• Home
  • 20 Januari 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 20 Januari 2003
    Pulau Batek

    Kepalan Indonesia di Selat Ombai

    TAK berpenghuni, tapi begitu berarti. Itulah Pulau Batek. Ibarat Sipadan dan Ligitan, di nusa kecil di wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini kedaulatan Indonesia kembali dipertaruhkan. Nelayan yang melaut di sekitar Batek kerap melihat anggota pasukan pemelihara keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timor Loro Sa'e berkunjung kemari. Mereka datang dengan kapal besar dan modern. Bahkan, akhir tahun lalu, beberapa pejabat negara tetangga itu menjejak pulau ini. Boleh jadi mereka sekadar berwisata. Tapi, bagi Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur, kedatangan mereka ke sana bisa memicu sengketa Indonesia dan Timor Loro Sa'e. "Kita harus mengamankan Pulau Batek, jangan sampai dimanfaatkan pihak asing," kata Wakil Bupati Kupang, Friets Djubida, kepada Yusak Riwu Rohi dari Tempo News Room. Khawatir bakal kembali kehilangan pulau, Friets datang ke Batek pekan lalu bersama Kolonel Sulaiman B. Nahor, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Kupang. Di sana, mereka menancapkan bendera Merah Putih pada sebatang bambu yang diikatkan ke sisi mercu suar. Mercu suar? Ya. Sejak Timor Timur belum merdeka, Indonesia sudah membangun mercu suar itu. Menara pemandu kapal bercat putih yang sudah mulai buram itu, bertingkat empat, tepat berada di punggung bukit. Sepanjang tahun, si menara sepi sendiri tak berpenjaga. Namun justru mercu suar itu yang menjadi satu-satunya penanda kedaulatan Indonesia atas Pulau Batek. Selebihnya, Batek merupakan pulau kosong dengan sedikit rumpun pohon asam tempat burung rajawali bersarang dan ayam hutan bertengger. Di pantainya banyak terdapat lubang tempat penyu bertelur. Seluas hanya tiga hektare, Pulau Batek seperti kepalan tangan yang menyembul dari Selat Ombai, selat kecil di sela Pulau Timor dan Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau ini bisa dicapai dengan empat jam perjalanan laut dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Letaknya hanya sekitar lima mil dari garis pantai Oepoli, Kabupaten Kupang, lebih jauh dari jarak ke Oekusi, ibu kota Distrik Ambenu, Timor Loro Sa'e, yang hanya dua mil. Bisa jadi karena pulau ini terletak di perbatasan, para nelayan menyebutnya Batek?yang berarti "batas" dalam bahasa setempat. Menurut Friets Djubida, pemerintah Kabupaten Kupang hendak menjadikan Pulau Batek sebagai lokasi wisata alam karena hamparan pasir putih yang mengitarinya. "Kita akan segera membangun vila-vila kecil di sana," katanya. Ia juga akan melepas monyet hutan untuk "menjaga" pulau ini. Sedangkan pihak TNI Angkatan Laut berjanji akan berpatroli rutin di sekitarnya. Sejak lepasnya Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia, perhatian pada pulau-pulau Indonesia di perbatasan yang diduga rawan lepas ke negara jiran langsung mencuat. Departemen Kelautan dan Perikanan mencatat ada 88 pulau kecil di pinggiran Indonesia yang berpotensi hilang. Memang beberapa di antaranya terancam lenyap karena permukaannya digerus para pedagang pasir, tapi terbanyak karena letaknya di batas teritorial Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Palau, India, Australia, Papua Nugini, Vietnam, dan Timor Loro Sa'e. Kekhawatiran itu ditepis Departemen Luar Negeri, yang yakin tak ada lagi sengketa kepemilikan pulau yang melibatkan Indonesia dengan negara tetangganya. Menurut Hassan Wirajuda, yang perlu dilakukan saat ini adalah negosiasi penentuan batas perairan wilayah?jadi bukan soal status kepemilikan pulau-pulau. "Sudah jelas pulau-pulau itu milik Indonesia. Jangan campur-adukkan status belum ditentukannya batas laut dengan status kepemilikan pulau," kata Menteri Luar Negeri RI itu. Pulau Pasir dan dua pulau kecil di Celah Timor, misalnya, berkondisi kebalikan dari pulau Batek. Pulau-pulau ini adalah tempat nelayan tradisional Indonesia mencari tripang sejak ratusan tahun silam. Tapi, seperti kata Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda, secara de jure adalah milik Australia. Pulau Pasir bahkan telah menjadi kawasan cagar alam negeri itu, dan nelayan Indonesia dilarang melaut di dekatnya. Ketiganya pun sudah beroleh nama baru dari penguasanya: Ashmore untuk Pulau Pasir, Hibernia dan Cartier buat dua pulau lainnya. Tomi Lebang

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Penghargaan

TEMPO DOELOE

Buku

Revolusi Memakan Anaknya Sendiri

Catatan Pinggir

Setan

Fotografi

Ode untuk Elmaut

Indonesiana

Catatan Harian Seorang Pencuri

Televisi

Betawi 'Kagak Ade Matinye'

TEMPO|interaktif

Charlize Theron Tak Suka Julukan Orang Tua Tunggal  

Olahraga

Torres Optimistis Sukses Bersama Chelsea  

Nasional

Grasi Corby Langkah Pragmatis Diplomasi Indonesia

Nasional

Bekas Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah Bebas  

Metro

Kasus Geng Motor, Reka Ulang 24 Adegan Pembunuhan  

T-ara Tambah Dua Anggota

Nasional

Ke Yogya, SBY Ajak Menteri Bidang Ekonomi Rapat  

Internasional

Bruk! Pintu Pesawat Jatuh di Lapangan Golf  

Nasional

Presiden SBY Diminta Jelaskan Grasi Corby  

Olahraga

Pelatih Inter Milan dan Cambiasso Puji Andik

Internasional

Barack Obama, Presiden Pertama Aktif di Twitter  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif