• Home
  • 16 Juni 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juni 2003

    Durga di Tangan 'Meneer'

    Peninggalan Singosari tercecer di Belanda, tapi jalan untuk memboyong kembali koleksi itu masih tertutup. Dua arca Syiwa di pintu masuk Rijksmuseum voor Volkenkunde (RMV), Leiden, itu sekonyong-konyong "menyala" disiram sinar lampu. Begitu pengunjung masuk, arca yang bersembunyi dalam temaram itu mendadak terang. Rijksmuseum pintar menarik perhatian dan memiliki koleksi yang kaya. Di belakang dua Syiwa, tegak tiga arca secara terpisah: Durga, Ganesha, dan Chakrachakra atau Bhairawa. Di seberang ketiganya, arca Nandi kelihatan anteng. Lantas tibalah kita pada koleksi batik, keris, dan benda lain yang dipajang dalam almari kaca. Total jenderal ada 68 ribu koleksi barang Indonesia. Tak semua dipajang, tapi nilai artistik dan sejarah benda-benda itu telah diseleksi. Arca Durga Mahesasuramardini tampak anggun. Tingginya 157 sentimeter. Ia berdiri di atas banteng yang meringkuk, takluk. Di dekatnya, sosok Kurcaci menari. Ganesha adalah arca dewa gajah yang duduk di atas 10 tengkorak. Sedangkan Chakrachakra manifestasi Bhairawa, satu bentuk ganas Dewa Syiwa. Selain itu, masih ada arca Brahma yang berkepala empat. Pieter ter Keurs, kurator insuler Asia Tenggara RMV, yakin arca-arca tersebut orisinal. "Kami tak banyak melakukan restorasi. Hanya dengan perawatan yang baik serta pengaturan suhu dan cahaya ruang museum," katanya kepada TEMPO dua pekan lalu tanpa menyebut ongkos perawatan yang begitu besar. Hijrahnya arca-arca itu berawal dua abad silam, dari surat bertanggal 28 Februari 1827 yang ditulis Nicolaus Engelhard, pegawai sipil kolonial Belanda, kepada C.J.C. Reuvens. Engelhard menemukan Candi Singosari pada 1803. Surat mencatat enam arca ini. Pada 1804, Engelhard memindahkan keenam arca tadi dan meninggalkan arca Bhattara Guru yang rusak. Dalam kurun 20 tahun berikutnya, keenam arca tadi lantas diangkut para meneer ke Negeri Belanda. Arca Prajnaparamita ditemukan pada 1818 (atau 1819) oleh pejabat Belanda, D. Monnereau. Pada 1820, Monnereau menyerahkannya kepada C.G.C. Reinwardt, yang membawanya ke Negeri Kincir Angin, dan akhirnya arca itu disimpan di RMV. Pada Januari 1978, barulah patung itu dikembalikan dan disimpan di Museum Nasional Jakarta. Kembalinya Prajnaparamita itu—di samping naskah Negarakertagama, barang emas Lombok, dan pelana Pangeran Diponegoro—tidak mudah. Ada keinginan politik pemerintah Belanda sendiri, tapi ada lobi intensif jajaran Departemen Luar Negeri dan Duta Besar Sutopo Yuwono di Amsterdam yang juga sentral. Tapi, di luar itu semua, jalan untuk mendapatkan kembali benda-benda itu belum sepenuhnya terbuka. Menurut Kepala Museum Nasional Endang Sri Hardiati, pengembalian sulit karena benda-benda itu sudah diboyong ke sana sejak zaman Hindia-Belanda. Saat itu Indonesia wilayah jajahan. Dengan nada sama, Direktur Direktorat Purbakala dan Permuseuman Junus Satrioatmodjo mengemukakan pesimismenya memperoleh kekayaan purbakala Indonesia itu. Namun, yang paling melemahkan kita, Indonesia tidak termasuk sebagai negara yang telah meratifikasi Convention on the Illicit Trafficking on Culture Properties yang dikeluarkan UNESCO. Konvensi ini mengatur proses diplomatik benda-benda budaya antarnegara. Kerja sama bisa dilangsungkan bila masing-masing negara sudah menekennya. UU Benda Cagar Budaya No. 5/1992 menegaskan bahwa diplomasi pengembalian diatur menggunakan konvensi internasional. Tapi pihak Indonesia belum menandatangani konvensi itu. Junus tak tahu penyebabnya. "Yang pasti, kalangan purbakala sudah tiga kali mengirim surat agar meratifikasinya. Terakhir dua tahun lalu. Akibatnya, barang berharga purbakala tidak bisa balik," tutur Junus. Mengutip pejabat teras Departemen Luar Negeri, seorang sumber menyebutkan hubungan Indonesia-Belanda selalu naik-turun. Diplomasi kebudayaan kita memang memble, di samping ada persoalan teknis. Dulu, sewaktu ditantang pemerintah Belanda, Indonesia mendapat kesulitan. Harus diakui, pemerintah tidak punya fasilitas untuk memelihara seluruh koleksi itu. Sejauh ini, sebuah jalan tengah telah ditempuh. "Museum Nasional dan RMV Leiden telah bekerja sama memamerkan koleksi dari Indonesia yang jarang dilihat masyarakat Indonesia," kata Endang. Ter Keurs sendiri menutup kemungkinan pengembalian koleksi Indonesia lainnya yang masih ada di museum Leiden. Sebab, menurut kesepakatan 1978, setelah pengembalian Prajnaparamita dan sebagian besar harta purbakala Lombok itu, pembicaraan koleksi Indonesia di Belanda dianggap selesai. Dwi Arjanto, Dina Jerphanion (Belanda)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Gelar

Meninggal

Buku

Tiga Pilar Sebuah Gerakan

Catatan Pinggir

Poster

Fotografi

Jagat Perempuan dalam Jeruji Fotografi

Indonesiana

Duel Hakim Versus Panitera

Cubitan Bermasalah

Layar

Layar Masa Lalu yang Retak

Durga di Tangan 'Meneer'

Demi Wisata, Wangsit, dan Klenik

Ralat

Ralat

Tari

Kandas di Tengah Jelajah

TEMPO|interaktif

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif