• Home
  • 24 Maret 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Teater
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 Maret 2003

    Neoliberalisme Hitam-Putih

    Judul buku: Neoliberalisme Penulis : I. Wibowo/Francis Wahono (ed.) Penerbit : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, Yogyakarta, 2003. Tebal : 372 hlm. I. Wibowo dan Francis Wahono perlu diberi ucapan selamat atas penerbitan buku Neoliberalisme, buku yang mengangkat beberapa masalah pembangunan bangsa Indonesia yang paling menantang ke dalam diskursus. Tiga belas penulisnya-semua orang Indonesia, kecuali Norena Heertz-berkompetensi tinggi. Masalah dasar, ideologi neoliberalisme dan globalisasi, dibahas dari beberapa sudut oleh Heertz, Herry Priyono, I. Wibowo, Robert H. Imam, dan Kwik Kian Gie. Dalam tulisan pertama, Norena Heertz menggariskan pengambilalihan Inggris oleh neoliberalisme di bawah komando Margaret Thatcher. Sayang, sesudah menyebutkan bahwa sekarang jauh lebih banyak orang memiliki rumah sendiri, Heertz tidak menarik semacam saldo (kecuali catatan kriptik "there is no free lunch" di akhir karangan, 42). Sesudah 20 tahun "Thatcherisme", apakah Inggris lebih sejahtera, lebih produktif, lebih memberi harapan? Apakah pro-kontra neoliberalisme masih terbuka? Logika yang mendasari neoliberalisme diangkat oleh Herry Priyono: tak boleh ada regulasi terhadap perekonomian, dan "tidak ada masyarakat", yang ada hanya individu. Neoliberalisme percaya bahwa kebebasan maksimal individu untuk berusaha di pasar guna pemenuhan keinginan pribadinya akan menghasilkan peningkatan produksi paling efektif-hal yang memungkinkan pemenuhan semua kebutuhan dengan semakin sempurna. Itulah fundamentalisme pasar. "Diskriminasi" kepercayaan itu "terhadap mereka yang tidak mampu menjual dan membeli" (68) merupakan segi ideologis neoliberalisme. Para pemain raksasa diuntungkan karena kebutuhan terus dirangsang meluas (karangan R.H. Imam). Mereka tidak mengenal kata "cukup" dan secara internasional tak terdorong memperhatikan mereka yang lemah. I. Wibowo menunjukkan implikasi negatif dogmatisasi trias liberalisasi perdagangan, privatisasi, dan deregulasi, tapi menurut saya kurang membuat jelas bahwa pemutlakan trias itu tak meliputi segala liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi. Distingsi itu akan membantu un- tuk mengajukan pertanyaan lebih pragmatis-empiris sejauh mana tiga kebijakan itu membantu ataupun tidak membantu untuk memperkuat ketahanan nasional dalam bidang ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Karangan Robert H. Imam tentang globalisasi simply cemerlang-dan menakutkan! Perekonomian yang secara agresif didorong oleh globalisasi semakin mengandaikan apa yang disebut Imam sebagai "hiper-konsumerisme": orang di seluruh dunia semakin gila larut dalam mabuk pembelian berbagai komoditas yang dipasarkan secara global, bukan karena mereka membutuhkannya, melainkan demi nikmat pembelian itu sendiri (cf. 309). Jelaslah bahwa hiper-konsumerisme itu tidak sustainable. Keyakinan optimistis bahwa unsustainability sistem kapitalis akan melahirkan masyarakat yang sungguh-sungguh manusiawi ("sosialisme") tidak beralasan lagi. Kalau terjadi "revolusi", bukan dengan gaya Revolusi Oktober 1917, melainkan menurut model Jakarta Mei 1998 dan Sampit Januari 2001. Sebagai catatan, merajalelanya globalisasi menyebabkan, sebagai padanan dialektis, sebuah reprimordialisasi kurang disorot. Tidak mungkin semua karangan dibahas satu-satu. Tanpa kecuali, karangan itu mengangkat tantangan-tantangan sangat nyata yang kita hadapi. Tentu, ada juga pertanyaan yang muncul. Terutama bahwa para penulis cenderung menulis secara hitam-putih, padahal dalam kenyataan politik hampir selalu ada trade-off. Bahaya kalau trade-off itu tidak dibahas, posisi-posisi berprinsip menjadi platonis dan bahkan bisa menjadi ideologis juga, semacam ideologi anti-neoliberalisme. Satu-satunya karangan yang tidak up to the occasion adalah "epilog" Kwik Kian Gie. Barangkali beliau terlalu sibuk. Argumentasi Kwik amat sederhana: mereka yang "mau bekerja keras dan mau membebaskan diri dari konvensi, dogma, doktrin, serta berbagai mitos yang oleh negara-negara maju dipaksakan kepada kita melalui pembantunya", yang tidak apa-apa kalau negara "bangkrut atau tidak", asal "kita menjadi bangsa yang disegani" (350), adalah para pendekar "nasionalisme baru". Sedangkan mereka yang mendukung privatisasi dan lain-lain dan berpendapat bahwa Indonesia masih harus bekerja sama dengan IMF adalah orang yang menganggap nasionalisme sebagai sikap "sempit seperti katak di dalam tempurung" (empat kali!, 332, 333, 340), "masih dilekati oleh jiwa yang terjajah", "mencemooh Bung Karno" (335), dan seterusnya, dan seterusnya. Pembelaan Bung Karno berapi-api menurut saya juga salah kaprah, baik apanya yang dibela maupun terhadap siapanya (dan kapan di Belgia terjadi "saling membunuh", 336?). Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan hanya ingin menggarisbawahi di mana letak nilai buku bagus ini: selain dalam pelbagai uraian yang sulit didapat di sumber lain, dalam rangsangan bagi sebuah diskursus mengenai hal-hal yang akan menentukan masa depan bangsa Indonesia. Franz Magnis-Suseno S.J., pengajar di STF Driyarkara

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Sakit

Penghargaan

TEMPO DOELOE

Buku

Neoliberalisme Hitam-Putih

Catatan Pinggir

Sebuah Obituari untuk Rachel Corrie

Layar

Virginia Woolf: Sebuah Sosok dan Citra

Sehari dalam Kehidupan Virginia Woolf (dkk.)

Dari 'The Hours' hingga 'Mrs. Dalloway'

Tari

Yang Muda yang Jenaka

TEMPO|interaktif

Ketua MA: Yang Ancam Mogok Itu Hakim Balita

Teknologi

Facebook Luncurkan Aplikasi 'Instagram'  

Nasional

Ambang Batas Parlemen Digugat Lagi

Denmark Umumkan Skuad Resmi

Bisnis

Rupiah 9.500 Per Dolar AS, Indeks Tumbang

Cuit Gaga Soal Rolex Palsu Bikin Marah Fan Thailand

Nasional

Bekas Pejabat Cilegon Diperiksa Sebagai Tersangka  

Nasional

Ada Tas Misterius dalam Kunjungan SBY ke Yogya

Nasional

“Perempuan yang Layak Ibu Ani, Pemuda Layak Anas"  

Olahraga

Kaki Bek Persiba Bolong Terkena Petasan Roket

Charlize Theron Tak Suka Julukan Orang Tua Tunggal

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif