• Home
  • 23 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip

Layar

  • Tari Tunggal: Menari dalam Kesunyian


    Sendiri di atas panggung, di dalam kegelapan, merengkuh udara, mengusap jiwa. Di atas panggung, tubuh seorang penari diuji ketika ia mementaskan sebuah tari tunggal. Di panggung yang kosong itulah teknik, imajinasi ruang, dan gagasan sang penari akan dipertaruhkan. Syahdan, Teater Utan Kayu untuk pertama kali menyelenggarakan Festival Tari Tunggal sebagai bagian dari Indonesian Dance Festival 2002. Bagaimana para penari tunggal modern kita mengambil inspirasi dari tradisi? Apa bedanya olahan tubuh para penari tunggal modern dengan tradisional? Ikuti juga perjumpaan TEMPO dengan berbagai empu tua para penari tunggal tradisional yang masih meniti hidup, menari di dalam kerut-kerut ketuaannya.
  • Dari Dolalak sampai Kafka


    Festival Tari Tunggal menampilkan keragaman. Dari yang hanya mengandalkan tubuh, membawa sofa, sampai yang mendatangkan anak ayam ke panggung.
  • Para Maestro yang Tetap Bercahaya


  • Solo Dance: Dancing in the Quietness


    Alone on the stage, spotlighted in the darkness, pulling at the air, caressing the soul. A dancer’s entire body is tested when he performs a solo dance. On the empty stage, also at stake are the dancer’s techniques, spatial imagination, and ideas. For the first time ever, the Teater Utan Kayu held a Solo Dance Festival as part of the Indonesian Dance Festival 2002. Do our modern solo dancers draw inspiration from tradition? What is the difference in body management between the modern and traditional solo dancer? Follow TEMPO’s report and meet a variety of gurus in their twilight years, who continue to earn a living through traditional solo dancing.


  • From Dolalak to Kafka


    The Solo Dance Festival presents variety. From relying on the body, including a sofa, to bringing a chick onstage.
  • Dance Maestros Who Continue to Shine


    For a dance maestro, the most important thing is perbawa or taksu. It’s an aura, a magical light, which announces to the world that he’s a dancer. Once on stage, even without any movement whatsoever, the audience would know and say: here’s a maestro. Of course, it isn’t easy to attain so prestigious a perbawa. It needs extreme patience and hard work. Tarwo Sumosutragio, for instance, had to go through a prihatin mood, including a puasa ngrowot, to attain perbawa. During this fasting period, she survived only on fruit and ketela roots.

    What of the other maestros? Following are excerpts of interviews TEMPO recently had with some of the maestros of different traditional backgrounds:


cover

Album

Meninggal

Pengangkatan

Penghargaan

Buku

Bukan Mimpi 1001 Malam

Resensi

Setitik Progres di Masa Abdurrahman Wahid

Catatan Pinggir

Kuo Pau Kun

Sancho

Indonesiana

Kesurupan Menular

'Drakula' Pensiunan

Layar

Tari Tunggal: Menari dalam Kesunyian

Dari Dolalak sampai Kafka

Para Maestro yang Tetap Bercahaya

Ralat

Erratum

TEMPO|interaktif

Internasional

Barack Obama, Presiden Pertama Aktif di Twitter

Mengapa Orang Lebih Terbuka Saat Mengirim SMS

Jackie Chan Tak Suka Kekerasan  

Nasional

Kejaksaan Temukan Aliran Duit PNS Batam ke Dhana  

Olahraga

Gagal Bawa Bayern Raih Gelar, Heynckes Ogah Pergi  

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah  

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif