Dunia kepurbakalaan Indonesia memang penuh paradoks. Tiap bulan penuh temuan baru, tapi juga banyak yang hancur karena berbagai sebab. Di Rengasdengklok, misalnya, minggu ini para arkeolog menggali situs yang diduga keras bekas candi-candi era Tarumanegara (lihat: Mengejar Kepingan Dunia Lampau). Di Sumatera, para arkeolog terus berusaha meneliti berbagai situs yang diduga dahulunya menganut ajaran Tantrayana, sebuah bahan kajian yang merangsang ahli Buddha mana pun di dunia (lihat: Heruka, Menari Tantrik di atas Mayat). Tak hanya di Jawa atau Sumatera, mereka juga memburu di Kalimantan. Tahun 1994, misalnya, ditemukan arca perunggu Buddha Dipangkara, Buddha yang dipercaya sebagai penyelamat pelaut.
Buddha itu berposisi samabhangga, tegak kedua kakinya. Tangan kanannya bersikap abhyamudra dan tangan kiri memegang jubah. Arca yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 sampai ke-9 Masehi itu merupakan reruntuhan lokasi Candi Laras, sebuah candi dari abad ke-14 yang diduga memiliki hubungan dengan Majapahit. Letak candi yang berada di kawasan Sungai Nagara, sebuah cabang Sungai Barito di sebelah barat Pegunungan Meratus, itu susah dicapai. Bambang Soelistyanto, mantan Kepala Balai Arkeologi Kalimantan, mengenang perburuannya. Dari Banjarmasin, ia harus naik rakit menyusuri sungai-sungai kecil beberapa kilometer. "Kami harus berjalan kaki menembus rawa-rawa seperut. Banyak kawan peneliti yang terperosok sehingga perjalanan terhenti beberapa kali," kata Bambang
Belum lagi warisan megalitik Indonesia yang masih "perawan". Kita memiliki kekayaan peninggalan prasejarah seperti menhir di Bali, Sumbawa, Flores, Poso, Nias, Samosir, Cianjur, yang beragam coraknya dan terus melahirkan penelitian-penelitian baru. Tapi kisah kegairahan para "Indiana Jones" itu dibarengi kisah memilukan soal konservasi. Bila bisa bicara, mungkin benda-benda purbakala kita itu meneriakkan "may day, may day". Sebab, yang "menyakiti" mereka bukan sekadar graffiti atau tahi ayam dan kambing seperti di atas. Relief kompleks percandian di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, yang dibangun pada abad ke-11 oleh Dharmawangsa Teguh, mertua Erlangga, misalnya, tahun demi tahun makin hancur. Padahal relief-relief di sana menggambarkan cerita asli tanah Jawa: Panji, Arjuna Wiwaha, Bima Ruci, yang tidak ada dalam Hindu India.
Dalam catatan Belanda, di pegunungan yang tingginya 1.659 meter itu tersebar 81 situs candi. Kini yang terdeteksi cuma 40 buah, itu pun banyak yang rusak. Umumnya lokasi candi terletak di tempat terjal. Candi Kendalisodo, misalnya, ditatah pada bibir tebing. Tanjakannya demikian curam hingga bila mendakinya kita harus merayap dengan posisi lutut kita ketemu dagu. Di candi inilah terdapat dua punden berundak. Satu punden menggambarkan empat panel relief kisah Panji. Punden lain melukiskan relief Dewa Ruci, Arjuna Wiwaha, dan bidadari mandi.
Relief keempat kisah Panji mendeskripsikan Panji berada di tepi laut, bercengkerama dengan dua orang putri. Di latarnya tergambar ombak laut dengan perahu. Dua punakawan tampak menangkap kepiting. Pada tahun 1990-an, Agus Aries Munandar, arkeolog Universitas Indonesia (UI) yang disertasinya tentang candi-candi di Penanggungan, menyaksikan relief itu masih utuh. Tapi, ketika TEMPO dua pekan lalu mendaki ke sana, relief kepala Panji itu hilang. Terlihat jelas, ia dicongkel. Demikian juga relief Dewa Ruci, Arjuna Wiwaha, dan bidadari mandi. Majalah ini menyaksikan sendiri bagaimana semua relief kopong. "Padahal tahun 85-an saya lihat masih ada," kata Agus.
Candi-candi di Penanggungan dahulunya adalah tempat penggemblengan dan isolasi para calon pandita, yang dalam agama Hindu disebut wanaprasta. Candi-candi ditata sedemikian rupa hingga letak ketinggiannya hierarkis sesuai dengan tingkat "samadi" calon pandita. Tempat yang paling suci dan paling mudah dicapai adalah petirtaan Jolo Tundo di kaki barat Penanggungan dan petirtaan Candi Belahan di kaki sebelah utara. Dahulunya, mata air ini menjadi semacam Sungai Gangga, tempat awal pembasuhan diri. Kedua lokasi itu kini bisa dicapai dengan mobil. Sampai kini keduanya dijadikan permandian umum. Para peziarah percaya kungkum di situ akan mendatangkan rezeki.
Candi Belahan oleh penduduk setempat disebut "sumber tetek" karena di situ berdiri arca wanita menangkupkan payudaranya dan dari putingnya keluar air mancur. Di depannya ada kolam selebar 5 x 5 meter sedalam 1 meter. Sayangnya, para peziarah yang mandi banyak memakai sabun. Mereka bahkan keramas, menyikat gigi, dan mencuci di situ. Padahal ada plang larangan agar tidak memakai sabun. Walhasil, sisa-sisa bekas sabun menempel pada batuan candi. Dinding candi dari terakota kini tampak mulai aus tergerus cairan sabun mandi dan sampo.
Candi Sukuh (didirikan pada abad ke-13), yang terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, di kaki Pegunungan Lawu, juga terancam bahaya. "Struktur candi sudah tidak simetris lagi. Di bagian depan kiri mengalami kemiringan 10 derajat dari kondisi semula karena bagian kaki candi ambles," tutur Suranto, pegawai Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah.
Beberapa tahun lalu penduduk sekitar susah mendapatkan material untuk menguruk jalan desa. Mereka mengusulkan agar menambang pasir di perbukitan sekitar 500 meter dari fondasi Candi Sukuh. Pengerasan jalan memang rampung, tapi menurut Suranto ada preman setempat yang memimpin penambangan lagi untuk dijual. Walhasil, lereng bukit di utara candi itu tergerus membentuk tiga gua sepanjang 15-30 meter. Makin lama penggalian makin panjang hingga mendekati fondasi candi.
TEMPO, yang menuruni lereng menuju kaki bukit, memang melihat ada tiga gua yang saling berdekatan. Gua-gua itu selebar sekitar dua meter dan setinggi satu setengah meter. "Kalau penambangan itu diteruskan, terowongan bisa mencapai persis di bawah fondasi candi, dan memang sangat membahayakan," kata Suranto. Akibatnya, puncak Candi Sukuh bagian barat kini tampak sedikit lebih rendah dari bagian timur. Dan dua batu menhir yang berada di pelataran candi terlihat doyong, tak tegak lagi.
Nasib Candi Dieng, candi Hindu tertua di Jawa, juga mengenaskan. Saat ini di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, terdapat delapan candi peninggalan dinasti Sanjaya yang dibangun pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Sebelum tahun 1995, hutan di Dieng masih lebat dan berfungsi sebagai penadah hujan. Lalu penduduk menebanginya, dan hutan telah berubah menjadi lahan kentang yang bahkan berjarak hanya tiga meter dari candi. Akibatnya, jika hujan turun, lumpur tak tertahankan merosot ke bawah sampai sebagian masuk mengotori candi
Tangan-tangan jahil juga menyatroninya. Kompleks Candi Arjuna, yang terdiri dari Candi Arjuna, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, dan Semar, sebagian dindingnya penuh graffiti dan reliefnya digurat-gurat. Kompleks Candi Arjuna ini sering dijadikan ajang bermain sepak bola dan menggembala kambing. Bahkan sepeda motor pun dapat bebas berkeliling di seputar candi. Di dalam candi ada yoni yang kotor dengan sampah plastik dan kulit kacang. Sekitar 300 meter dari arah barat daya candi, terdapat Candi Gatutkaca. Kondisinya tak kalah memprihatinkan.
Yang rusak paling parah dibanding tujuh candi lain adalah Candi Bima, 1,2 kilometer dari arah barat daya Candi Arjuna. Candi ini berada paling jauh dari permukiman penduduk. Yang khas dari ornamentasi candi ini adalah, di atapnya ditakik beberapa arca Kudhu, arca batu andesit berkepala manusia lengkap dengan mahkota sebesar 25 sentimeter. Di Candi Bima itu telah terjadi empat kali pencurian arca Kudhu: pertama tahun 1981, kemudian 1985, tahun 1991, dan terakhir tahun 1999. Dari empat arca Kudhu yang hilang, tiga ditemukan. Satu di antaranya dikembalikan oleh seseorang di Singapura, dan sekarang disimpan di Museum Negeri Semarang. "Yang satu lagi raib entah ke mana," kata Haryanto, kepala pemeliharaan situs Dieng.
Pada tahun 1991, Museum Dieng juga sempat kebobolan. Arca Syiwa, arca Kala, arca Garuda berkepala manusia, dan arca Ganesha duduk hilang dicuri orang. "Arca itu dicuri dengan cara menjebol pintu belakang," kata Haryanto, yang hanya lulusan SLTP itu. Tiga bulan kemudian arca itu ditemukan tergeletak di rerumputan. Koleksi museum ada 1.500-an benda purbakala, yang terdiri dari arca, makara, lingga, yoni, dan benda-benda candi lainnya. Hanya 262 benda yang bisa diidentifikasi. Sisanya sudah menumpuk puluhan tahun di gudang tanpa perawatan yang memadai. Sejumlah arca juga digeletakkan begitu saja di luar ruangan.
Memang, memuseumkan arca tidak selalu bisa disamakan dengan menyelamatkan peninggalan-peninggalan itu. Misalnya arca Armawati, arca Buddha berwajah mirip orang Sri Lanka peninggalan Sriwijaya yang ditemukan pada tahun 1920 di Bukit Siguntang, Palembang. Ia kini disimpan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang. Kondisinya masih tegak, tapi beberapa bagian tubuhnya ditambal semen; tangan kanan dan kiri tak ada. Dulu arca ini digeletakkan begitu saja di belakang museum. Untung, di tahun 1980-an, Walubi Sum-Sel berinisiatif menegakkan dan merawatnya. Di daerah Siguntang sendiri, majalah ini menyaksikan arca dan makam-makam penuh torehan graffiti. Corat-coret di atas arca seolah wajib hukumnya.
Di Trowulan, kawasan bekas Majapahit, ancaman paling besar justru dari penduduk sendiri. Di Trowulan banyak terdapat sisa bangunan batu bata yang menandakan bagian dari kompleks Majapahit. Tapi, oleh penduduk, bata itu kerap ditumbuk dibuat bata lagi. Menurut Prapto Saptono, pegawai arkeologi Trowulan, di sana ada 2.400-an usaha pembuatan batu bata. Namun, di antaranya ada yang berprofesi sebagai penggali ilegal. Karena di situ sering ditemukan keramik, manik-manik atau emas, masyarakat ikut jadi "arkeolog", bahkan lalu ada tukang tadahnya.
TEMPO melihat sendiri, di beberapa rumah di Desa Nglingguk, Trowulan, di halaman belakangnya ada lubang-lubang menganga sedalam 1 meter. Mereka menggali mencari apa saja, gentong keramik, dan lain-lain. Menurut Prapto, penduduk sekarang "mengekskavasi" makin dekat ke situs dengan harapan peluang menemukan benda berharga makin besar. Dinas purbakala tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya cara, menurut Prapto, pemerintah harus membeli semua tanah penduduk. Setelah itu, baru bisa menempatkannya seratus persen sebagai kawasan ilmiah.
Yang juga menjengkelkan di Trowulan adalah bertahannya "klenik" yang pernah dipraktekkan Orde Baru. Dahulunya di Trowulan ada sebuah situs reruntuhan candi. Pada tahun 1970-an, tiba-tiba situs itu dipugar atas suruhan Cendana. Dinas arkeologi tak berdaya. Soeharto percaya di situ bersemayam jenazah Raden Wijaya bersama permaisurinya. Lalu, Soeharto membangun bangunan permanen dari beton sekitar 6 x 6 meter. Dindingnya bercat merah dengan dua pintu kayu jati berukir, berlantai marmer. Di pintu diberi plang: "Pertapaan Siti Inggil Raden Wijaya, Kertarajasa Jayawardhana Jaman Brawijaya I, Majapahit. Candi Siti Inggil."
Bila kita masuk, di sana ada lima makam: makam Raden Wijaya, Dara Petak, Dara Jingga, Kaki Regel, dan Gayatri. Pusaranya bermarmer dan dibungkus kain satin emas. Sebuah pohon beringin besar menaungi makam. Tentu saja makam itu bohong-bohongan. "Soeharto mengambil patung Wisnu dan membuat makam-makam itu," kata Prapto Saptono. Soalnya, sampai sekarang masyarakat telanjur percaya bahwa itu tempat Raden Wijaya. "Makam" itu menjadi favorit semadi para penghayat.
Bagaimana sikap kita dengan rekonstruksi "klenik" begini? "Seharusnya dibom saja, ha-ha-ha," kata Prof. Dr. Ayatrohaedi, arkeolog UI. Maksud Ayatrohaedi, bagian-bagian "palsu" itu sebaiknya dirobohkan saja, karena jelas menyalahi secara arkeologis dan dapat menimbulkan pemahaman yang salah pada masyarakat. Ayatrohaedi sendiri pernah mendapat cerita dari almarhum Sudirman, Kepala Wilayah Purbakala Jawa Timur. Suatu hari di tahun 1963, tiba-tiba meluncur jip ke Museum Trowulan. Seorang tentara berpangkat tinggi, Panglima Operasi Mandala, meloncat menemui Sudirman.
Tentara itu secara fasih dan detail berbicara tentang arca Batara Guru yang disimpan di situ. Ia dapat secara jelas mendeskripsikan ciri-ciri, tinggi, dan bentuk arca itu secara akurat, meski belum masuk museum. Ia bersikeras meminjam arca itu, demi tugas negara penting, katanya. Arca itu lepas, surat tanda terima peminjaman diteken. Ternyata orang itu Soeharto. Dan sampai sekarang arca itu belum dikembalikan. Soeharto dan konco-konconya memang sering merusak benda-benda purbakala berdasarkan wangsit. Soejono Hoemardhani, yang dianggap guru spiritual Soeharto, misalnya, merekonstruksi Candi Cetho tanpa mempedulikan data-data arkeologis.
Kita mungkin bisa berharap Undang-Undang Benda Cagar Budaya, yang bakal diamendemen minggu-minggu ini, bakal memiliki taring. "Di situ tegas tertulis segala pemanfaatan BCB harus tidak boleh memindah dan mengubah gaya benda tersebut," kata Prof. Mundardjito, anggota Dewan pengamendemen. Tapi, soalnya, apakah undang-undang itu punya gigi untuk menjatuhkan sanksi yang setimpal.
Misalnya, bagaimana menangani masalah pabrik kayu lapis yang merusak situs bekas Sriwijaya di Jambi? Di Jambi berdiri PT Gaya Wahana Plywood, yang mengembangkan industri kayu lapis dengan skala besar-besaran di lokasi pertemuan antara Sungai Kemingking dan Batanghari. Permasalahannya, di kawasan itu ada situs Candi Teluk. Pada 1980-an, Junus Satrioadmojo, Ketua Balai Purbakala setempat, menemukan bahwa situs itu sebetulnya luas sekali, sampai 35 hektare. Areal tersebut ditetapkan sebagai kawasan perlindungan arkeologis.
Sebetulnya, dari hukum kepemilikan, keberadaan pabrik di situ tidak dapat dipersalahkan. Sebelum melakukan pembangunan, pemilik telah minta izin kepada kepala adat sebagai pemilik tanah. Tahun 1980 didirikan pabrik penggergajian dan pembuatan kayu lapis. Sengkarut timbul karena pabrik itu berpindah pemilik tanpa sepengetahuan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan sejarah dan Purbakala. Pemilik baru tetap memakai nama PT Gaya Wahana Plywood dan kemudian memperluas pembangunan pabrik-pabrik dengan membeli tanah ke kawasan perlindungan arkeologi.
Perataan tanah dengan buldoser membuat sejumlah besar data arkeologis hilang. Lapisan budaya Melayu-Sriwijaya yang rata-rata sedalam 20 sampai 60 sentimeter itu rusak parah. Kondisi bata-bata Candi Teluk rapuh dan bebercak hitam. Fondasinya mengkeret oleh getaran kegiatan pabrik. Kini bahkan kawasan itu ditambah lagi dengan pabrik peleburan baja. Tanur-tanurnya sudah siap. "Kami tiga kali memberikan rekomendasi agar perluasan pabrik tidak diteruskan, tapi tetap tidak dilanjuti," kata Junus Satrioadmojo, yang sekarang menjabat Direktur Direktorat Arkeologi dan Permuseuman.
Bukan cuma itu. Di Palembang, misalnya, di kawasan Beteng Kuto Besar, yang dibangun oleh Sultan Palembang pada abad ke-17, dibangun plaza. "Di lokasi Mal Kalibata, Jakarta, dulunya wilayah temuan kapak perunggu," kata Ayatrohaedi mengingatkan. Di Malang, arca-arca dari Candi Kidal, Candi Jago, dan lainnyaaneh bin ajaibjatuh ke tangan pengusaha. Di Rumah Makan Cahyaningrat, Malang, kini terdapat 66 arca. Di Hotel Tugu dipajang Prasasti Muncang. Di halaman Hotel Trio Indah tergeletak Arca Brahma. Oleh pengusaha, arca itu dijadikan pajangan sebagai hiasan untuk tamu hotel demi keuntungannya sendiri.
Dahulu pemerintah kolonial Belanda menyimpan arca-arca itu di Museum Malang. Belakangan, Museum Malang telah berubah fungsi dua kali. Pertama, menjadi Markas Kepolisian Wilayah (Polwil) Malang. Lantas sekarang menjadi Hotel Trio Indah. Dari situ, arca-arca dipindahkan ke sebuah gedung milik Dinas Pemadam Kebakaran, kemudian ke Taman Senaputra, dan terakhir ke berbagai rumah makan.
"Setiap pemindahan pasti terjadi pengurangan koleksi," kata Profesor Dr. Habib Moestopo, Direktur Eksekutif Malang Heritage Society dan Ketua Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia. Dulu di tahun 1960-an seorang pastor Katolik berdarah Belanda, Romo Arts, memelopori penyelamatan arca. Berbagai arca yang didapat dari masyarakat dikumpulkannya di Gereja Katedral, Kayutangan. Setelah Romo Arts pulang ke Belanda dan meninggal di sana, berbagai arca itu diserahkan ke Departemen Pendidikan, tapi kini ditelantarkan di halaman luar sebuah SD.
Tak usah jauh-jauh. Bagaimana menyelesaikan masalah Jagat Jawa di Borobudur yang masih hangat itu? Setahun lalu Baskoro Daru Tjahyono, peneliti dari Balai Arkeologi Jakarta, mendata: saat ini masih ada 47 situs Hindu yang tersebar di sekitar Candi Borobudur. Berbagai situs itu berada dalam radius 15 kilometer. Banyaknya candi Hindu menunjukkan hubungan harmonis Buddha-Hindu kala itu. Ada 29 situs dari batu bata. Sisanya dari andesit. "Baru tiga situs yang selesai kami gali, yaitu Candi Dipan, Candi Wulung, Candi Samberan, ketiganya bangunan bata," kata Baskoro.
Karena masih banyak situs dan arca, Baskoro berpendapat rencana pembangunan Jagat Jawa, yang letaknya satu setengah kilometer dari candi, harus dikaji ulang. "Saya khawatir jangan-jangan masih ada situs yang belum tampak di situ," katanya. Ia berpendapat, bila 47 situs itu dapat digali, semua itu akan memperkaya kompleks wisata Borobudur yang telah ada. "Situs-situs itu bisa jadi sel pengembangan pariwisata, termasuk para asongan," kata Baskoro.
Martabat suatu pemerintah juga ditentukan oleh satu hal: sejauh mana ia menghormati warisan masa lalunya. Dan apresiasi terhadap "masa lalu" itu bukan hanya terhadap yang telah terpampang di rak-rak museum, tapi juga yang masih "belum tampak", terpendam di dalam tanah. Kecenderungan kesenian mutakhir, misalnya, kini mengeksplorasi kembali dunia candi demi mencari bentuk-bentuk estetika segar. Maka, "keramikus" kontemporer kita mengambil inspirasi motif terakota gaya Majapahit. Juga tari dan teater dari relief-relief (lihat, Menyerap 'Energi' Candi). Arca, candi, bukanlah keheningan semata. Bukan benda mati. Sesungguhnya ia sebuah daya, sebuah vitalitas, sebuah rangsangan yang menggerakkan imajinasi.
Seno Joko Suyono, Dwi Arjanto, Endah W.S. (Penanggungan), Imron Rosyid (Solo), Abdi Purnomo (Malang), L.N. Idayanie (Yogyakarta), Syaiful Amin (Dieng) Arif Ardiansyah (Palembang)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
