• Home
  • 23 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 23 September 2002

    Bush dan Saddam di Atas Papan Catur Dunia

    JIKA Irak akhirnya mempersilakan tim inspeksi senjata PBB masuk dan memeriksa negaranya, tentu saja bukan karena Saddam Hussein mendadak menjadi pemimpin yang santun atau saleh. Perubahan sikap Irak yang terjadi setelah pidato Presiden AS George W. Bush di PBB itu pun tak bisa dianggap sebagai "kemenangan" AS. Ini hanyalah sekadar langkah kuda Saddam Hussein di atas papan catur dunia. Dengan sikap kooperatif (sementara) dari Irak, AS tak memiliki alasan apa pun untuk menyerang. Saddam Hussein tahu, seperti yang diutarakan Bush secara terbuka, bahwa tujuan Bush yang utama adalah menggusur pemerintahan Saddam. Tuduhan bahwa Irak memiliki senjata kimia, biologi, dan nuklir yang mampu melumat umat manusia itu adalah satu hal; menyingkirkan Saddam adalah perkara lain. Tapi Bush jelas menggunakan tuduhan kepemilikan senjata itu sebagai "surat permisi" kepada dunia agar AS bisa meluncurkan bom ke Irak dengan restu. Sayangnya, berbeda dengan Perang Teluk 11 tahun silam, hasrat Bush kali ini untuk menyerang Irak ditanggapi dunia dengan dingin. Baik kawasan Timur Tengah-kecuali Arab Saudi dan Kuwait-maupun kawasan Eropa (kecuali Inggris) tak menunjukkan nafsu untuk angkat senjata. Dengan sambutan yang dingin itu, Bush malah menyatakan, jika perlu, AS akan berjalan sendirian memerangi Irak. Ancaman ini tampaknya ditanggapi dengan serius oleh Irak hingga akhirnya Irak bersedia membuka tubuhnya agar diperiksa tim inspeksi PBB. Perhitungan Irak, hal itu jauh lebih baik daripada mereka harus mengalami seperti apa yang terjadi dengan Slobodan Milosevic. Pada 1990-an, Menteri Luar Negeri AS Warren Christopher harus menghadapi keengganan Eropa untuk menyerang Milosevic, hingga akhirnya NATO mengedrop serangkaian bom yang merepotkan itu dan berekor pada penangkapan Milosevic beberapa tahun kemudian. Dengan reputasi sebagai pemimpin negara yang pernah melumat suku Kurdi, Saddam Hussein memang bukan sosok yang populer di mata dunia, bahkan di kawasan Timur Tengah, yang sebetulnya juga ingin melihat dia jatuh. Tapi Bush-beserta kedua petinggi AS garis keras, Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld dan Wakil Presiden Dick Cheney-kali ini harus belajar taat kepada aturan main dunia. Melihat kepandaian Irak dalam melangkah di atas papan catur dunia, sebaiknya AS dan masyarakat dunia lainnya belajar dari kelemahan strategi di masa lalu. Karena Irak sudah menyetujui wilayahnya diperiksa tim inspeksi PBB, AS dan anggota Dewan Keamanan PBB lainnya harus menekankan agar tim inspeksi kali ini tidak mengulangi kesalahan tim inspeksi yang bekerja pada 1991 hingga 1998 silam. Di masa lalu, meski tim inspeksi berhasil mendeteksi dan menyita sebagian program senjata nuklir serta senjata kimia dan biologi, tim tersebut tak berhasil menjelajahi seluruh persediaan senjata Irak karena upayanya selalu diblokir pihak Irak. Berbagai rencana inspeksi harus diperhitungkan lamanya dan reaksi-reaksi politik harus dilakukan jika Irak kembali mempersulit pemeriksaan. Jika alternatif lainnya adalah perang terbuka-atau bahkan "sekadar" menjatuhkan bom seperti yang dilakukan terhadap Milosevic-yang pasti akan mengorbankan rakyat sipil, kewajiban Dewan Keamanan PBB serta anggota PBB lainnya adalah menekankan keefektifan tim inspeksi senjata itu seoptimal mungkin.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Pengangkatan

Penghargaan

Buku

Bukan Mimpi 1001 Malam

Resensi

Setitik Progres di Masa Abdurrahman Wahid

Catatan Pinggir

Kuo Pau Kun

Sancho

Indonesiana

Kesurupan Menular

'Drakula' Pensiunan

Layar

Tari Tunggal: Menari dalam Kesunyian

Dari Dolalak sampai Kafka

Para Maestro yang Tetap Bercahaya

Ralat

Erratum

TEMPO|interaktif

Internasional

Barack Obama, Presiden Pertama Aktif di Twitter

Mengapa Orang Lebih Terbuka Saat Mengirim SMS

Jackie Chan Tak Suka Kekerasan  

Nasional

Kejaksaan Temukan Aliran Duit PNS Batam ke Dhana  

Olahraga

Gagal Bawa Bayern Raih Gelar, Heynckes Ogah Pergi  

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah  

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif