• Home
  • 17 Februari 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 Februari 2003

    Ralat 'Catatan Pinggir'

    Karena satu dan lain hal, teks Catatan Pinggir kadang-kadang mengandung kekurangan ketika terbit. Versi yang benar sebab itu akan diterbitkan kembali dalam bentuk buku.

    Dalam "Perang" (TEMPO, Edisi 9 Februari 2003), misalnya, terdapat kekeliruan. Empat alinea terakhir seharusnya sebagai berikut:

    Para juru bicara "perang yang adil", seperti Weigel, memang cenderung bertolak dari anggapan bahwa manusia dapat terjun ke medan tempur dengan "kejelasan moral". "Perang yang adil", begitulah inti argumen mereka, adalah tindak kekerasan oleh sebuah subyek yang berniat adil. Tapi benarkah dalam perang sang "subyek" hadir bak sang ethikus di depan meja yang rapi? Bukankah selalu ada keretakan dalam "sebuah subyek"? Bukankah tiap kita terdiri dari akal budi yang tampaknya lurus, tapi mungkin bertaut dengan nafsu yang terpendam? Apalagi jika "kita", sang "subyek", adalah sebuah bangsa, yang beragam dan berjuta-juta?

    Dalam Alkitab kita baca bagaimana Yosua menggepuk Kota Yerikho. "Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda...." Bahwa kebuasan ini tak dikutuk sebagai "perang yang tidak adil", jawabnya jelas: karena nilai-nilai saat itu hanya ditentukan oleh Yahweh, sebuah sumber yang dinyatakan tunggal. Di bawah ketertiban-Nya, tak kita temukan cerita tentang bawah sadar yang payau dalam diri para pendekar Bani Israel.

    Namun kita hidup di zaman pasca-Yosua. Sejarah makin bisa bercerita tentang kekejian yang dilakukan "dengan perkenan" Yang Mahabenar, dan Yang Mahabenar kini tampak hadir dalam pelbagai tafsir. Yang esa telah mati. Di masa seperti ini, adakah "kejelasan moral" yang sejernih cermin di salon kecantikan? Saya ragu. Yang ada akhirnya "kejelasan" yang dinilai oleh diri sendiri.

    Dari risalah Weigel kita peroleh kesan yang kuat bahwa "kejelasan" itu dimiliki Amerika-seakan-akan negeri itu tak terdiri dari pelbagai suara yang bertentangan dan pelbagai kepentingan yang saling berkontradiksi. Seakan-akan negeri itu, dengan kekuasaan yang mutlak atas senjata nuklir, dengan pandangan yang syak dan angkuh ke seluruh dunia, akan dengan sendirinya bisa melihat jernih apa yang moral dan yang tidak, dan merasa berhak untuk tiap saat angkat senjata.

    Betapa menakutkan....

    Saya teringat akan secarik kertas. Saya melihatnya tersampir di bawah lengkung gerbang Washington Square, New York, sehari setelah 11 September 2001. Mungkin untuk mengingatkan sebuah bangsa yang tengah merasa marah dan sedang merasa benar, di sana tersurat tulisan tangan yang mengutip Nelson Mandela: "Adalah cahaya terang kita, bukan kegelapan kita, yang paling menakutkan kita."

    Terima kasih-Red


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pelantikan

TEMPO DOELOE

Buku

Potret Kaum Minoritas Republiken

Ode tentang Perempuan Terbaik

Catatan Pinggir

Bagdad

Indonesiana

Drama di Atas Pipa

Dilarang Memberi Recehan

Layar

Menjenguk Film-Film Horor Indonesia:

Dari Babi Ngepet hingga Jelangkung

Dari 'Siloeman Oeler' sampai 'Tengkorak Hidoep'

Sundel Bolong: 100% Bitjara Melajoe

Ralat

Ralat 'Catatan Pinggir'

TEMPO|interaktif

Nasional

Bekas Pejabat Cilegon Diperiksa Sebagai Tersangka  

Nasional

Ada Tas Misterius dalam Kunjungan SBY ke Yogya

Nasional

“Perempuan yang Layak Ibu Ani, Pemuda Layak Anas"  

Olahraga

Kaki Bek Persiba Bolong Terkena Petasan Roket

Charlize Theron Tak Suka Julukan Orang Tua Tunggal

Olahraga

Torres Optimistis Sukses Bersama Chelsea

Nasional

Grasi Corby Langkah Pragmatis Diplomasi Indonesia

Nasional

Bekas Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah Bebas  

Metro

Kasus Geng Motor, Reka Ulang 24 Adegan Pembunuhan  

T-ara Tambah Dua Anggota

Nasional

Ke Yogya, SBY Ajak Menteri Bidang Ekonomi Rapat  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif