• Home
  • 03 Maret 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 03 Maret 2003
    Kebakaran

    Ada Tomy di 'Tenabang'?

    SUWARTI, 47 tahun, tampak mengais-ngais sisa kain dari reruntuhan balok-balok yang menghitam di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pemulung asal Jawa Tengah itu mencoba mengorek rezeki dari puing-puing 5.700 kios di pasar terbesar di Asia Tenggara itu. Dari musibah kebakaran, Rabu dua pekan lalu, Suwarti dan rekan-rekannya mungkin menangguk lebih banyak penghasilan ketimbang sebelumnya. Tapi juga "pemulung besar" Tomy Winata, nantinya. Pengusaha dari Grup Artha Graha ini, kata seorang kontraktor arsitektur kepada TEMPO, sejak tiga bulan lalu sudah menyetor proposal proyek renovasi Sentra Bisnis Primer Tanah Abang senilai Rp 53 miliar ke pemerintah DKI Jakarta. Proyek itu, menurut Wali Kota Jakarta Pusat Khosea Petra Lumbun, akan memakai lahan sekitar 100 hektare. Sentra Bisnis Primer bukan cuma akan memanfaatkan bekas kebakaran, tetapi juga membongkar kawasan permukiman di sekitarnya. Di sana akan dibangun pergudangan, hotel, pusat hiburan, kantor ekspedisi, dan kios modern. Lalu, di manna pedagang kaki lima? Rencananya, pasar dihubungkan dengan jembatan penyeberangan tiga tingkat yang dilengkapi toko-toko. Ada pula jembatan khusus orang yang sekaligus menjadi tempat pedagang kaki lima berjualan, selain di halaman parkir seluas 1.000 meter di tengah pasar. Tapi mereka hanya boleh berjualan dari pukul 6 sore sampai tengah malam. "Mereka dilarang berjualan siang hari," kata Khosea. Di situ, kios-kios bikinan Tomy rencananya akan dijual Rp 175 juta per meter persegi dan baru diserahkan ke Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya 20 tahun kemudian. Tetapi Direktur Utama Pasar Jaya, Syahrial Tandjung, membantah renovasi akan dilakukan Tomy. "Memang banyak tawaran, tapi PD Pasar Jaya juga memiliki dana cadangan. Gubernur Sutiyoso menyerahkan sepenuhnya kepada PD Pasar Jaya," katanya. Dananya berasal dari pinjaman bank dan Dana Investasi. Tomy Winata, 45 tahun, juga menyangkal keterkaitannya dengan rencana renovasi Pasar Tanah Abang. Ia merasa belum pernah berbicara tentang hal itu. "Anda orang keenam yang telepon. Saya belum pernah bicara dengan siapa pun, baik sipil, swasta, maupun pemerintah," katanya, geram. "Saya ini enggak makan nangkanya (tapi) dikasih getahnya. Kalau (mereka) berani ketemu muka, saya tabokin dia. Kalau ada saksi, bukti, atau data-data yang mengatakan saya deal duluan, saya kasih harta saya separuh." Dugaan bahwa pasar grosir itu dibakar dibantah Kepala Pasar Tanah Abang Buhar Tambunan ataupun Gubernur DKI Sutiyoso. Perusahaan Listrik Negara juga menyangkal gardu listrik PLN dalam pasar sebagai penyebab kebakaran. "Sumber kebakaran dari korsleting listrik masih abu-abu, belum jelas," kata Margo Santoso, General Manajer PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang. Namun, sulitnya mengajak ratusan pedagang menyetujui rencana renovasi pasar membuat dugaan kesengajaan pembakaran "masuk akal". Bukankah kebakaran-disengaja atau tidak-akan lebih memudahkan pelaksanaan rencana itu? Dan Tomy pun kena getahnya. "Tenabang"-sebutan ringkas orang Betawi untuk Tanah Abang-sudah menggiurkan sejak pengusaha Belanda, Justinus Vinck, membangunnya pada 1735. Beberapa tahun lalu, warga Timor Timur pimpinan Hercules-menguasai kawasan remang-remang Bongkaran-bentrok dengan kelompok Betawi dan Madura. Untung bisa didamaikan. "Kami semua ingin hidup harmonis membangun Tenabang. Ini tempat cari duit yang halal," ujar Muhammad Yusuf Muhi ("Ucu"), Ketua Ikatan Keluarga Besar Tanah Abang. Yang sulit "didamaikan" adalah hilangnya sumber pencarian 1,3 juta orang dan ludesnya hampir Rp 1 triliun dagangan. Setelah Tenabang jadi abu, renovasi tampaknya akan lebih mulus-sekaligus bisa memercikkan "api" baru. Soalnya, proyek itu melibatkan banyak kepentingan: pedagang, pengelola, investor, dan penangguk di air butek. Karena itu, menurut Dani Anwar, anggota DPRD DKI dari Partai Keadilan, pihaknya akan memantau rencana renovasi agar kios-kiosnya tidak jatuh ke pihak yang tidak berhak. "Kalau jatuh ke pihak yang hanya mencari untung, pasti akan menyulitkan para pedagang," ujarnya. Ahmad Taufik, Bernarda Rurit, dan Cahyo Junaedy

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Dewi Tersandung Omkara

Album

Pelantikan

TEMPO DOELOE

Buku

Antara Tukang Mi dan Mutasi Hakim

Jalan Sunyi Spiritualitas

Catatan Pinggir

Analisis

Fotografi

Bali pada Sebuah Hari yang Kelam

Seni Rupa

Ke Venesia, Membawa 'Darah'

Jejak Affandi di Venesia

TEMPO|interaktif

Metro

2 Korban Jembatan Cihideung Mengapung di Tangerang

Metro

Umar Kei: Kami Jadi Tumbal  

Nasional

Mujianto Minta Maaf pada Keluarga Korban

Bisnis

Boeing 787 Dreamliner Rawan Retak

Olahraga

Timnas U-23 Belum Kompak Hadapi Bahrain  

Nasional

KPK Sepakat Dana Hibah Diperketat

Gaya Hidup

Memahami Psikologis Anak, Kunci Belajar Menyanyi  

Olahraga

Pelatih Timnas U-21 Cemaskan Mental Pemain  

Internasional

Korea Utara Buka Perundingan Perlucutan Nuklir  

Bisnis

Pasar Modal Bisa Jadi Pesaing Perbankan  

Metro

Menyaru Biksu, Tiga WNA Jadi Peminta-minta

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif