• Home
  • 17 Februari 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 Februari 2003

    Ode tentang Perempuan Terbaik

    The Good Women of China Penulis : Xinran Penerbit : Chatto & Windus, 2002, 230 hlm. Xinran, penulis buku ini, lahir di Beijing dan bekerja sebagai penyiar radio untuk sebuah stasiun radio pemerintah di Nanjing. Pada 1989, ia mengudarakan acara talk-show bertajuk Words on the Night Breeze, sebuah acara yang tergolong berani karena membahas masalah pribadi yang disampaikan publik ke Xinran melalui surat. Sebagian besar surat yang ia terima dari kaum perempuan, dan cerita anonim mereka begitu mencengangkan. Xinran tiba-tiba sadar, ia seorang wanita Cina, tapi tidak memahami arti kehidupan seorang perempuan di Cina: sedalam apa penderitaan mereka dan bagaimana alam pikir mereka. Pencetus rasa ingin tahu Xinran adalah sepucuk surat yang ia terima dari seorang anak desa yang tinggal 150 kilometer dari Nanjing. Anak laki-laki ini memohon agar Xinran menyelamatkan seorang gadis muda yang ia duga telah diculik. Gadis muda ini sehari-hari dirantai oleh suami yang telah membelinya, seorang lelaki jompo berumur 60-an. Rantai yang mengitari pinggang si gadis begitu ketat, sehingga ia terus berdarah dan gadis belia ini dikhawatirkan lama-kelamaan akan mati. Xinran bingung karena ini surat pertama yang menyatakan bahwa si penulis nyata-nyata mengharapkan uluran tangannya. Xinran akhirnya mengadukan peristiwa ini ke pihak yang berwajib, tapi tidak ditanggapi serius. Ia diberi tahu bahwa hal-hal seperti ini biasa, lagipula tidak baik mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Untungnya, ada seorang polisi yang bersimpati dan bersedia membantu sehingga anak perempuan tersebut dapat diselamatkan dan dikirim kembali ke desa asalnya di Xining, 22 jam naik kereta api dari Nanjing. Anehnya, tidak ada yang menghargai upaya Xinran, kecuali si gadis dan keluarganya. Xinran justru dikritik karena dianggap telah menghamburkan uang dan waktu stasiun radio, dan dianggap mencari-cari masalah. Timbul pertanyaan dalam dirinya mengenai nilai seorang perempuan di Cina. Serendah inikah arti seorang perempuan? Buku ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menceritakan kisah tentang perempuan Cina kebanyakan. Ada kisah mengenai korban pemerkosaan oleh ayah sendiri dan oleh segerombolan Pengawal Merah. Juga mengenai perempuan-perempuan pintar yang dipaksa kawin dengan orang-orang Partai, seorang pengusaha sukses yang terjun ke bisnis karena tidak tahan melihat suaminya bertingkah dengan istri mudanya, seorang mahasiswi yang percaya diri tetapi begitu sinis menilai hubungan pria-wanita, dan perempuan yang menjalin hubungan lesbian. Latar belakang dan generasi perempuan-perempuan itu berbeda, tapi mereka sama dalam satu hal: penderitaan. Pada umumnya, buku-buku mengenai kaum perempuan Cina berupa otobiografi. Buku pertama dalam genre ini yang paling mengharukan adalah riwayat kehidupan Nien Chang pada zaman Revolusi Budaya dalam Life and Death in Shanghai (Grafton Books, 1986). Juga buku Jung Chang, Wild Swans (Simon & Schuster, 1991) mengenai tiga generasi perempuan dalam keluarga Jung Chang sendiri. Stacey Peck juga pernah merekam cerita-cerita perempuan Cina dari berbagai latar belakang in the first person berupa cuplikan-cuplikan wawancara dalam buku Halls of Jade, Walls of Stone (Grafton Books, 1985). Buku Xinran berbeda dari buku-buku terdahulu karena menceritakan riwayat kaum perempuan dari sudut pandang si penulis. Ia secara pribadi terlibat langsung dalam kehidupan perempuan-perempuan yang ia temui sendiri setelah menerima surat mereka. Xinran sendiri berasal dari keluarga kapitalis terpelajar, sehingga keluarganya juga menjadi korban fanatisme Pengawal Merah. Orang tuanya dipenjara, ia dan saudaranya dicemooh oleh teman-teman sekelasnya, dan terpaksa tinggal dengan neneknya sampai umur tujuh tahun. Xinran berangkat ke Inggris pada 1997 untuk menghirup udara baru dan mencari tahu bagaimana hidup dalam masyarakat yang bebas. Ia mengajar di London University, ketemu dengan seorang agen buku Inggris, dan menikahinya. Walaupun ia mencoba melupakan asal-usulnya dan meninggalkan The Good Women of China, wajah perempuan-perempuan Cina akan terus membayanginya ke mana pun ia pergi. Mungkin, setelah mengenyam kebebasan, Xinran akan menyadari bahwa yang pernah ia namakan the good women lebih tepat dinamakan The Tragic Women of China. Natalia Soebagjo Peneliti dari Pusat Studi Cina

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pelantikan

TEMPO DOELOE

Buku

Potret Kaum Minoritas Republiken

Ode tentang Perempuan Terbaik

Catatan Pinggir

Bagdad

Indonesiana

Drama di Atas Pipa

Dilarang Memberi Recehan

Layar

Menjenguk Film-Film Horor Indonesia:

Dari Babi Ngepet hingga Jelangkung

Dari 'Siloeman Oeler' sampai 'Tengkorak Hidoep'

Sundel Bolong: 100% Bitjara Melajoe

Ralat

Ralat 'Catatan Pinggir'

TEMPO|interaktif

Nasional

Bekas Pejabat Cilegon Diperiksa Sebagai Tersangka

Nasional

Ada Tas Misterius dalam Kunjungan SBY ke Yogya  

Nasional

“Perempuan yang Layak Ibu Ani, Pemuda Layak Anas"  

Charlize Theron Tak Suka Julukan Orang Tua Tunggal

Olahraga

Torres Optimistis Sukses Bersama Chelsea

Nasional

Grasi Corby Langkah Pragmatis Diplomasi Indonesia

Nasional

Bekas Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah Bebas  

Metro

Kasus Geng Motor, Reka Ulang 24 Adegan Pembunuhan  

T-ara Tambah Dua Anggota

Nasional

Ke Yogya, SBY Ajak Menteri Bidang Ekonomi Rapat  

Internasional

Bruk! Pintu Pesawat Jatuh di Lapangan Golf  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif