• Home
  • 16 Juni 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juni 2003

    Demi Wisata, Wangsit, dan Klenik

    Serombongan turis mengambang di atas rakit bambu yang membawa mereka ke Kampung Pulo, sebuah pulau kecil di tengah Danau Cangkuang, beberapa minggu lalu. Di pulau kecil itu, yang masuk wilayah Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat, tegaklah Candi Cangkuang. Inilah candi Hindu dari Kerajaan Galuh pada abad ke-8 SM yang akan ditengok para turis tersebut. Namun tamu-tamu jauh itu kecewa sekali. Selain tidak semegah candi di Jawa Tengah, sebagian batunya tidak lagi orisinal—ada bekas plesteran semen. Jelas betul, plesteran ini bukan bagian dari pemugaran. Mengutip istilah beberapa arkeolog, ini pemugaran yang salah kaprah. Sejumlah arkeolog lain malah berpendapat, Cangkuang tak bisa lagi direkonstruksi menjadi candi yang utuh. Salah satunya adalah guru besar arkeologi Universitas Indonesia (UI), Profesor Soekmono. Lebih dari dua dasawarsa lalu, Soekmono menegaskan bahwa candi dengan temuan di bawah 20 persen tidak layak direkonstruksi. Lebih-lebih jika tidak ada naskah arkeologi yang mendukungnya: hal ini dapat menyebabkan salah interpretasi terhadap kesejarahannya. Tapi arkeolog Uka Tjandrasasmita, penanggung jawab pemugaran Candi Cangkuang, punya alasan lain. Dia berpendapat, kendati temuan arkeologis di candi ini kurang dari 20 persen, batu-batu itu mewakili kaki, badan, dan kepala candi. "Sehingga, saat saya presentasikan tahun 70-an, candi itu amat mungkin dipugar," ujarnya. Nah, soal kandungan asli candi yang 20 persen itu, menurut Uka, hanya dapat diterapkan di Jawa Tengah, yang notabene punya ribuan candi. "Tapi ini (Candi Cangkuang) kan Jawa Barat, yang tak memiliki satu pun candi," Uka menegaskan. Arkeolog ini juga mengkaji buku notulensi Bataviasch Genootschap karya Vodermen sebelum memugarnya. Tak mengherankan jika Cangkuang kini lebih dikenal sebagai situs wisata daerah ketimbang situs arkeologi. Tak kalah parahnya adalah kisah pemugaran Candi Cetho di lereng Gunung Lawu di Jawa Tengah. Pada tahun 1980-an, candi ini dipugar berdasarkan wangsit almarhum Soedjono Hoemardani, salah satu asisten mantan presiden Soeharto. Dia memugarnya karena menganggap Cetho sebagai tempat bertapa yang sakral. Arca-arcanya diberi pelinggih ala Bali. Teras keempat, kelima, dan seterusnya diberi gapura bentar bergaya Bali. Berdasarkan catatan arkeologi Belanda, candi ini sejatinya memiliki 14 teras walau kini cuma tersisa tujuh. Menurut Lambang Babar Poernomo, Kepala BP3 Prambanan, Jawa Tengah, pemugaran yang salah ini menyebabkan hanya tiga teras yang tersisa, termasuk sebuah arca kura-kura ada di teras pertama. Kata Lambang, kacaunya pemugaran ini antara lain juga disebabkan tim pemugar tidak meminta izin ke Dinas Purbakala. "Mereka memugar tidak berdasarkan penelitian arkeologis," ujarnya kepada TEMPO. Pemugaran bangunan cagar budaya banyak yang tak sesuai dengan metode arkeologi. Padahal undang-undang menentukan bahwa jenis bangunan ini tak boleh diganti bentuk maupun warnanya. Kenyataannya? Bentuk dan fungsinya pun sering dikalahkan demi alasan wisata, wangsit, bahkan klenik. Misalnya, situs megalitik Panguyangan, Cisolok, Jawa Barat. Di situs zaman megalitik muda ini (2000 SM), punden berundak berubah fungsi menjadi tempat ziarah. Caranya, dengan membangun lantai plester dan pendapa di puncak punden. Mereka menganggap di sana ada makam Mbah Ceger Bumi. Padahal, menurut arkeolog UI, Hasan Djafar, pada tahun 1990-an, pendapa dan lantai plester itu belum ada. Lantai plester itu mengakibatkan tumpukan batu yang mereka anggap makam itu terkubur semen hingga setengahnya. Hasan menilai bangunan yang salah pugar berkurang nilai arkeologisnya karena tak bisa lagi dipelajari secara arkeologis. Tapi membongkarnya kembali pun tidak akan mudah. Situs Candi Cangkuang, misalnya. Pada pertemuan Tatar Sunda sekitar sebulan lalu, ada pembicaraan bahwa candi akan dibongkar. "Itu namanya pengkhianatan terhadap masyarakat Jawa Barat," ujar Uka kepada TEMPO. Tampaknya kontroversi ini akan terus berlanjut. Guru besar arkeologi UI, Profesor Mundardjito, menawarkan jalan keluar yang lebih masuk akal: setidaknya di Cangkuang ditancapkan plang yang menerangkan bahwa candi ini salah pugar. Endah W.S. (Jakarta), Bobby Gunawan (Cangkuang), Heru C. Nugroho (Cetho)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Gelar

Meninggal

Buku

Tiga Pilar Sebuah Gerakan

Catatan Pinggir

Poster

Fotografi

Jagat Perempuan dalam Jeruji Fotografi

Indonesiana

Duel Hakim Versus Panitera

Cubitan Bermasalah

Layar

Layar Masa Lalu yang Retak

Durga di Tangan 'Meneer'

Demi Wisata, Wangsit, dan Klenik

Ralat

Ralat

Tari

Kandas di Tengah Jelajah

TEMPO|interaktif

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif