• Home
  • 16 Juni 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juni 2003

    Terperangkap di Sarang GAM

    SEPUCUK surat dari New York, Amerika Serikat, bikin heboh Selasa pekan lalu. Pengirimnya Ann K. Cooper dari The Committee to Protect Journalists (CPJ) dan ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia. Ketua Komite Perlindungan Wartawan itu meminta Presiden Megawati menggunakan otoritasnya untuk memerintahkan agar penguasa darurat militer di Aceh menjamin keamanan jurnalis freelance asal Amerika Serikat, William Nessen.

    Nessen, menurut Koordinator Program Asia CPJ, Kavita Menon, terjebak dalam sarang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dalam telepon terakhir lewat satelit kepada istrinya, Shadia Marhadan, sekitar pukul 05.30, pekan lalu, Nessen terdengar ketakutan. "Saya mendengar tembakan begitu dekat, terdengar di telepon, selama percakapan. Dia bilang tentara Indonesia sedang menembaki GAM dan dia tak bisa keluar karena takut ditembak TNI," kata Shadia kepada CPJ. Menurut Shadia, suaminya sebenarnya mau keluar dari sarang GAM, tapi karena khawatir tertembak TNI, ia terpaksa ikut dengan GAM.

    Shadia, perempuan asal Aceh yang dikawini Nessen, kini tinggal di Singapura. Namun, saat TEMPO menghubungi tempat tinggalnya, ia tak ada. Pengurus apartemen sempat memberikan nomor telepon istri Nessen itu, tapi ketika dikontak hanya terhubung ke voice mail.

    Nessen, menurut Menon, sudah beberapa tahun ini meliput di sarang GAM. Ia biasa mengirim berita untuk The Boston Globe, San Francisco Chronicle, The Sydney Morning Herald, dan The Age, Australia. Ia juga mengirim foto untuk koran asal Inggris, The Independent. "Selain jurnalis tulis, ia juga fotografer," kata Menon kepada TEMPO.

    Berdasarkan catatan Panglima Komando Operasi Brigadir Jenderal Bambang Darmono, Nessen sudah satu setengah bulan berada di Aceh. "Menurut informasi sebuah sumber, dia sering terlihat bersama Panglima GAM Muzakir Manaf," kata Brigjen Bambang kepada Tempo News Room.

    Nessen, menurut beberapa wartawan asing yang bertugas di Jakarta, bukan sosok yang populer. Ia dianggap terlalu bersimpati kepada GAM, "sehingga kami yang profesional jadi kena getahnya," kata seorang wartawati stasiun televisi asing di Jakarta. Kendati demikian, berdasarkan informasi dari para editor yang dihubungi CPJ, Nessen benar-benar bekerja sebagai jurnalis. "Dia bukan aktivis atau mata-mata," kata Menon.

    Selain CPJ, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta sibuk meminta pemerintah RI menyelamatkan warga negaranya itu. "Kami berharap dia (Nessen) dilindungi," kata juru bicara Kedutaan besar AS di Jakarta, Greta N. Morris, kepada Wuragil dari Tempo News Room.

    Menurut Greta Morris, pihak Kedutaan AS telah melakukan pembicaraan dengan pejabat tinggi di Indonesia tentang kekhawatiran mereka atas keselamatan Nessen. "Kami percaya dia betul-betul dalam keadaan bahaya dan pemerintah (Indonesia) memiliki tanggung jawab untuk melindungi warga sipil dalam kondisi darurat militer atau perang seperti di Aceh sekarang ini," katanya.

    Dengan pembicaraan itu, diharapkan Nessen tak mengalami musibah seperti yang terjadi pada dua turis asal Jerman dua pekan silam. Dalam peristiwa itu, Luther Hendrik Albert tewas tertembak TNI dan pasangannya, Elizabeth Margareth, mengalami luka-luka di kaki.

    Agar tak kena peluru nyasar, Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayor Jenderal Endang Suwarya meminta agar wartawan asal AS itu segera keluar dari sarang GAM. "Kalau dia tak keluar, kami tak bisa menjamin keamanannya," kata Mayjen Endang. Ultimatum yang sama datang dari Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. "Kami minta (dia keluar) dalam 2 x 24 jam karena operasi ini akan terus kita tingkatkan," kata Jenderal Sutarto kepada wartawan seusai menghadiri rapat koordinasi masalah Aceh di Kantor Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di Jakarta, Jumat pekan lalu.

    Jenderal Sutarto menjamin TNI akan memberikan keamanan kepada Nessen bila dia keluar dari markas GAM. "GAM saja kita amankan kalau sudah menyerah. Ini (wartawan AS) kalau sudah melapor juga akan kita amankan," katanya.

    Cuma, menurut Sutarto, Nessen harus segera keluar. Soalnya, TNI kini sedang bersiap-siap menyerang markas GAM yang diperkirakan menjadi tempat wartawan AS itu berada. Nessen diduga berada di kantong GAM di daerah Nisam, Aceh Utara "Begitu dia (Nessen) sudah keluar, ya, akan digebuk lagi (markas GAM). Kalau dia tidak keluar setelah waktunya terlampaui, ya, kita gebuk juga," ujar Sutarto.

    Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono menyayangkan William Nessen tidak pernah melaporkan keberadaannya kepada penguasa darurat militer. "Jadi, terpulang kepada wartawan itu. Kalau memang akan meninggalkan kebersamaannya dengan GAM dan mengkomunikasikannya dengan pemerintah darurat militer daerah, tentu akan kami lindungi dan kami selamatkan," kata Bambang Yudhoyono.

    Jaminan Yudhoyono itu melegakan Greta Morris. Ia yakin Indonesia akan memperhatikan permintaan AS untuk melindungi Nessen. "Kami berterima kasih karena Pak Susilo Bambang Yudhoyono bilang akan menyelamatkan dia," katanya. Kini keputusan berada pada William Nessen: apakah ia akan melapor atau tetap bertahan bersama GAM.

    A. Taufik


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Gelar

Meninggal

Buku

Tiga Pilar Sebuah Gerakan

Catatan Pinggir

Poster

Fotografi

Jagat Perempuan dalam Jeruji Fotografi

Indonesiana

Duel Hakim Versus Panitera

Cubitan Bermasalah

Layar

Layar Masa Lalu yang Retak

Durga di Tangan 'Meneer'

Demi Wisata, Wangsit, dan Klenik

Ralat

Ralat

Tari

Kandas di Tengah Jelajah

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Lady Gaga Batal Konser di Jakarta

Bisnis

Pengusaha Mineral Gugat Beleid Pungutan Bea Keluar

Bisnis

Anggarkan Rp 400 Miliar, Ramayana Buka 6 Gerai Baru

Nasional

Dua Sekolah Tidak Lulus Ujian Nasional 100 Persen

Seni & Hiburan

50/50, Kala Hidup Berubah 180 Derajat

Bisnis

Indonesia Kebal Krisis Eropa

Nasional

Hasil Ujian Nasional NTT Peringkat Terakhir Nasional

Nasional

Ruhut Minta Demokrat Pecat Thaib

Teknologi

Waspada, Blog Kini Jadi Sarana Penyebar Virus  

Nasional

Atasi Konflik, Jokowi Datangi Kasunanan Surakarta

Bisnis

Ini, Dua Syarat Untuk Tambahan Kuota BBM Subsidi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif