. Elly masih berusaha "ketat" mematuhi aturan-aturan klasik. Agaknya kali ini ia berusaha mengambil "roh" ketimbang bentuk bedhaya. Bedhaya ini terletak pada konsep waktunya yang mengalir. Dengan pola seperti itu, pangggung seperti tanpa jeda. Terkadang terasa padat lantaran belasan penarinya sepanjang pertunjukan muncul bersama di panggung dan Ellly cenderung tak menyajikan permainan ruang antara tari tunggal dan berkelompok, antara bloking padat dan ruang kosong. Mungkin "keramaian" itu untuk menunjukkan ekspresi kegalauan Gendari. Elly untuk pertama kalinya misalnya menggunakan properti toya. Itu terasa cantik digunakan saat menggambarkan Gendari melahirkan. Dalam Mahabharata dikisahkan yang keluar dari garba Gendari adalah gumpalan darah, yang membuat Gendari mengamuk, menginjak-injak gumpalan itu hingga menjadi 100 bayi. Lima penari laki-laki menyilangkan toya ke leher Gendari (Dewi Sulastri) untuk tafsir ini. Inilah pertunjukan Gendari yang ketiga. Elly banyak melakukan penambahan. Kali ini ia menampilkan sosok Destarata, yang diperankan penari Eko Supriyanto dan Djarot B.D., yang tak muncul di pertunjukan pertama dan kedua (tahun 2000). Ketiganya berakhir sama: Gendari seolah meletakkan jenazah, mendengar degup jantung terakhir putra kesayangannya. Di belakang, Sulistyo Tirtokusumo mengunyah inang, memecahkan kendi. Dan seketika tritis (curahan) air mengucur sebagai backdrop panggung. Sementara itu, sang suami, Deddy Luthan, menempuh pergulatan lain. Kita mengenal koreografer ini sejak 1975, saat ia menggeluti suku Dayak di Kalimantan. Awal Juni lalu, ia kembali menyusuri pedalaman Kutai Barat. Ia bahkan sampai ke Long Pahangai, sebuah desa yang bila ditempuh dengan motorboat memerlukan waktu lebih dari sehari, dan menjelajahi Kersik Luway, sebuah hutan anggrek hitam. Hasilnya koreografi Ketika Anggrek Hitam Berbunga. Kersik Luway adalah daerah langka di dunia. Akibat kebakaran, hutan anggrek hitam yang dulu luasnya 400 hektare itu kini tingggal 17 hektare. Entah seberapa jauh Deddy menyelami tragedi daerah yang dalam bahasa penduduk setempat berarti "pasir sepi" itu. Dari awal hingga akhir pertunjukan seperti rites of passage ini, para penari tak beranjak dari lingkaran api dan asap. Belum terlihat seperti garapannya Gandrung (1998), yang dengan bekal riset antropologis kuat diekspresikan secara visual dengan tafsiran personal sendiri. Tapi, lantaran bulan-bulan depan ia akan kembali menyelami ritus hudoq Dayak Bahau dan Dayak Punan di Kutai Barat, bisa jadi koreografi ini masih terbuka pada eksplorasi bentuk. Dua garapan itu memperlihatkan bahwa pasangan suami-istri ini adalah koreografer yang terus-menerus setia dengan proses. Selalu berdialog dengan (dan merenungkan lagi) sumber garap tari mereka. Seno Joko Suyono

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pengangkatan

Sakit

TEMPO DOELOE

Buku

Dua Wajah Kiai Sadrach

Catatan Pinggir

Sancho

Fotografi

Guratan Sejarah Sosial Mathesie

Tari

Gendari yang Mengalir

TEMPO|interaktif

Jackie Chan Tak Suka Kekerasan  

Nasional

Kejaksaan Temukan Aliran Duit PNS Batam ke Dhana  

Olahraga

Gagal Bawa Bayern Raih Gelar, Heynckes Ogah Pergi  

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah  

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

Nasional

Insiden Anas-Ibas Efek Konflik Internal Demokrat  

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif