• Home
  • 24 Maret 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Teater
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 Maret 2003
    Piala Sudirman

    Setelah Pulang dari Eindhoven

    DI Eindhoven kejutan itu terjadi. Pemain putri Indonesia yang semula sama sekali tak dipicing justru membuat keajaiban. Dalam pertandingan pertama melawan Inggris di turnamen Piala Sudirman, pemain debutan Maria Kristin dan pasangan putri Jo Novita dan Lita Nurlita menjadi penyelamat. Meski beda tipis, Indonesia sukses melinggis Inggris. Pelatih tim putri Ivana Lie bukan main bungahnya. "Kami sangat terkejut dengan kemenangan pemain-pemain putri ini," katanya. Sayang, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Dalam pertandingan berikutnya, anak asuhannya tak berkutik di tangan Denmark. Perjuangan tim Piala Sudirman di Eindhoven, Belanda, memang diiringi pesimistis para pengurus. Bahkan jauh-jauh hari Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia, Chairul Tanjung, menyebut keberangkatan tim Cipayung ini sebagai misi yang mustahil. Mereka dibebat persoalan klasik: stok pemain putri Indonesia yang minim. Namun, karena genderang perang sudah ditabuh, mereka pun berangkat dengan pasukan seadanya. Para pemain putri yang dibawa adalah pemain bawang alias junior yang amat miskin pengalaman bertanding di arena internasional. Mereka adalah Dewi Tira Arisandi, Maria Kristin, Fitria Firdaus, Siti Mahiroh, Richasari Pawestri, dan Adrianti Firdasari. Bekal prestasinya? Pemain tunggal yang jadi andalan, Dewi Tira, 19 tahun, cuma nongkrong di 119 IBF (Federasi Bulu Tangkis Internasional). Malah Maria Kristin, 17 tahun, posisinya lebih jauh, yakni peringkat ke-201. Apa boleh buat, Dewi dan kawan-kawan merupakan pemain terbaik yang ada. Mereka lolos seleksi pemilihan pemain yang dilakukan Februari lalu. Menurut Kepala Tim Piala Sudirman, Karsono, seleksi ini dilakukan karena tidak ada atlet putri kita yang prestasinya menonjol. Alhasil, alih-alih mengejar prestasi, menurut Ivana Lie, misi mereka ke turnamen beregu campuran ini cuma untuk mengasah kemampuan. "Mudah-mudahan mereka bisa memanfaatkan Piala Sudirman untuk mencari pengalaman," katanya. Tingkat permainan mereka masih jauh di bawah. Malah, latihan yang diberikan pada mereka masih sebatas tahap penguatan otot dan teknik. Persoalan stok pemain putri sesungguhnya bukan hal baru. Setelah Verawati Fadjrin dan Ivana Lie lengser di pertengahan 1980-an, regenerasi pun terasa lambat. Beruntung kemudian muncul Susi Susanti, peraih emas Olimpiade 1992 Barcelona. Namun, setelah Susi gantung raket, pemain di belakangnya masih kedodoran. Mia Audina, yang diharapkan bisa menjadi penggantinya, eh, malah hijrah ke Belanda. Kekurangan pemain putri inilah yang selalu jadi bahan tudingan kegagalan Indonesia dalam menguasai Piala Sudirman. Sepanjang sejarah, Indonesia hanya sekali meraih piala ini, ketika kejuaraan ini pertama kali digelar pada 1989. Dua tahun lalu, tim Indonesia masih bisa ke final sebelum dikalahkan juara empat kali berturut-turut, Cina. Lantas apa yang salah? Susi Susanti menunjuk lambatnya regenerasi yang dilakukan induk olahraga ini. Setelah generasi dirinya berjaya dekade 1990, terjadi salah urus pemain. Saat itu PBSI era kepemimpinan Soebagyo H.S. membuang sekitar enam pemain yang masuk Pelatnas bersama-sama Mia Audina. Mereka antara lain Yuni Kartika dan Ika Heni. "Padahal sebetulnya kemampuan mereka tak kalah dengan Mia," kata Susi. Dan bencana pun datang. Setelah dua pemain itu tak lagi beraksi, Indonesia pun tak punya stok. Untuk mencari bibit baru, PBSI bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional berupaya menggalakkan kembali olahraga ini di sekolah-sekolah dan akan menggelar liga bulu tangkis. Tapi ini bukan hal gampang. Harus dimaklumi, olahraga bulu tangkis saat ini tak lagi sepopuler zaman dulu. Sebabnya, selain gelombang MTV telanjur menghajar mereka, "Kebanyakan orang tua juga enggan melihat anak putrinya menjadi olahragawan," ujar Susi. Irfan Budiman

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Sakit

Penghargaan

TEMPO DOELOE

Buku

Neoliberalisme Hitam-Putih

Catatan Pinggir

Sebuah Obituari untuk Rachel Corrie

Layar

Virginia Woolf: Sebuah Sosok dan Citra

Sehari dalam Kehidupan Virginia Woolf (dkk.)

Dari 'The Hours' hingga 'Mrs. Dalloway'

Tari

Yang Muda yang Jenaka

TEMPO|interaktif

Ketua MA: Yang Ancam Mogok Itu Hakim Balita

Teknologi

Facebook Luncurkan Aplikasi 'Instagram'  

Nasional

Ambang Batas Parlemen Digugat Lagi

Denmark Umumkan Skuad Resmi

Bisnis

Rupiah 9.500 Per Dolar AS, Indeks Tumbang

Cuit Gaga Soal Rolex Palsu Bikin Marah Fan Thailand

Nasional

Bekas Pejabat Cilegon Diperiksa Sebagai Tersangka  

Nasional

Ada Tas Misterius dalam Kunjungan SBY ke Yogya

Nasional

“Perempuan yang Layak Ibu Ani, Pemuda Layak Anas"  

Olahraga

Kaki Bek Persiba Bolong Terkena Petasan Roket

Charlize Theron Tak Suka Julukan Orang Tua Tunggal

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif