TUBUH Sutanto yang kurus tampak semakin kering. Tenaga dan pikiran lelaki 46 tahun ini tersedot oleh masalah yang menurut dia amat besar, yakni nasib Candi Borobudur. Ini gara-gara sebuah proyek penataan ulang bernama keren, "Jagat Jawa". Kalau proyek itu diwujudkan, yang terancam bukan cuma para pedagang asongan di sana, tapi juga nilai arsitektur dan budaya peninggalan bersejarah ini.
Kegelisahan lelaki yang tinggal di kawasan Mendut, sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur, ini lalu ditumpahkan dalam berbagai aksi. Bersama para pedagang asongan dan seniman, ia berkali-kali menggalang unjuk rasa di depan Candi Borobodor dalam dua bulan terakhir. Mereka memprotes proyek senilai Rp 30 miliar itu. Tapi gerakan ini gagal menjadi isu nasional yang panas karena kurangnnya dukungan, terutama dari kalangan mahasiswa. "Mereka lebih tertarik pada isu-isu makro semacam kenaikan harga bahan bakar minyak," kata Sutanto, yang selama ini lebih dikenal sebagai komponis musik kontemporer.
Karena aktivitasnya menggalang demonstrasi, Sutanto sempat "diteror". Rumahnya pernah didatangi sejumlah orang yang mengendarai sebuah jip militer. Mereka tak masuk ke rumah, tapi hanya nongkrong di dalam jip yang diparkir di dekat rumah seniman ini. "Saya berpikir positif saja. Barangkali mereka menjaga saya dari kemungkinan adanya pihak ketiga yang ingin mencelakai saya," ujarnya sambil ngakak.
Mulai diluncurkan ke publik pada ujung tahun lalu, sejatinya proyek Jagat Jawa telah direncanakan cukup matang. Dalam perancangannya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melibatkan sejumlah ahli dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Universitas Diponegoro, Semarang, dan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Ada beberapa hal yang akan dibenahi di sekitar candi, antara lain lalu lintas keluar-masuk pengunjung. Tidak seperti sekarang, kelak wisatawan akan digiring masuk dari gerbang di sisi timur candi menuju pintu keluar di bagian barat, kemudian bermuara di satu lokasi yang dinamai Pasar Seni Jagat Jawa (PSJJ).
Rencananya bangunan PSJJ terdiri atas 3 lantai, terletak sekitar 1,5 kilometer di barat candi, tepatnya di lapangan Kujon. Ke tempat inilah semua pedagang yang menempati lokasi sekarang akan dipindahkan, tanpa kecuali, dan tak boleh lagi berkeliaran sembarangan. Pasar yang sanggup menampung 1.500 kios ini juga akan menjadi pusat penjualan cendera mata, makanan, minuman, dan aneka aktivitas lain.
Dari pasar, pengunjung lalu diantar kembali menuju kendaraannya di pintu timur memakai angkutan khusus. Salah satu alternatifnya adalah kereta wisata wara-wiri (ulang-alik) tanpa rel. Kereta itu nanti akan didesain dengan roda yang terbuat dari ban karet biasa seperti ban mobil. "Jadi bukan seperti yang diisukan bahwa kami akan membuat rel dan menggunakan kereta roda besi yang getarannya bisa mengganggu struktur dan susunan batu candi," kata Kamashakti, salah seorang anggota tim perencana Jagat Jawa dari Universitas Gadjah Mada.
Jika benar-benar dijalankan, penataan ini akan menyulap situasi di sekitar Borobodur. Tidak akan ada lagi pedagang asongan datang menyerbu seperti macan mengerubungi kijang buruannya. Mereka biasanya menawarkan topi, kipas, gantungan kunci, dompet, kaus, dan aneka cendera mata lainnya. Menjelang pintu masuk pelataran candi, wisatawan juga tak akan menjumpai lagi warung makanan dan minuman yang bertebaran tak beraturan.
Kini terdapat lebih dari 2.000 pedagang yang menggantungkan hidupnya pada pelancong yang berkunjung ke Borobudur. Sebagian besar dari mereka adalah pedagang asongan yang berkeliaran. Hanya lima persen di antaranya yang menempati kios-kios permanen. Kios-kios ini disediakan oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, perusahaan negara yang mengelola kawasan tersebut, dengan sistem sewa.
Dengan adanya proyek Jagat Jawa, semua pedagang mesti berjualan di kios-kios yang disediakan di Pasar Seni. Ini yang membuat mereka resah. Menurut mereka, wisatawan yang naik ke candi sudah capai sehingga enggan mampir ke Pasar Seni, yang berjarak 1,5 kilometer. "Selain itu, mana ada pengunjung yang sudah capai mau naik ke lantai tiga?" kata Sucoro, seorang pedagang asongan.
Para pedagang juga mengeluhkan daya tampung dan harga sewa kios di tempat baru. "Di sini saja kami sudah sering nunggak sewa kios, apalagi nanti di sana," kata Untung, pedagang asongan lainnya. Selain itu, mereka belum yakin ada jaminan lokasi lama yang ditinggalkan itu tidak diisi pedagang asongan baru.
Keresahan semacam itu sering didengar Sutanto. Kendati tinggal di Mendut, seniman ini memang cukup dekat dengan kalangan pedagang. Orang di sekitar Borobudur biasa memanggilnya "Sutanto Mendut". Dulu pemilik sebuah galeri seni di Mendut ini sering mengajari para pedagang berbahasa Inggris. Dia juga rajin membekali para pemandu wisata sehingga mereka bisa menjelaskan latar belakang sejarah dan budaya Candi Borobudur kepada wisatawan.
Bersama para pedagang yang gelisah, akhirnya Sutanto menggelar serangkaian aksi unjuk rasa. Aksi ini juga didukung sejumlah tokoh masyarakat setempat, seniman, dan para aktivis lembaga swadaya masyarakat. Demonstrasi pertama digelar di bawah pohon beringin, dekat pintu gerbang masuk candi, 18 Desember silam, yang melibatkan ratusan pedagang asongan.
Tak cuma menggelar spanduk dan poster di sekitar candi, para pengunjuk rasa melakukan ritus larung di Kali Progo. Mereka menghanyutkan miniatur bangunan Pasar Seni dari kertas ke Sungai Progo sebagai tanda penolakan terhadap proyek yang digagas Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto tersebut. Ketika miniatur itu terombang-ambing di arus kali, mereka melemparinya dengan batu-batu.
Upacara larung makin meriah ketika para demonstran melepas ribuan bibit ikan dan menghanyutkan daging tikus dan celeng. Di mata mereka, bibit ikan melambangkan keharmonisan alam karena ikan besar (penguasa) di alam bebas tidak pernah akan menghabiskan jatah yang seharusnya milik ikan kecil (wong cilik). Diharapkan ikan-ikan kecil yang ditebar itu memakan daging tikus dan daging celeng, simbol kerakusan dan ketamakan.
Aksi tak berhenti di situ. Awal Januari lalu, giliran kalangan LSM menggelar aksi solidaritas bagi pedagang asongan. Aktivis dari 22 LSM dari berbagai kota di Indonesia hadir pada saat itu, di antaranya Wardah Hafidz dari Urban Poor Consortium (UPC). Di akhir aksinya, mereka menuliskan sebuah petisi berisi dukungan terhadap pedagang asongan yang menolak digusur dengan proyek Jagat Jawa. "Kemarahan warga tergusur akan menjadi api dalam setiap butir nasi yang Anda makan," tulis penyair Afrizal Malna dalam petisi dukungan itu.
Sejumlah aktivis yang dipelopori forum Arsitek Muda Indonesia tak mau kalah. Mereka meneken petisi penolakan yang dikirim ke mana-mana. Isinya? Di mata mereka, proyek komersial itu akan merusak arsitektur Candi Borobudur karena lokasinya masih berada di medan candi. Apalagi Pasar Seni yang hendak dibangun itu berasa di sisi barat, yang merupakan sisi reflektif-meditatif. Karena itu pula semua patung Buddha pada sisi ini mengambil sikap mendekapkan kedua telapak tangannya.
Ditegaskan pula dalam petisi yang mereka buat, "Tata ruang Candi Borobudur merupakan 'pengalaman ruang' yang tak tergantikan oleh apa pun." Karena itu, para arsitek muda ini menyerukan agar tata ruang Candi Borobudur dipertahankan.
Menurut Andi Siswanto, arsitek yang sukses dengan proyek kota lama Semarang, tiada pilihan buat Gubernur selain membatalkan proyek Jagat Jawa. Pedagang asongan cukup ditata saja. Beri mereka tempat di kawasan yang secara arsitektural bagus dan pasti dilalui turis. Dengan demikian, kata Andi, lingkungan Borobudur jadi lebih rapi, pedagang senang, dan wisatawan pun tak terganggu.
Toh, tak semua orang menentang Jagat Jawa. Masyarakat Kujon, misalnya, justru sangat antusias. "Lebih cepat dibangun akan lebih baik," kata Atun, salah seorang warga. Menurut dia, penduduk Kujon sudah membayangkan kehidupan yang lebih baik bila Pasar Seni Jagat Jawa jadi dibangun. Para pemilik tanah sudah siap-siap mematok harga pembebasan tanah yang hendak dipakai proyek sebesar Rp 500 ribu per meter, jauh di atas harga pemerintah?yang diperkirakan cuma Rp 150 ribu per meter.
Hanya, di mata Sutanto Mendut dan para seniman lainnya, proyek tersebut tetap berbahaya. Karena itu, sampai pertengahan Januari lalu, mereka masih melancarkan unjuk rasa. Ujungnya, Sutanto pernah dipanggil Gubernur Mardiyanto agar datang ke kantornya pada 17 Januari lalu. Agendanya jelas, membicarakan proyek Jagat Jawa. Tapi lelaki ini menolaknya. Ia malah meminta sang Gubernur agar bersedia berdialog langsung dengan para pedagang asongan di Borobudur.
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 21 Januari silam, Gubernur Mardiyanto memenuhi permintaan ini. Dialog diadakan di bawah pohon beringin, dekat pintu masuk, lokasi yang biasa dipakai para pedagang asongan untuk menggelar demonstrasi. Dipandu oleh budayawan Darmanto Jatman, acara yang berlangsung selama dua jam ini dihadiri oleh ratusan pedagang asongan dan para tokoh masyarakat. Dalam dialog ini, penentang proyek Jagat Jawa menumpahkan semua unek-uneknya.
Reaksi Pak Gubernur? Dia memastikan bahwa proyek Jagat Jawa belum final. Saat ini, pihaknya masih mendengar masukan dari para stakeholder Borobudur, penduduk sekitar, pedagang, pemerintah, arkeolog, arsitek, dan kalangan lain. Dengan kata lain, mungkin ada perubahan rencana di sana-sini. Yang tak berubah adalah niat menata ulang kawasan Borobudur. Tapi, "Sebelum diterima dengan baik oleh masyarakat, PSJJ belum akan dibangun," kata Mardiyanto, yang disambut tepuk riuh ratusan pedagang.
Tidak semua orang menolak mentah-mentah rencana itu. Arkeolog senior dan mantan Direktur Jenderal Kebudayaan, Edi Sedyawati, termasuk yang tak berkeberatan. Di mata dia, proyek Jagat Jawa justru sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992, yang menyebutkan bahwa zona inti (radius 200 meter dari candi) dan zona penyangga dari sebuah cagar budaya harus bersih dari aktivitas ekonomi yang tak berhubungan secara langsung dengan program pelestarian. Jadi, pedagang di Borobudur juga tak boleh berseliweran seenaknya seperti sekarang ini.
Hanya, ada sejumlah syarat yang disodorkannya. Menurut Edi, sebaiknya arsitektur bangunan disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Pasar Seni, misalnya, tak perlu tiga lantai, tapi cukup satu lantai, sehingga tinggi bangunan tak melebihi ketinggian candi. Pengunjung juga tak perlu capai-capai naik tangga. Lebih baik lagi, kata Edi, jika lokasi pasar tidak berada di satu tempat, tapi disebar. Dengan begitu, selain keramaian bisa tersebar, rezeki pun tak jatuh ke sekelompok warga saja.
Kini aksi demonstrasi mulai mereda. Sutanto pun bagaikan kehabisan tenaga. Seusai digelar dialog dengan Gubernur, ia tiba-tiba menyatakan mundur dari aksi menentang proyek Jagat Jawa. "Saya ingin beristirahat. Demi Allah, kemunduran saya ini sama sekali tidak ada konsesi apa pun, konsesi politik, apalagi konsesi ekonomi," katanya. Mungkin Sutanto sudah puas bisa mempertemukan para pedagang dengan gubernurnya. Tapi kegelisahan para pedagang dan juga sejumlah seniman belum sepenuhnya padam.
Wicaksono, Heru C. Nugroho, L.N. Idayanie (Yogyakarta), Ecep S. Yasa (Semarang)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

