• Home
  • 06 Januari 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 06 Januari 2003

    Mehdi Golshani:

    SEBAGAI cendekiawan muslim Iran, Mehdi Golshani, 63 tahun, jelas tidak mewakili kalangan mullah yang ortodoks. Penampilannya dandy, berjas, berdasi dengan warna biru cerah. Wajahnya bersih dan kelimis, tak seperti penampilan para mullah yang berjenggot lebat dan berjubah. Dalam peta pemikir muslim di Iran, tokoh yang menyukai musik klasik ini mewakili kalangan reformis, yang mencoba merengkuh modernitas secara kritis. "Saya seorang fundamentalis," kata Golshani. Cuma, fundamentalis dalam pengertian yang positif, yakni merujuk ke substansi Al-Quran. Di negaranya, popularitasnya tak kalah dibanding Dr. Abdul Karim Soroush, pemikir liberal yang disejajarkan dengan Dr. Nurcholish Madjid di Indonesia. Lahir di Isfahan, Iran, Golshani tertarik pada agama dan filsafat sejak di bangku SMU. Ia menyabet gelar Ph.D bidang fisika dengan spesifikasi partikel dari Universitas California di Berkeley, AS. Direktur Lembaga Studi Kemanusiaan dan Kebudayaan di Teheran, Iran, ini telah menulis tujuh buku, antara lain Can Science Dispense with Religion?. Sebagian sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Wartawan TEMPO Kelik M. Nugroho mewawancarainya di tengah Konferensi Internasional tentang Sains dan Agama di Yogyakarta. Berikut petikannya. Mengapa konferensi ini diadakan di Indonesia? Gairah riset sains dan agama, dengan pendekatan dialog antara keduanya, merupakan atmosfer internasional. Pada awal abad ke-20, kalangan Barat dan Eropa pernah memprediksi bahwa akhir abad ke-20 adalah era berakhirnya agama (the end of religion). Tapi polling pendapat oleh sebuah majalah di Amerika pada tahun 1990-an menunjukkan bahwa prediksi itu tak terjadi. Toh, teknologi tetap memunculkan masalah menyangkut kemanusiaan, misalnya munculnya ketidakadilan. Sains tanpa agama telah mengoyak kemanusiaan. Lalu, muncullah para intelektual yang ingin kembali menggabungkan sains dan agama. Sejak itu muncullah renaissance agama di seluruh dunia dan gerakan menentang sekularisme zaman. Sekarang ini sains dianggap bermasalah, menyangkut filsafat ilmu (epistemologi). Agama juga dianggap bermasalah karena soal metodologi. Apa komentar Anda? Saya pikir begitu. Kerja sains berdasarkan eksperimentasi. Itu tak masalah. Memang harus begitu. Kemudian ada problem penafsiran. Yang terjadi kemudian, para saintis menggeneralisasi temuan yang terbatas itu untuk segala sesuatu. Itu yang menjadi masalah. Sedangkan untuk memahami agama, metodologi, misalnya pengetahuan tentang sejarah, filsafat, dan bahasa, memang diperlukan. Apakah mayoritas ilmuwan Barat memahami sains dengan pendekatan semacam itu? Minoritas. Cuma, minoritas yang cenderung berkembang pesat. Sejumlah kampus besar di Barat mempunyai apresiasi yang besar dalam bidang ini, antara lain Universitas Oxford dan Cambridge. Panitia konferensi ini sebetulnya mewakili mazhab mana dalam sains? Atheis, religius, atau holisme Fritjof Capra? Jelas mereka dari perspektif religius, yang memakai pendekatan dialog antara agama dan sains. Mengapa pemikiran Capra sangat mempengaruhi sebagian masyarakat Barat? Saya tidak setuju dengan pemikirannya bahwa ada kesejajaran antara sains baru dan nilai-nilai agama Timur. Sebagian masyarakat Barat menyambutnya karena mereka sedang dalam keadaan kosong spiritualitas. Kehadiran Capra memenuhi kekosongan itu. Dia membawa spiritualitas baru tanpa agama. Bagi saya, spiritualitas tanpa agama tak berdasar sama sekali. Namun, saya pikir Capra bisa menjadi jembatan masyarakat Barat untuk kembali memahami agama.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

TEMPO DOELOE

Pelantikan

Agama

Dari Yogya, Mencari Tuhan

Mehdi Golshani:

Buku

Resensi Buku

Identitas dalam Gulungan Pigura

Antara Tegal,Cilacap, dan Hong Kong

Catatan Pinggir

Jenar

Tari

Di Ujung Tahun Sardono Kembali

TEMPO|interaktif

Nasional

Bekas Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah Bebas

Metro

Kasus Geng Motor, Reka Ulang 24 Adegan Pembunuhan

T-ara Tambah Dua Anggota

Nasional

Ke Yogya, SBY Ajak Menteri Bidang Ekonomi Rapat  

Internasional

Bruk! Pintu Pesawat Jatuh di Lapangan Golf  

Nasional

Presiden SBY Diminta Jelaskan Grasi Corby  

Olahraga

Pelatih Inter Milan dan Cambiasso Puji Andik

Internasional

Barack Obama, Presiden Pertama Aktif di Twitter  

Mengapa Orang Lebih Terbuka Saat Mengirim SMS?

Jackie Chan Tak Suka Kekerasan  

Nasional

Kejaksaan Temukan Aliran Duit PNS Batam ke Dhana  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif