Seekor ikan kecil memberontak. Wajahnya polos, matanya besar berbinar, dan gerak tubuhnya belum lagi mencerminkan atlet yang tangguh. Tapi hasratnya membebaskan diri dari kungkungan ayahnya tidak bisa dibendung. Maka, pada hari pertamanya masuk sekolah, si kecil memutuskan berenang ke laut lepas, bahkan kemudian menyentuh lambung kapal—sekadar merasakan dan membuktikan kebebasannya.
Nemo tentu saja bukan tokoh pemberontak yang dimainkan James Dean dalam Rebel without A Cause. Pesan Nemo—demikian nama si kecil bertubuh oranye dengan garis-garis putih di badannya—langsung ditujukan kepada ayahandanya: ia bukan anak kecil lagi. Tapi dunia di luar sana rupanya tak seperti yang selama ini dibayangkan. Nemo menikmati kebebasannya, tapi seorang penyelam menciduknya dan memasukkannya ke akuarium. Si penyelam membawanya pergi menuju daratan nun ke sebuah pojok kamar praktek dokter gigi di kota Sydney, Australia.
Finding Nemo, yang berdurasi 154 menit ini, adalah cerita tentang perjuangan Marlin, ayah Nemo, menemukan anak semata wayangnya yang hilang dan perjuangan Nemo melepaskan diri dari akuarium jahanam itu. Kisah Nemo dan Marlin dalam Finding Nemo bergerak dengan tema universal: orang tua sayang anak. Tapi tim animasi Pixar telah bekerja keras dan berhasil melampaui titik-titik yang telah dicapai film animasi sebelumnya seperti Monster Inc. atau Toy Story 2.
Penonton anak-anak terpesona oleh adegan kejar-kejaran, humor-humor yang dekat dengan dunia dan imajinasi mereka, dan—tentu saja—penampilan karakter para tokohnya. Tawa mereka meledak manakala melihat Marlin yang tak lucu dan canggung itu mencoba melucu di depan sesama ikan. Karakter Bruce (suara Barry Humphries), hiu buas yang akhirnya insaf dan menjadi sahabat setia para ikan, juga cukup menawan. Tapi penonton dewasa mungkin akan memperhatikan Crush (suara Andrew Stanton), seekor kura-kura yang bijak. Banyak fragmen disentuh dengan pendekatan humanistis dalam film ini.
Kisah Finding Nemo bersahaja, bergulir di sekitar karakter para tokohnya yang bermasalah. Marlin (suara Albert Brooks) berkepribadian neurotis. Ia karakter yang terpenjara sebuah masa lalu. Ibu dan puluhan saudara Nemo lebih dulu tewas disantap hiu rakus yang datang tiba-tiba ke sarang mereka. Sedangkan Nemo (suara Alexander Gould) adalah anak dalam usia yang bengkak dengan rasa ingin tahu, eksploratif, dan bereksperimen dengan dunia sekitar. Dari benturan dua karakter ini, lahirlah adegan-adegan sederhana tapi disuguhkan secara memikat.
Kita tahu, di atas layar, Marlin yang traumatis itu bertemu dengan Dory (suara Ellen DeGeneres). Mereka sosok senasib-sepenanggungan, sama-sama korban masa lalunya, satu sama lain bisa bersahabat dan bekerja sama dengan baik. Marlin korban keangkara-murkaan para hiu kanibal yang buas, Dory penderita amnesia (penyakit lupa). Ia korban sebuah kejadian di masa lalunya, kejadian yang menghapus ingatannya. Marlin-Dory kemudian menjadi pasangan ideal yang menceburkan diri ke dalam petualangan mencari Nemo.
Beberapa kali mereka lepas dari jerat maut. Mereka berhasil keluar dari perut ikan paus raksasa yang menelannya. Setelah lolos, mereka masih harus menghadapi jebakan beracun dari ratusan ubur-ubur. Berbeda dengan Toy Story atau Monster Inc., yang lumayan padat dan rumit untuk konsumsi kanak-kanak, cerita yang disuguhkan dalam Finding Nemo lebih ringan. Memang film ini menjangkau banyak penonton. Di Amerika Serikat, penjualan tiket film ini begitu laris dan selama beberapa pekan bertengger dalam deretan box office.
Finding Nemo memang diawali adegan kelam: hiu buas menyantap keluarga Marlin. Tapi perlahan-lahan adegan demi adegan menjadi lebih renyah dan riang. Finding Nemo adalah hiburan menyenangkan yang layak diperhitungkan untuk mengisi liburan sekolah kali ini.
Dewi Rina Cahyani
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
