• Home
  • 16 Juni 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juni 2003

    Jagat Perempuan dalam Jeruji Fotografi

    Pameran itu sebagaimana pameran lainnya di Jakarta. Profesional, apik, dan—sebagaimana setiap pameran—tentu maunya unik. Simak saja promosi kurator Firman Ichsan dan Lisabona Rahman tentang perhelatan mereka ini: Mata Perempuan—yang digelar secara serentak hingga 30 Juni nanti di Galeri Oktagon dan Restoran Paprika, Jakarta Pusat, serta di Toko Buku QB di Kemang, Jakarta Selatan—adalah "pameran fotografi perempuan pertama di Indonesia". Dua ratus tahun silam, seorang ilmuwan Cina menemukan gagasan memasang lensa di depan lubang camera obscura-nya, sebuah instrumen menggambar yang menjadi cikal-bakal kamera foto seperti yang kita kenal sekarang. Ilmuwan itu, Luang Hu, adalah seorang wanita. Pun istilah photographie dalam bahasa bangsa Prancis, yang pertama di dunia mengumumkan penemuan teknologi ini pada 1839, adalah sebuah kata benda dengan nuansa feminin. Boleh saja. Tapi, sebagaimana yang ditengarai sejarawan seni Naomi Rosenblum dalam bukunya, The History of Women Photographers (Abbeville Press, New York: 1994), pada kenyataannya kaum hawa sendiri sempat kurang terwakili dalam sejarah fotografi. Alasannya bersifat teknis. Pada awalnya pekerjaan memotret bukan cuma menyangkut kemampuan otak, tapi juga kekuatan otot (yang diperlukan untuk mengangkut puluhan kilogram peralatan foto dan kamar gelap). Terbukti, saat perkembangan teknologi menghasilkan instrumen foto yang lebih canggih dan ringkas, perempuan yang terjun ke bidang ini terus bertambah. Di Amerika Serikat dan Eropa Barat pada paruh kedua abad ke-19, jumlahnya bahkan mencapai ribuan. Tapi perubahan yang paling mendasar mengekor perbaikan ekonomi dan sosial masyarakat itu sendiri. Pertumbuhan kelas menengah, antara lain, berpengaruh pada meningkatnya kebutuhan akan berbagai produk fotografi—baik untuk kepentingan dokumentasi pribadi, penyebaran informasi, maupun sebagai barang pajangan dan koleksi. Pada gilirannya hal ini lantas mendorong lahirnya sekolah-sekolah fotografi yang, ternyata, semakin membuka ruang bagi perempuan. Di Jepang, misalnya, sejak 1990-an sebagian besar siswa sekolah fotografi adalah wanita. Di Indonesia, tempat pendidikan semacam ini baru dimulai sekitar 10 tahun silam, perbandingan itu baru mencapai 10-20 persen. Toh, bagi beberapa orang—di antaranya para kurator Mata Perempuan—itu sudah cukup untuk dianggap sebagai sebuah gejala. Berbeda dengan para pendahulu mereka yang autodidak dan jumlahnya bisa dihitung sebelah tangan—sebut saja Thilly Weissenborn, yang di tahun 1920-an termasyhur sebagai juru foto studio Lux Fotograf di Garut, Jawa Barat, atau bahkan para fotografer tahun 1980-an macam Desiree Harahap dan Enny Nuraheni—ketujuh fotografer perempuan yang diundang dalam pameran ini merupakan produk pendidikan fotografi. Ayu Ismalia, Maya Ibrahim, Stefanny Imelda, dan Vitri Yuliani merupakan alumni Institut Kesenian Jakarta; Maria Lasakajaya lulus dari Universitas Trisakti; sementara Hanneke Tumbuan belajar di Ritveld Academy, Negeri Belanda. Bahkan Widya Amrin, yang menjadi pengecualian, sempat mengenyam berbagai lokakarya dari lembaga ternama macam Galeri Foto Jurnalistik Antara, World Press Photo, dan "i see" di Jakarta. Alhasil, kelompok fotografer sekolahan tersebut tidak hanya lebih terdidik, tapi juga memiliki rentang keterampilan—dari fotografi potret hingga still life, dari metode jurnalistik sampai teknik montase, dan dari cetak hitam-putih hingga pencitraan digital—yang bahkan setara dengan saingan-saingan prianya. Hingga di sini, Mata Perempuan sangat berhasil. Sayangnya, pihak kurator kemudian mencanangkan pula pemunculan suatu bahasa dan pernyataan baru, yang mereka istilahkan di sini sebagai "suara perempuan" atau "mata perempuan". Sebagai alasan, mereka merujuk pada fenomena yang terjadi dalam seni sastra dengan kehadiran penulis-penulis perempuan mutakhir seperti Ayu Utami, Dewi Lestari, atau Djenar Maesa Ayu, yang cerita pendeknya dimuat sebagai bab penutup dalam katalog pameran. Karena teks karya mereka, demikian kurator Lisabona Rahman menulis, "Orang mulai menangkap perbedaan sudut pandang laki-laki dan perempuan." Akibatnya, pameran tersebut terjeblos ambisinya sendiri. Masalahnya, walau para fotografer tersebut menampilkan pelbagai topik yang berhubungan dengan kaumnya—mulai dari representasi para tokoh perempuannya Ayu Ismalia, persoalan identitas dalam karya Widya Amrin, Maria Lasakajaya, serta Vitri Yuliani, hingga pemaparan kodrat yang digambarkan Maya Ibrahim— untuk bisa "bersuara", seorang seniman bukan cuma perlu menetas atau punya tema yang pas, tapi juga perlu memiliki medium ekspresi yang terbuka untuk eksplorasi yang luas. Ini bukan perkara sepele. Pasalnya, di Indonesia fotografi masuk sebagai bagian dari kolonialisme Belanda. Alhasil, mereka mengembangkan pemahaman yang kaku tentang fotografi dan penggunaan fotografi sebagai medium yang erat hubungannya dengan realitas. Hanya melalui ideologi semacam inilah mereka bisa meyakinkan dirinya (dan pribumi yang ikut melihat) bahwa apa yang terekam dalam jutaan foto yang mereka buat—kehebatan Belanda, keterbelakangan pribumi—adalah kenyataan yang "benar ada dan terjadi seperti apa adanya". Sialnya, perkembangan medium ini di negeri kita, yang dikuasai kepentingan industri iklan dan pers, semakin menjerumuskan fotografi bukan sebagai media ungkap yang ekspresif dan personal, tapi sekadar bahasa tutur yang resmi dan sopan. Dengan beberapa pengecualian, karya-karya dalam Mata Perempuan baru bisa menjadi semacam ilustrasi atau reportase tentang isu dan tema keperempuanan. Ironisnya, itu menjadi jelas bila kita membandingkannya dengan karya Djenar Maesa Ayu, tempat ia mendongeng: "Saya tidak menyedot air susu ibu. Saya menyedot air mani ayah." Sementara penulis perempuan ini mendulang ketenaran, para fotografer (juga pihak kurator serta pemilik galeri) sudah pasti akan menuai hujatan dan hukuman seandainya mereka menghadirkan karya fotografi yang setara, dalam keberanian dan kebebasan khayalnya, dengan kalimat-kalimat tersebut. Maka, jelas bahwa gagasan tentang suara yang khas ini bukan cuma soal politik identitas, tapi—dalam kasus fotografi—terlebih lagi menyangkut (kemerdekaan) ideologi bahasa. Barangkali yang perlu diperjuangkan terlebih dulu bukanlah hadirnya "suara perempuan", melainkan sesuatu yang lebih hakiki: suara pribadi. Sekadar memaksakan gagasan adanya "suara" atau "fotografi" perempuan (yang belakangan disanggah sendiri oleh sejarawan Rosenblum, juga oleh sebagian besar peserta pameran ini) justru bisa menjadi semacam diskriminasi terbalik—seolah-olah kaum hawa tak cukup bisa setara dengan lawan jenisnya. Sebagai perempuan, mereka juga harus selalu istimewa. Pun demikian, mengelompokkan mereka dalam kategori dan ruang tertentu juga berisiko melahirkan spesies yang biasanya kehilangan akal kala dipaksa melongok ke dunia di luar jerujinya. Maka, ada baiknya kita simak kembali kata-kata sastrawan dan tokoh feminis kondang Virginia Woolf tentang esensi menjadi perempuan: "Sebagai perempuan, aku tak punya negara. Sebagai perempuan, negaraku adalah dunia itu sendiri." Yudhi Soerjoatmodjo, fotografer dan kurator

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Gelar

Meninggal

Buku

Tiga Pilar Sebuah Gerakan

Catatan Pinggir

Poster

Fotografi

Jagat Perempuan dalam Jeruji Fotografi

Indonesiana

Duel Hakim Versus Panitera

Cubitan Bermasalah

Layar

Layar Masa Lalu yang Retak

Durga di Tangan 'Meneer'

Demi Wisata, Wangsit, dan Klenik

Ralat

Ralat

Tari

Kandas di Tengah Jelajah

TEMPO|interaktif

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif