• Home
  • 28 Oktober 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 28 Oktober 2002

    Ikan Pengunyah Gulma

    PAGI baru saja mulai. Seorang penduduk memakai topi lebar asyik mengayuh sampan membelah permukaan Danau Kerinci. Danau di ujung selatan Taman Nasional Kerinci Seblat, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, yang luasnya 4.200 hektare itu tampak bening. Satu per satu perahu lain muncul. Aktivitas pun dimulai. Jaring ditebar dan, hup..., ikan-ikan menggelepar di dalamnya, membuat senyum para nelayan melebar. Tak aneh bila penduduk kini banyak tersenyum. Sampai lima tahun lalu, bila mereka menebar jaring, yang tertangkap adalah tanaman eceng gondok. Gulma air tawar ini menutupi dua pertiga permukaan danau, menyebabkan pendangkalan dan memerosotkan hasil tangkapan ikan. Sementara di tahun 1960 volume tangkapan ikan sampai 780 ton, tahun 1976 hanya tinggal sepertiganya. Eceng gondok (Eichhornia crassipes) memang gulma air yang punya tingkat pertumbuhan amat cepat. Banyak sudah danau dan sungai di Indonesia yang jadi korban. Tumbuhan berbunga ungu indah yang berasal dari Laut Tengah dan Afrika Selatan ini juga amat bandel. Pelbagai cara sudah dicoba pemda untuk memberantasnya, mulai dari pengangkatan hingga penyemprotan dengan herbisida, tapi si eceng malah membuat mereka jadi gondok. Mereka juga mencoba memanfaatkan gulma ini sebagai bahan anyaman, seperti yang dilakukan di Thailand. Tapi tak satu pun yang cukup manjur untuk membersihkan tanaman berumbi ini. Akhirnya, dicobalah cara biologis. Di awal tahun 1990-an Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengintroduksi musuh alami eceng gondok. Pilihan jatuh pada ikan koan (grass carp), yang berasal dari daratan Cina. Alasannya, kata Kepala Pusat Penelitian Limnology LIPI Bogor, Gadis Sri Haryani, koan merupakan hewan pemangsa tanaman air (herbivora). Ia juga dianggap bakal mudah beradaptasi di Indonesia karena masih kerabat dekat ikan mas, di samping bisa dimakan. Beberapa negara Afrika sudah membuktikan keampuhan ikan ini untuk "mengemut" eceng gondok. Meski begitu, mereka tak asal main cemplung. Dikaji dulu apakah nantinya akan terjadi gangguan keseimbangan pada ekosistem danau atau tidak. Hasilnya, ikan ini aman. Tak ada ikan lokal yang akan disaingi. Ia juga bukan tipe predator yang akan memburu para penghuni asli Danau Kerinci. Langkah pengamanan berikutnya adalah mencegah masuknya bakteri dan penyakit yang mungkin terbawa dari tanah leluhurnya. Maka, biang ikan dari Cina dikembangbiakkan dulu di kolam Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, Sukabumi, Jawa Barat. Bersih. Ikan hasil pendederan di Sukabumi inilah yang kemudian dikirim ke Kerinci. Sebelum betul-betul ditugasi, lima ribu benih prajurit ikan ini mengalami uji terakhir di kolam milik Dinas Perikanan Kerinci. Sukses di tingkat percobaan, pada tahun 1994 disebarlah 48 ribu benih ikan koan ke Danau Kerinci. Diperkirakan, untuk membersihkan danau yang luasnya 100 kali kompleks MPR/DPR dan punya kedalaman 110 meter ini diperlukan 2 juta benih ikan koan. Nyatanya, dengan 48 ribu koan saja, di tahun 1997 permukaan danau sudah terlihat bersih. "Eceng gondok tinggal 5 persen saja," begitu kata Hayani, Kepala Seksi Konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat. Ini dianggap sebuah keberhasilan. Menteri Kelautan dan Perikanan, Rokhmin Dahuri, sampai perlu melihatnya Juli lalu. Pemerintah Provinsi Jambi pun keranjingan. Dua minggu lalu, ribuan benih disebar di Danau Baoura dan Danau Arang-Arang, Kabupaten Sorolangun. Menurut Syaifudin Anang, Kepala Biro Humas Pemda Provinsi Jambi, prajurit penyapu eceng juga akan ditebar di anak-anak Sungai Batanghari. Ini terkait dengan rencana Pemerintah Daerah Jambi untuk menjadikan sungai terpanjang di Sumatera itu sebagai kawasan wisata. Meskipun keberadaan para tentara alami ini secara kasatmata tidak menimbulkan persoalan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jambi, Herman Suherman, berniat melakukan kajian dampak lingkungan terhadap penyebaran ikan koan ini. Langkah ini dianggap tepat oleh Gadis. Belakangan, menurut Azwar D.M., Kepala Sub-Dinas Perikanan Kabupaten Kerinci, memang ada keheranan penduduk di sekitar Danau Kerinci. Ikan koan dalam ukuran besar kini makin mudah didapat. Bahkan di tahun 1998 pernah tertangkap ikan koan seberat 26 kilogram. Juga, seiring dengan suksesnya pembersihan eceng, populasi ikan lokal tertentu, seperti ikan kolari, barau, semah, dan bujuk, ikut susut. Namun, populasi ikan nila justru naik pesat, padahal selama ini tidak begitu besar. Apakah benar perubahan komposisi penghuni danau diakibatkan oleh masuknya ikan koan? Bagaimana akibatnya bagi keseimbangan ekosistem? Herman belum bisa memberikan jawaban. Moga-moga kasus eceng gondok-yang didatangkan ke Indonesia untuk hiasan tapi kemudian berubah jadi hama-tak terulang. Agus Hidayat, Arif Ardiansyah (Kerinci)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pengangkatan

Penghargaan

TEMPO DOELOE

Buku

Etika Al-Ghazali dan Kant

Mengenal Indonesia Luar-Dalam

Catatan Pinggir

Aktor

Fotografi

Menjaring Kenyataan dengan Kamera

Seni Rupa

Reklame-Reklame 'Meneer' Lavies

TEMPO|interaktif

Olahraga

Pelatih Inter Milan Sanjung Andik Vermansyah  

Internasional

Barack Obama, Presiden Pertama Aktif di Twitter  

Mengapa Orang Lebih Terbuka Saat Mengirim SMS?

Jackie Chan Tak Suka Kekerasan  

Nasional

Kejaksaan Temukan Aliran Duit PNS Batam ke Dhana  

Olahraga

Gagal Bawa Bayern Raih Gelar, Heynckes Ogah Pergi  

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah  

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif