• Home
  • 18 November 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 November 2002

    Bila Gempa Tak Dianggap Bahaya

    TERLETAK di ujung timur dari gugusan gunung berapi di Jawa Barat, Gunung Papandayan menghamparkan panorama yang elok dan hening menyejukkan. Hanya 28 kilometer dari Kota Garut, gunung ini dihiasi rumpun-rumpun bunga edelweiss, dipagari kebun teh, dan bermahkotakan kawah, yaitu Kawah Mas, Nangklak, dan Manuk. Dua kawah lainnya, Tegal Alun-alun dan Tegal Brungbung, mengitari gunung yang tingginya 2.665 meter di atas permukaan laut itu.

    Namun keheningan itu ternoda ketika Selasa pekan lalu Papandayan menggeliat dan meregang. Kawah Manuk bergolak dan mengguncang bumi hingga radius 1 kilometer. Kawah itu menyemburkan pasir dan kerikil bercampur debu setinggi 500 meter yang kemudian terlontar hingga radius 1 kilometer. Beberapa wisatawan yang berada di sekitar kawah pun tunggang-langgang melarikan diri. Lima desa langsung kosong ditinggalkan penduduknya yang mengungsi.

    Sekitar 7.000 pengungsi memadati tempat-tempat penampungan, baik di masjid maupun di sekolah. Wabah penyakit segera menampakkan dirinya. Menurut catatan Dinas Kesehatan Garut, sekitar 500 orang sudah terjangkit diare, dengan korban terbesar di kalangan anak-anak.

    Letusan itu juga menumpahkan lahar dingin ke aliran Sungai Cibeureum dan Cimanuk. Aliran yang bermuatan lahar itu lalu menerjang rintangan di sekitarnya. Tercatat 13 rumah, satu sekolah, dan dua surau hancur terendam lumpur. Dua jembatan patah berantakan. Lahar juga menelan sekitar 60 hektare sawah dan ratusan ternak.

    Aksi Gunung Papandayan kali ini di luar perkiraan. September lalu, Direktur Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Ade Djumarna, melansir bahwa ada tujuh gunung api di Indonesia yang meningkat dari status aktif normal menjadi waspada, yakni Gunung Kerinci, Krakatau, Tangkuban Perahu, Ijen, Semeru, Karangetang, dan Gunung Lokon. Itu berarti Gunung Papandayan dan 121 gunung api lainnya berada dalam kondisi aktif normal.

    Nah, prakiraan itu rupanya tidak memperhitungkan sinyal-sinyal dari Papandayan. Sebelum terjadi letusan, misalnya, data seismograf dari pos pengamatan yang berada di Pusparendeng mencatat adanya peningkatan gempa vulkanis selama 2 minggu terakhir. Bahkan letusannya didahului gempa sebanyak 60 kali.

    Bandingkanlah ulah Papandayan ini dengan Gunung Merapi. "Batuk" Merapi tidak selalu didahului gempa. Saat Merapi meletus pada tahun 2001, misalnya, guncangan gempanya hanya sedikit. Itu lain dengan letusan pada 1998, yang diawali dengan banyak gempa. "Setiap kejadian tidak bisa disamaratakan," kata Ratdomo Purbo, Ketua Balai Pengembangan dan Penyelidikan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta.

    Tapi, entah mengapa, frekuensi gempa di Gunung Papandayan tidak diantisipasi lebih awal. Tidak ada pengumuman agar masyarakat waspada. Bahkan, setelah Papandayan meletus, Ade Djumarna tetap berkukuh bahwa banjir lahar berasal dari jebolnya dinding Kawah Manuk. Maksudnya, barangkali, banjir itu bukan disebabkan oleh letusan. Barulah keesokan harinya keterangan itu diralat dan ia mengakui bahwa Papandayan telah meletus.

    Reaksi Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang lambat menimbulkan panik dan melipatgandakan jumlah pengungsi. Maklum, mereka belum biasa menghadapi bencana seperti ini karena, sejak letusan kecil pada 1940, Papandayan tidak pernah bertingkah sampai Selasa, 12 November lalu. Akibatnya, "Yang mengungsi terlalu banyak," kata Eko Teguh Paripurno, Ketua Kappala, lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi warga untuk menghadapi letusan Merapi.

    Seharusnya, warga yang tinggal dalam radius 500 meter hingga 1 kilometer rajin balik ke rumahnya untuk membersihkan pasir dan debu yang menumpuk gara-gara letusan. Tindakan ini perlu agar debu dan pasir tidak membebani genting yang bisa mengakibatkan rumah rubuh. Sedangkan warga yang rumahnya berada pada radius 2,5 kilometer tidak perlu mengungsi dan rumahnya pun bebas dari semburan pasir debu.

    Warga yang harus mengungsi adalah warga di sekitar aliran Sungai Cibeureum. Soalnya, sungai itu akan membawa lumpur dari material letusan yang akan memporak-porandakan rumah di kedua tepinya. Namun Eko menduga bencana itu bisa diminimalkan karena masyarakat Garut akan menambang pasir hasil letusan itu.

    Memang, lain gunung lain rezeki. Bencana seperti yang terjadi di Papandayan justru diidam-idamkan oleh warga sekitar Merapi. Mereka berharap Merapi batuk-batuk dan pasirnya bisa diangkut ke kota. Setiap tahun, 6,7 juta meter kubik pasir dikeruk dari Merapi. Padahal Merapi hanya memuntahkan pasir 2 juta meter kubik. "Kok, rumah tawon (semburan pasir) tidak jugrug (jatuh) di sini," kata Eko mengutip harapan warga Merapi.

    Apakah setelah bencana, Papandayan membawa anugerah untuk warga yang hidup di sekitarnya? Semburan pasir memastikan hal itu, di samping tentu saja panorama yang elok dan keheningan yang menyejukkan.

    Agus S. Riyanto, Rinny Srihartini, Upiek Supriyatun (Garut)


    Letusan Gunung Papandayan

    11-12 Agustus 1772
    Letusan besar dan awan panas yang menelan korban sekitar 3.000 jiwa.

    11 Maret 1923
    Letusan lumpur dan lontaran batu-batu sejauh 150 meter.

    25 Januari 1924
    Letusan lumpur di Kawah Mas dan Kawah Baru.

    16 Desember 1924
    Ledakan dari Kawah Baru yang mengakibatkan hutan di sekitarnya gundul tertimpa batu dan lumpur.

    1926 dan 1927
    Letusan lumpur dan sulfur di Kawah Mas.

    1940
    Letusan yang menyemburkan asap dan lumpur panas.



    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Pengangkatan

TEMPO DOELOE

Buku

Cerita Partai yang Mengagetkan

Catatan Pinggir

Detektif

Fotografi

Lucifer, Gypsy, dan Dolorosa

Indonesiana

Pencuri Terbentur Kemudi

'Pembangkangan' Warga Solo

Ralat

Ralat

TEMPO|interaktif

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif