MATAHARI pagi masih malu-malu menampakkan diri ketika sepuluh orang yang mengenakan perlengkapan menjelajah itu masuk hutan. Selain membawa perlengkapan logistik, mereka menenteng beberapa peralatan penelitian seperti lup, tabung, dan plastik.
Berangkat dari Desa Pa'raye, yang dijadikan camp utama, mereka menjelajahi hutan Taman Nasional Kayan Mentarang, Kecamatan Krayan Darat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Mereka bagian dari ekspedisi bersama ilmuwan Indonesia-Malaysia yang diselenggarakan World Wide Fund for Nature (WWF) Tarakan untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati di taman nasional itu, April lalu.
Mereka sampai di sub-camp III setelah melewati jalan setapak yang terjal. Di kawasan inilah ditemukan spesies baru Rafflesia spacei. Selama ekspedisi, beberapa jenis baru flora dan fauna lain juga ditemukan. "Lebih banyak lagi jenis yang belum pernah dilaporkan sebelumnya terdapat di Kalimantan," ujar Harry Wiriadinata, staf Herbarium Bogor, salah seorang peserta ekspedisi.
Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang memang salah satu pusat utama keanekaragaman hayati penting dunia. "Hanya hutan yang terjaga kelestariannya yang akan melahirkan jenis-jenis baru flora dan fauna," ujar I.G.N.N. Sutedja dari WWF Tarakan. Karena itu, eksotisme hutan di kawasan ini harus tetap dipertahankan, agar bisa menjadi laboratorium hidup bagi ahli biologi dunia dan situs ekoturisme yang diperhitungkan.
Letak kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang sangat terpencil. Jalan masuk ke sana baru terbatas lewat udara dengan beberapa angkutan udara perintis yang landasannya berukuran kecil, jalan setapak, dan beberapa sungai dengan angkutan perahu motor. Status taman nasional ditetapkan pada 1996. Terletak di sepanjang perbatasan antara Kalimantan Timur dan wilayah Negara Bagian Sabah dan Serawak, Malaysia, kawasan seluas 1,35 hektare ini sebelumnya berstatus cagar alam. Di seluruh kawasan taman ini terdapat 10 wilayah adat, yang dihuni oleh sekitar 16 ribu orang Dayak yang mendiami 50 desa.
Menurut Sutedja, dukungan masyarakat setempat sangat beragam. Masyarakat setempat sudah mengelola hutan yang terdapat di dalam kawasan itu selama berabad-abad. Ada yang ingin menjaga kelestariannya, tapi ada juga yang ingin mempertahankannya sebagai lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk itu, kata Sutedja, diperlukan sistem zonasi yang tepat. Sebagian besar kawasan taman akan dijadikan zona pemanfaatan tradisional sehingga pemanfaatan berkelanjutan oleh masyarakat diperbolehkan. Bagian lain perlu dijadikan zona inti, yang telah mendapatkan persetujuan sementara dari masyarakat. "Memaksakan pembuatan zona rimba atau zona inti saat ini hanya akan membingungkan masyarakat," ujarnya.
Keadaan Taman Nasional Kayan Mentarang sangat unik. Diperlukan metode pengelolaan yang beberapa aspeknya bersifat baru dan inovatif. Pengelolaan kolaboratif taman nasional ini mengikutsertakan Departemen Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA), masyarakat adat setempat, dan pemerintah kabupaten. Masyarakat adat setempat menyalurkan keikutsertaan mereka melalui Forum Musyawarah Masyarakat Adat (Fomma).
Belum berhenti di situ, Fomma, PHKA/KSDA, dan pemerintah kabupaten kemudian membentuk Dewan Penentu Kebijakan. Pengelolaan sehari-harinya menjadi tanggung jawab Badan Pelaksana Taman Nasional Kayan Mentarang, yang bertanggung jawab kepada Dewan Penentu Kebijakan.
Meski ini terbilang model baru bagi pengelolaan taman nasional di Indonesia, pemerintah pusat tampaknya mendukung gagasan itu. Tak kurang dari tiga buah surat keputusan Menteri Kehutanan-No. 1213, 1214, dan 1215/Kpts-II/2002)-sudah dikeluarkan.
Kemesraan pengelolaan bahu-membahu itu bukan tanpa tantangan. Menurut Sutedja, tak sedikit oknum investor yang membujuk masyarakat setempat agar lahannya dikeluarkan dari taman nasional dan dijadikan hutan industri, yang tentu menjanjikan sejumlah uang-sebuah iming-iming yang adakalanya tak mudah ditepis.
Budi Putra
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
