• Home
  • 16 Juni 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juni 2003

    Pilih Kompromi atau Rugi?

    Bak kisah sinetron yang penuh konflik berlarut-larut, seperti itulah kisah restrukturisasi utang Asia Pulp and Paper (APP). Sejak tim pengarah dibentuk oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) bersama sejumlah kreditor APP tahun lalu, pola restrukturisasi utang baru tercapai belum lama ini. Tapi, dengan jumlah kreditor yang begitu banyak dan beragam serta perbedaan asas hukum yang mereka anut, proses restrukturisasi utang APP terkesan lambat bagaikan laju seekor siput. Mungkin karena begitu alot, penandatanganan pokok-pokok restrukturisasi (key terms restructuring) saja harus dirayakan dengan upacara resmi. Padahal, isinya sama sekali tidak mengikat dan tidak bisa dianggap sebagai tanda berakhirnya masa restrukturisasi. Toh, kenyataan itu tidak mengurangi kegembiraan sejumlah kreditor. "Apa yang kita tanda tangani hari ini dapat menjadi landasan untuk kesepakatan di kemudian hari," ujar Eiichi Isozaki, wakil kreditor dari Nexi, kepada Yoko Nishikawa dari TEMPO. Pandangan bernada positif juga terlontar dari Andrew Saker saat mengomentari bahwa apa yang telah dicapai merupakan hasil yang optimal. Sebenarnya mekanisme yang ditandatangani pada Selasa kemarin tidak berbeda dengan yang pernah dipublikasikan oleh BPPN sebelumnya (baca TEMPO edisi 26 Mei-1 Juni 2003). Lalu, mengapa para kreditor merasa puas? Bukankah waktu itu mereka menginginkan adanya konsep APP trading dan share in trust? "Bagi kami, yang penting adalah tercapainya substansi APP trading dan share in trust," ujar Saker diplomatis. "Jika itu bisa dicapai dengan konsep komite pengawas serta mekanisme konversi utang menjadi ekuitas yang instan, mengapa kami harus ngotot mempertahankan konsep itu?" ujarnya, berdalih. Agaknya memang tidak salah bila pria Australia yang menjadi konsultan kelompok Export Credit Agency itu memberikan advis yang bernapaskan kompromi. Paling tidak, dari kacamata bisnis, hal itu sah-sah saja. Bagaimanapun, bisnis kertas dan pulp yang digeluti oleh APP masih jauh dari kriteria industri yang akan punah alias sunset industry. Hasil studi kalangan industri memperlihatkan bahwa tingkat konsumsi kertas dunia yang mencapai 300 juta ton pada tahun 2000 akan naik menjadi 425 juta ton di tahun 2010. Itu berarti ada perkembangan sebesar rata-rata 12,5 juta ton per tahun. Posisi APP juga kian strategis karena APP telah menancapkan kukunya di sejumlah negara yang diperkirakan akan menikmati kenaikan permintaan kertas. Negara-negara itu dikriteriakan sebagai negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk besar, seperti Cina, India, Indonesia, dan Brasil. Singkatnya, APP masih memiliki potensi melunasi utang. Masalahnya, menurut Isozaki, adalah bagaimana para kreditor merancang kerangka restrukturisasi untuk mengawasi gerak APP. Optimisme para kreditor kian membuncah, mengingat harga pulp di pasar dunia saat ini berada di atas level $ 400 per ton. Dengan kenaikan harga ini, APP mampu menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk melunasi utang. Memang, tidak semua kreditor mau memakai kacamata positif dan bersedia menunggu hingga proses restrukturisasi tuntas. Banyak pula kreditor yang menginginkan uangnya segera kembali, jika perlu dengan mempailitkan APP. Kreditor seperti ini umumnya adalah kreditor kelompok perbankan. Jika mencermati pernyataan tertulis Deutsche Bank, sikap semacam itu muncul karena kurang terbukanya manajemen APP. Beredarnya kabar bahwa APP pernah menyembunyikan salah satu bagian laporan KPMG, yang ditunjuk oleh pihak kreditor, mengakibatkan tipisnya kepercayaan pihak peminjam terhadap APP. Akhirnya, daripada sama-sama tekor membayar pengacara di pengadilan, apakah tidak lebih baik kalau APP dan para kreditornya bersama-sama mengambil jalan kompromi? Leanika Tanjung, THW

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Gelar

Meninggal

Buku

Tiga Pilar Sebuah Gerakan

Catatan Pinggir

Poster

Fotografi

Jagat Perempuan dalam Jeruji Fotografi

Indonesiana

Duel Hakim Versus Panitera

Cubitan Bermasalah

Layar

Layar Masa Lalu yang Retak

Durga di Tangan 'Meneer'

Demi Wisata, Wangsit, dan Klenik

Ralat

Ralat

Tari

Kandas di Tengah Jelajah

TEMPO|interaktif

Bisnis

Anggarkan Rp 400 Miliar, Ramayana Buka 6 Gerai Baru

Nasional

Dua Sekolah Tidak Lulus Ujian Nasional 100 Persen

Seni & Hiburan

50/50, Kala Hidup Berubah 180 Derajat

Bisnis

Indonesia Kebal Krisis Eropa

Nasional

Hasil Ujian Nasional NTT Peringkat Terakhir Nasional

Nasional

Ruhut Minta Demokrat Pecat Thaib

Teknologi

Waspada, Blog Kini Jadi Sarana Penyebar Virus  

Nasional

Atasi Konflik, Jokowi Datangi Kasunanan Surakarta

Bisnis

Ini, Dua Syarat Untuk Tambahan Kuota BBM Subsidi

Nasional

Gunung Dokuno di Halmahera Utara Meletus

Olahraga

Malouda Ingin Tetap Berkostum Chelsea  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif