• Home
  • 18 November 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 November 2002

    Cerita Partai yang Mengagetkan

    Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia Penulis : Ali Said Damanik Penerbit : Teraju, Jakarta, September 2002, xxxi + 391 halaman MESKI "hanya" menempati urutan ketujuh dalam Pemilihan Umum 1999, fenomena Partai Keadilan (PK) cukup mengejutkan. Tidak seperti partai besar lain yang umumnya berasal dari organisasi masyarakat atau partai lama atau dipimpin tokoh nasional yang sudah dikenal masyarakat, PK seolah-olah muncul dari negeri antah-berantah. Prestasi PK tidak main-main. Meski gagal melewati electoral threshold sebesar 2 persen atau 10 anggota DPR RI, PK berhasil mengumpulkan lebih banyak suara daripada sejumlah partai lama berbasis "masa lalu" (PSII, Murba, IPKI, Masyumi Baru) atau partai yang dipimpin tokoh nasional (PUDI, PUI, PDR). Buku yang ditulis Ali Said Damanik ini menjelaskan genealogi PK, yang menurut dia berasal dari sebuah gerakan dakwah yang sering disebut "Tarbiyah". PK hasil dari proses tiga tahap selama 20 tahun. Pertama, dari sebuah gerakan dakwah bawah tanah dengan sistem usrah (pengajian dengan 5-10 orang peserta) yang terbatas menjadi sebuah gerakan keagamaan yang diterima secara longgar (maksudnya menjadi umum-penulis) di kampus. Kedua, dari sebuah gerakan eksklusif di musala-musala kampus menjadi gerakan yang menguasai lembaga-lembaga formal seperti senat mahasiswa sampai didirikannya salah satu organisasi mahasiswa terkuat saat ini, yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Ketiga, ketika gerakan ini mendirikan Partai Keadilan pada Agustus 1998, sampai sekarang (halaman 36-37). Umumnya tidak ditemukan penjelasan baru dalam buku ini, khususnya bagi pembaca yang telah lama mendeteksi, mengamati, dan bahkan berinteraksi dengan aktor-aktor yang berkiprah dalam Tarbiyah, KAMMI, ataupun PK. Kelebihan buku ini terletak pada identifikasi, sistematisasi, dan interkoneksi yang dilakukannya. Sebagai penelitian yang mencoba menjelaskan dengan relatif komprehensif transformasi gerakan Tarbiyah menjadi PK, penulis melakukan identifikasi yang lebih lengkap terhadap, antara lain, model-model kegiatan yang dipakai Tarbiyah untuk merekrut dan mendidik aktivisnya (Liqo', Daurah, Rihlah, Mabit, dan seterusnya), yang selama ini hanya diketahui sepotong-sepotong oleh orang luar. Juga sistematisasi perkembangan Tarbiyah. Tampilnya "wajah publik" Tarbiyah, menurut penulis, ditandai kehadiran sejumlah lembaga untuk umum seperti lembaga bimbingan belajar Nurul Fikri, majalah Sabili, lembaga dakwah Khairu Ummah, lembaga pendidikan Islam Al-Hikmah, lembaga pengkajian SIDIK, penerbit-penerbit buku khusus Tarbiyah, dan bentuk kesenian nasyid. Hal terpenting, sekaligus paling riskan, yang dilakukan buku ini adalah menghubungkan (interkoneksi) lembaga-lembaga tersebut dengan gerakan Tarbiyah itu sendiri (yang notabene OTB alias organisasi tanpa bentuk) dan dengan KAMMI dan PK sebagai lembaga publik. Penulis mengklaim interkoneksi tersebut dengan mengidentifikasi kesamaan nama-nama aktivis yang berada di berbagai organisasi tersebut dan kesamaan sumber ajaran atau ideologi yang dianut. Interkoneksi ini penting karena di sinilah letak dapat diterima atau ditolaknya "tesis" sang penulis bahwa PK merupakan hasil transformasi 20 tahun gerakan Tarbiyah. Sebagai buku yang berasal dari skripsi sosiologi UI dan ditulis selama tiga tahun, kelemahan buku ini justru terletak pada kurang terelaborasinya penjelasan sosiologis yang relevan, baik untuk menjelaskan gerakan Tarbiyah maupun untuk menerangkan kelahiran PK-selain penjelasan-penjelasan bernada apologetis mengenai kiprah PK semenjak lahir sampai era pemerintahan Megawati. Untuk faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan Tarbiyah, misalnya, penulis terpaku pada kelahiran Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) sebagai faktor kondusif terhadap berbagai gerakan Islam. Penulis menyinggung perubahan sosial makro seperti modernisasi dan akibat yang ditimbulkannya, seperti anomie dan disorientasi nilai, tapi bagaimana proses perubahan sosial makro itu direspons oleh aktivis Tarbiyah yang umumnya muda, berpendidikan tinggi, dan berlatar perkotaan tidak dijadikan fokus utama. Padahal ini variabel yang penting, bahkan mungkin terpenting untuk menjelaskan fenomena Tarbiyah. Terlebih bila kita mengingat bahwa perubahan sosial yang sama ternyata menghasilkan dua wajah Islam yang berbeda: yang "keras" seperti PK dan yang "moderat" seperti Jaringan Islam Liberal. Mengapa konteks sosial yang sama menghasilkan dua jenis respons yang kontras? Uraian mengenai karakteristik ajaran Tarbiyah ("revivalisme Islam") dan karakteristik sosial kelompok Tarbiyah (eksklusif) yang dikaitkan dengan proses perubahan sosial kiranya akan lebih memperjelas raison d'etre di balik tumbuh dan berkembangnya Tarbiyah. Di sisi lain, meskipun diawali dengan kerangka teori gerakan sosial dan menjelaskan bahwa kelahiran PK adalah "sebuah ijtihad yang sangat dipengaruhi oleh kesempatan yang tersedia saat itu" (halaman 214), penulis gagal mengaitkannya dengan nomenklatur yang dikenal dalam teori sosiologi mutakhir mengenai gerakan sosial. Tumbangnya Soeharto menyediakan apa yang dikenal sebagai political opportunity structure yang dipopulerkan oleh ahli gerakan sosial par excellence Doug McAdam. Eksplorasi terhadap political opportunity structure akan lebih memberikan bobot akademik bagi penelitian ini. Muhammad Qodari, peneliti CSIS, Jakarta

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Pengangkatan

TEMPO DOELOE

Buku

Cerita Partai yang Mengagetkan

Catatan Pinggir

Detektif

Fotografi

Lucifer, Gypsy, dan Dolorosa

Indonesiana

Pencuri Terbentur Kemudi

'Pembangkangan' Warga Solo

Ralat

Ralat

TEMPO|interaktif

Olahraga

Pelatih Inter Milan Sanjung Andik Vermansyah  

Internasional

Barack Obama, Presiden Pertama Aktif di Twitter  

Mengapa Orang Lebih Terbuka Saat Mengirim SMS?

Jackie Chan Tak Suka Kekerasan  

Nasional

Kejaksaan Temukan Aliran Duit PNS Batam ke Dhana  

Olahraga

Gagal Bawa Bayern Raih Gelar, Heynckes Ogah Pergi  

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah  

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif