• Home
  • 17 Februari 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 Februari 2003

    Sundel Bolong: 100% Bitjara Melajoe

    Cantik.... Menggairahkan.... Tak kenal ampun….

    Tiga kata itu tertera pada poster film Pembalasan Setan Karang Bolong dengan peran utama Farida Pasha dan Baron Hermanto (sutradara: Ratno Timoer, Rapi Film 1989). Ini mungkin mencerminkan resep gambar poster horor kita. Perhatikanlah setiap poster film horor Indonesia, pasti mereka mengandung dua unsur utama: sosok yang menyeramkan (tapi pada dasarnya sensual) dan gambar korban.

    Pengamat film dari Australia, Krishna Sen, pernah memiliki hipotesis, wanita dalam film Indonesia selalu ditampilkan sebagai sosok yang tergantung pada laki-laki. Citra perempuan yang pasif, terdomestivikasi. Tapi ia mungkin meleset dalam hal poster horor. Lihatlah bagaimana kebanyakan hantu Indonesia adalah perempuan. Dan itu dilukiskan sebagai sosok "gadis penakluk" yang bisa menghabisi nyawa.

    Memang, setiap periode memiliki penekanan yang berbeda. Poster tahun 1990-an macam Skandal Iblis lebih mengutamakan unsur yang menggairahkan. Sedangkan tahun 1970-an poster film horor lebih menekankan unsur tak kenal ampun. Toh, semua senapas: yang dijual adalah serangkaian sensasi.

    Ketika pada 1934 advertising "gambar hidoep" masih dilukis dengan tinta, dan selalu dibumbui kata-kata 100% bitjara Melajoe, iklan Ouw Peh Tjoa (Doea Siloeman Oeler Poeti en Item) dengan gambar ular berkepala wanita dengan berteks berbunyi: Satoe Manoesia kawin sama satoe siloeman. Sampe achirnja melahirkan satoe anak. Satoe anak moeda jang tjakap serta terpeladjar telah dipengaroein dan sampe kawin sama satoe oelar poeti jang beroepa seperti satoe prampoean tjantik.

    Simak poster Tengkorak Hidoep (1941), yang dibintangi Tan Tjeng Bok dan Moh Mochtar. Seorang wanita memeluk seorang laki-laki bertelanjang dada karena ada jerangkong di depannya. Lalu ada kalimat: Moh Mochtar, lebih gesit daripada dalem Alang-Alang! Lebih brani daripada dalem SRIGALA ITEM dan SINGA LAOET! — dalam satoe rol jang aken memboektiken, tida pertjoema poeblik namaken padanja Tarzan of Java"!

    Poster yang didominasi unsur "tak yang menampilkan Lenny Marlina dan Farouk Afero. Digambar dengan akrilik dan yang jadi fokus adalah seorang wanita meraung dengan bercak-bercak di mata kanan. Atau Beranak dalam Kubur (1971), film yang diangkat dari novel Ganes T.H. dengan peran utama Suzanna dan Mieke Widjaja, yang menampilkan sosok wanita buruk muka, tangannya memegang besi lancip yang tengah mencacah. Sedangkan di sampingnya ada wajah seorang laki-laki menjerit kesakitan. Dan orang menggotong keranda.

    Sejak itu, Suzanna memang kemudian merajai poster film misteri, karena film Beranak dalam Kubur adalah film horornya yang pertama dan meledak. Sebuah poster film yang dibintanginya bisa menampilkan wajahnya dengan berbagai ekspresi. Simak poster Ratu Buaya Putih (1988, sutradara Tjut Djalil), ia berkerudung merah, di sebelahnya ada buaya putih. Lalu di bawahnya ia berkemben, menengadah, menutup mata seperti meresapkan azimat. Malam Satu Suro (sutradara Sisworo Gautama Putra), yang melejitkan Suzanna sebagai sundel bolong, menampilkan poster foto dirinya bergaun putih panjang, berambut hitam terjuntai, lingkaran pelipis mata hitam, dengan pocong di sebelahnya. Wanita Harimau (Santet 2), produksi PT Soraya Intercine Film (1989, sutradara Sisworo Gautama Putra) menampilkan foto Suzanna tengah merapal dan Suzanna bertubuh harimau loreng.

    Yang menarik adalah bagaimana poster-poster memvisualkan kekerasan oleh binatang jadi-jadian, misalnya poster film Babi Ngepet. Film Warisan Terlarang (1990), yang dibintangi Yati Octavia, juga menampilkan sosok wanita bak seorang ratu dan manusia berjas berkepala babi. Lalu ada pula gambar seekor babi yang mengudal perut seorang laki-laki sampai berdarah.

    Dari kecenderungan poster-poster film horor Indonesia pada setiap periode, ada satu benang merah: poster film horor yang dilukis lazimnya lebih "dramatik" daripada poster film horor yang menggunakan fotografi.

    Bandingkan film Si Manis Jembatan Ancol, tahun 1973 (dengan pemain Lenny Marlina dan Farouk Afero, sutradara Turino Junaedi), yang masih menggunakan cat poster, dan Si Manis Jembatan Ancol tahun 1994 (pemain Diah Permatasari, sutradara Atok Suharto). Poster film versi tahun 1973 terasa lebih "artistik", yang mengingatkan kita pada ilustrasi komikus silat ala Teguh Santosa dan Djair. Poster film Peti Mati malah memberikan kesan "norak" karena harus perlu ditambah terjemahan bahasa Inggris The Coffin. Bahkan film Beranak dalam Kubur juga menampilkan terjemahan Inggris Birth in the Grave, adapun film Ratu Ular diberi judul Inggris Snake Queen. Tapi justru unsur "norak" itu terasa lebih klop dengan spirit goresan "silat" tahun 1970-an itu.

    Tahun 1990-an, menurut produser Ferry Anggriawan, di kala krisis, poster bisa menjadi senjata andal menggaet penonton. Bahkan dalam poster, sengaja ditampilkan adegan yang tak ada dalam film. Periode 1990-an adalah periode poster film misteri dengan visualisasi yang didominasi adegan berbau persenggamaan. Susuk Nyi Roro Kidul (Sally Marcelina, Ayu Yohana, Windy Chindyana) menyajikan poster yang menggambarkan seorang laki-laki yang tengah mengelamuti pundak Sally. Film Malam Pengantin (Kiki Fatmala dan Ibra Azhari) menyajikan poster dengan gambar adegan percumbuan dengan bibir mendesah. Pendeknya, imaji yang dijual bukan setan menakutkan, tapi keliaran libido.

    Syahdan, perupa Agus Suwage menggotong sebuah tenda militer nun jauh ke Aachen, Jerman, dan ke Amsterdam, Belanda. Di bagian dalam tenda, ia merekatkan poster-poster film misteri Indonesia yang menjual sensasi pornografis dan kekerasan. Para pengunjung dipersilakan masuk. Karya yang kemudian diberi berjudul Pressure and Pleasure itu maksudnya ingin menyatakan, inilah wajah Indonesia asli: seks, sadisme, dan klenik. Sundel Bolong—memang 100% Bitjara Melajoe.

    Seno Joko Suyono


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pelantikan

TEMPO DOELOE

Buku

Potret Kaum Minoritas Republiken

Ode tentang Perempuan Terbaik

Catatan Pinggir

Bagdad

Indonesiana

Drama di Atas Pipa

Dilarang Memberi Recehan

Layar

Menjenguk Film-Film Horor Indonesia:

Dari Babi Ngepet hingga Jelangkung

Dari 'Siloeman Oeler' sampai 'Tengkorak Hidoep'

Sundel Bolong: 100% Bitjara Melajoe

Ralat

Ralat 'Catatan Pinggir'

TEMPO|interaktif

Nasional

Bekas Pejabat Cilegon Diperiksa Sebagai Tersangka  

Nasional

Ada Tas Misterius dalam Kunjungan SBY ke Yogya

Nasional

“Perempuan yang Layak Ibu Ani, Pemuda Layak Anas"  

Olahraga

Kaki Bek Persiba Bolong Terkena Petasan Roket  

Charlize Theron Tak Suka Julukan Orang Tua Tunggal

Olahraga

Torres Optimistis Sukses Bersama Chelsea

Nasional

Grasi Corby Langkah Pragmatis Diplomasi Indonesia

Nasional

Bekas Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah Bebas  

Metro

Kasus Geng Motor, Reka Ulang 24 Adegan Pembunuhan  

T-ara Tambah Dua Anggota

Nasional

Ke Yogya, SBY Ajak Menteri Bidang Ekonomi Rapat  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif