• Home
  • 24 Maret 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Teater
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 Maret 2003

    Dari 'The Hours' hingga 'Mrs. Dalloway'

    Di tengah ingar-bingar musik rock 'n roll, sepasang mata seorang bocah remaja berumur 15 tahun terpaku pada sebuah buku di hadapannya. Diiringi lengkingan gitar dan suara parau Jimi Hendrix, ia melahap kata demi kata dalam buku Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf hingga tandas. Butuh waktu lama bagi pikiran remajanya untuk memahami isi cerita. "Saya berusaha keras untuk mengerti Virginia Woolf," ujarnya.

    Tiga puluh lima tahun berselang, remaja yang tak lain adalah Michael Cunningham itu menjelma jadi seorang novelis. Dalam satu karyanya, ia menghidupkan kembali tiga karakter wanita dalam Mrs. Dalloway. The Hours, karya itu, bercerita tentang detik-detik terakhir dalam hidup Virginia Woolf (1941), kisah sehari Laura Brown (1951), serta Clarissa Dalloway (2001) pada satu jalinan cerita sekaligus.

    Kerja keras Cunningham tak sia-sia. Lelaki yang telah menelurkan empat novel ini tahun lalu diganjar Pulitzer Prize, penghargaan karya tulis terbaik di Amerika Serikat, untuk karya terbarunya itu. Sukses ini sekaligus juga menarik hati seorang produser film Hollywood, Scott Rudin, untuk mengangkat cerita tersebut ke layar lebar. Naluri Rudin ternyata benar. Meski awalnya Cunningham tak terlalu yakin The Hours bakal menangguk sukses—lantaran tidak dibumbui adegan seks—film yang dibintangi oleh Nicole Kidman dan Meryl Streep ini terpilih sebagai salah satu film yang dinominasikan untuk memperoleh Piala Oscar.

    Tapi bukan sukses film The Hours yang menyebabkan jumlah penjualan bukunya melambung. Seperti dikutip dari surat kabar USA Today jauh sebelum filmnya diputar, novel Cunningham sudah lebih dulu laris manis. Di Amerika Serikat, misalnya, saat natal tahun lalu buku ini "hanya'" terjual sekitar 200 ribu eksemplar. Sebulan kemudian, jumlahnya meningkat hingga tiga kali lipat. Dan bulan lalu angka penjualannya menembus hingga 700 ribu buah untuk paperback dan 200 ribu untuk hardcover.

    Sukses novel The Hours juga diikuti dengan naiknya penjualan buku-buku klasik garapan Virginia Woolf yang lain. Masih menurut harian yang sama, sepanjang Januari lalu di Negeri Abang Sam sekitar 56 ribu buku Mrs. Dalloway dalam kemasan paperback ludes di pasaran. Angka tersebut jauh di atas rata-rata penjualan tahun sebelumnya, yang hanya mampu menembus angka 53 ribu buah sepanjang tahun 2002 lalu.

    Permintaan juga meningkat untuk buku-buku Virginia Woolf yang lain. Sepanjang Januari lalu, beberapa karyanya seperti A Room of One's Own terjual 8.400 buah dan To the Lighthouse hingga 9.000 buah dalam kemasan paperback.

    Seperti wabah, fenomena ini juga menular hingga ke Indonesia. Di Toko Buku Aksara, misalnya, novel The Hours ikut laku keras sejak film dengan judul yang sama terpilih sebagai kandidat kuat untuk nominasi Oscar. Menurut catatan salah satu pemiliknya, Winfred Hutabarat, dari 18 buah buku yang dipajang di sana, seluruhnya telah laku terjual hanya dalam waktu satu bulan. Padahal sebelumnya angka penjualannya tak lebih dari hitungan sepuluh jari tangan saja. Ada beberapa pelanggan yang bahkan terpaksa harus memesan lebih dulu lantaran tidak kebagian. Angka ini, kata Winfred, bakal terus naik seiring dengan diputarnya film besutan sutradara Stephen Daldry tersebut di bioskop-bioskop Jakarta. Untuk antisipasi, toko buku yang sebagian besar menjual buku-buku impor ini telah memesan ulang sebanyak 30 buah.

    Begitu juga dengan Toko Buku QB. Menurut asisten direkturnya, Paramastuty Iswara, sejak awal tahun ini The Hours telah laku terjual sebanyak 30 buah. Sama seperti Winfred, kata Tuty—demikian sapaannya—jumlahnya bakal terus bertambah dalam pekan-pekan mendatang. Sebab, berkaca pada pengalaman, popularitas film biasanya ikut mendongkrak jumlah penjualan novelnya.

    Sayangnya, nasib baik belum menghampiri buku-buku karya Virginia Woolf yang dijual di dua toko buku ini. Dalam hitungan Winfred, angka penjualannya tak terlalu spektakuler seperti di luar negeri. Selain termasuk dalam karya sastra yang lumayan berat, biasanya penggemarnya juga terbatas di seputar kalangan tertentu saja. Maklum, tak banyak orang Indonesia yang mau merelakan sekitar dua lembar seratus ribuannya untuk sebuah buku novel.

    Tapi bukan berarti sepi peminat. Menurut Winfred, buku-buku seperti Mrs. Dalloway, Jacob's Room, ataupun The Light House selalu laku terjual kendati hanya lima biji per bulannya. Begitu pula Toko Buku QB, yang menurut Tuty selalu menyediakan buku-buku klasik karya Virginia Woolf untuk penggemar setianya. Virginia Woolf memang membicarakan sesuatu yang tetap "hidup" hingga sekarang: kematian.

    Dewi Rina Cahyani


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Sakit

Penghargaan

TEMPO DOELOE

Buku

Neoliberalisme Hitam-Putih

Catatan Pinggir

Sebuah Obituari untuk Rachel Corrie

Layar

Virginia Woolf: Sebuah Sosok dan Citra

Sehari dalam Kehidupan Virginia Woolf (dkk.)

Dari 'The Hours' hingga 'Mrs. Dalloway'

Tari

Yang Muda yang Jenaka

TEMPO|interaktif

Ketua MA: Yang Ancam Mogok Itu Hakim Balita

Teknologi

Facebook Luncurkan Aplikasi 'Instagram'  

Nasional

Ambang Batas Parlemen Digugat Lagi

Denmark Umumkan Skuad Resmi

Bisnis

Rupiah 9.500 Per Dolar AS, Indeks Tumbang

Cuit Gaga Soal Rolex Palsu Bikin Marah Fan Thailand

Nasional

Bekas Pejabat Cilegon Diperiksa Sebagai Tersangka  

Nasional

Ada Tas Misterius dalam Kunjungan SBY ke Yogya

Nasional

“Perempuan yang Layak Ibu Ani, Pemuda Layak Anas"  

Olahraga

Kaki Bek Persiba Bolong Terkena Petasan Roket

Charlize Theron Tak Suka Julukan Orang Tua Tunggal

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif