• Home
  • 16 Juni 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juni 2003

    Menyerap 'Energi' Candi

    Cahaya matahari pelan lingsir ke ufuk barat. Seorang pria sepuh, Suprapto Suryodarmo, menaiki tangga Candi Sukuh. Setapak demi setapak ia berhenti sejenak di undakan memandang tajam setiap batu. Tatapannya seolah merasakan ada sesuatu yang tersembunyi di sana. Senja merah membiaskan warna keemasan pada lumut-lumut di atas trap candi itu. Gerakan pria sepuh berkuncir itu terasa intens. Sorot mata, gerak tangan, telengan leher, terasa akrab dengan keseluruhan batu. Sudah 30 tahun menggeluti Candi Sukuh, tapi ia tak pernah puas. Ia selalu datang dan datang lagi. Di kalangan kesenian kontemporer kita, ia sosok kontroversial. Ia bukan penari, tapi sejumlah penari datang kepadanya untuk merasakan pengalaman bergerak dalam ruang candi, mulai dari Borobudur, Sewu, sampai Sukuh ini. Para murid "bule"-nya berlatar belakang aneka ragam. Ada berlatar Jerman, ada pula Meksiko. Ada penari balet, dramawan, dalang teater boneka, penari Butoh, ahli yoga, master taichi, peniup saksofon, akupunkturis, fisiolog, dan lain sebagainya. Setelah latihan dengan Prapto, pasti semua merasakan ada yang "terbuka" pada tubuh mereka. Seorang pemain jazz Amerika pernah merasa improvisasinya semakin enteng, juga seorang fisiolog mengaku makin mudah menangkap ekspresi faal para pasiennya. Prapto bahkan pernah diundang ke Assisi, Italia, untuk mengajari meditasi gerak para biarawan. Apa yang sebenarnya diajarkan Prapto sehingga mereka merasa sangat berutang budi begitu? Menurut Prapto, ia menuntun mereka menemukan segi "kekosongan" candi. Kekosongan, kata Prapto, berbeda dengan sunyi atau sepi. Setiap orang yang datang kepadanya akan diajak mengelilingi bangunan candi, mengamati semua benda untuk mendapatkan energi "kekosongan" itu. "Biasanya saya mengajak berkeliling-keliling, mengamati, menghayati, membaca candi, yang membuat muncul gerakan spontan dari rasa inner kita," kata lelaki Buddhis itu. Prapto memahami bahwa candi juga memiliki hubungan dengan masa atau waktu. Dalam ruang candilah, menurut dia, masih mengalir atmosfer waktu alam, waktu kepurbaan alam raya, yang sedemikian dekatnya alam dengan tuhan dan manusia. Itu yang tidak dimiliki bangunan perkotaan. Di kota waktu berjalan linier. Ia mengajak para muridnya agar menemukan dan meleburkan diri dengan arus waktu alam itu. Setiap candi memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Dan Candi Sukuh, misalnya, diakuinya sebagai hal yang terberat. Candi Sukuh agaknya memang tempat favorit bagi seniman kita. Sosoknya seperti piramida terpancung, mengingatkan kita pada candi suku Maya di Amerika Latin. Di antara candi-candi kita, Sukuh sering diposisikan sebagai candi porno. Sebab, ada relief lingga dan yoni, serta sebuah patung dengan tangan kiri memegang penisnya. Saat penari Korea, Kan Manhoong, yang dikenal mendalami Zen, pada 1997 datang ke Indonesia dan mengajak kolaborasi para penari kita mementaskan Gora Goda—sebuah tari tentang erotisme—ia memilih latihan di Candi Sukuh. Gora Goda sebelumnya dipentaskan selama 10 hari di Teater La Mama, New York. Di candi mungil ini kemudian bersama penari Restu Imansari, Margesti, I Made Mariase, Tony W. Nasution, ia melakukan eksplorasi gerak. Mereka menunggu terang bukan untuk latihan. "Kan Manhoong menganggap aura Sukuh sangat berbeda dengan Candi Borobudur dan Prambanan. Tempatnya terpencil, udaranya dingin. Menurut dia, kondisi candinya sudah sangat meditatif," tutur Restu. Soal aura, tapi mungkin tak hanya Sukuh. Pernah di ketinggian Bukit Boko, dua kilometer selatan Candi Prambanan, serombongan penari Yogya membawakan Beksan Wahyu Syamika. Tatkala Kidung Sekar Agung Kilayunedheng, tembang di kalangan Keraton Yogya dan Solo yang dianggap sakral, mengalun lirih, bercampur suara sayup kereta api yang lewat tiap sepuluh menit di bawah, serta panorama di kejauhan menampakkan kerlap-kerlip kawasan candi Prambanan, tiba-tiba atmosfer sangat "bertenaga". Hal yang sama juga dirasakan tatkala beberapa seniman untuk pertama kali melakukan improvisasi di "bukit megalitik" Gunung Padang, Cianjur, Jawa Carat, sebulan lalu. Mereka yang datang di antaranya Rahman Sabur dan awak Teater Payung Hitam Bandung, Sudjiwo Tedjo, Dindon W.S., serta awak Teater Kubur. Saat Leo Kristi membawa gitar, dan bernyanyi di dataran bukit, seniman performance Agoes Jolly sengaja naik ke "bukit" dan mendengar nyanyian Leo dari balik bukit. "Ternyata akustik situs luar biasa, gemanya sampai jauh ke belakang dan jernih sekali," kata dia. Pendekatan para seniman terhadap candi juga tidak selalu sama seperti Suprapto Suryodarmo. Koreografer Mugiyono Kasido, misalnya, yang pernah belajar pada Suprapto Suryodarmo, kemudian memiliki pendekatan lain. Memasuki kompleks candi, Mugi, yang barusan mementaskan pertunjukan berjudul Mata Candi di Belgia, mengaku bukan menarikan apa yang ada di relief tetapi memadukan perbendaharaan gerak yang dimilikinya dengan apa yang dia lihat di candi. Suatu sore Mugiyono pernah mendapatkan pengalaman "magis". Sinar surya yang masuk ke makara menembusi celah-celah batu terasa sebagai lighting panggung yang tiada duanya. "File-file gerak yang saya miliki keluar dengan sendirinya ketika memasuki kompleks candi," katanya takjub. Teater Garasi dari Yogya, salah satu kelompok teater terkuat kini, juga memiliki pendekatan spesifik terhadap candi. Anggota Teater Garasi rata-rata anak urban yang sebelumnya banyak tak mengenal candi. Yudi Tajudin, sang sutradara, mengajak anggota Garasi ke Candi Cetho, Sukuh, Gedongsanga, Candi Kalasan, Plaosan. Di Sukuh, sekitar 500 meter sebelum sampai, ia menyuruh anggota teaternya memejamkan mata dan mencoba mencari jalan ke pusat situsnya. "Akhirnya bukan cuma mata, tapi semua indra mereka dipaksa mengidentifikasi situs," tuturnya. Merasa pengalaman pertama di Sukuh betul-betul membuka sensibilitas, anak-anak Garasi kemudian berhasrat memasuki medan candi yang lebih sulit. Mereka mencoba mendaki Gunung Penanggungan, malam hari. Tanpa pengalaman dan hanya berbekal informasi juru kunci yang sepotong di tengah gelap-gulita, mereka kesasar. "Ternyata kami tidak melalui jalur biasa. Kami menempuh jalur justru dari belakang. Kami harus melintasi tebing dengan pijakan kaki yang hanya 15-20 sentimeter, di punggung membawa carrier, sementara di kiri-kanan jurang dalam," tutur Yudi. Saat itulah ketahanan fisik mereka diuji. Dengan perasaan serba tak menentu, tapi para anggota teater merasa mengalami stimulasi imajinasi ruang. Ugoran Prasad, anggota teater yang juga novelis, misalnya, tiba-tiba merasa paham bagaimana bentuk ruang Setra Gandamayit. Padahal, pada hari-hari sebelumnya, ketika untuk keperluan skenario ia diharuskan membaca kisah-kisah Jawa, ia tak bisa membayangkan bagaimana medan kuburan ala fantasi Mahabarata Jawa itu. Candi bukan hanya menggembleng perasaan "ruang". Tapi arca-arcanya juga menjadi inspirasi bentuk properti pemanggungan. Arca-arca Buddha tanpa kepala di Borobudur, misalnya, pernah menjadi inspirasi utama tari solo Miroto, penari Yogya. Patung kura-kura besar, relief Garudeya, patung garuda mencengkeram gajah di Candi Sukuh, mengilhami bentuk topeng yang dipakai awak teater Garasi saat pementasan: Waktu Batu. "Kura-kura di Sukuh itu bahkan terlalu kuat kehadirannya, sehingga ketika ingin menyingkirkannya dalam berbagai improvisasi, ternyata dia terus-menerus muncul sehingga imaji kura-kura kita bawa ke panggung," kata Yudi Tajudin. Seno Joko Suyono, Dwi Arjanto, Heru C. Nugroho (Yogyakarta), dan Imron Rosyid (Solo)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Gelar

Meninggal

Buku

Tiga Pilar Sebuah Gerakan

Catatan Pinggir

Poster

Fotografi

Jagat Perempuan dalam Jeruji Fotografi

Indonesiana

Duel Hakim Versus Panitera

Cubitan Bermasalah

Layar

Layar Masa Lalu yang Retak

Durga di Tangan 'Meneer'

Demi Wisata, Wangsit, dan Klenik

Ralat

Ralat

Tari

Kandas di Tengah Jelajah

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Lady Gaga Batal Konser di Jakarta

Bisnis

Pengusaha Mineral Gugat Beleid Pungutan Bea Keluar

Bisnis

Anggarkan Rp 400 Miliar, Ramayana Buka 6 Gerai Baru

Nasional

Dua Sekolah Tidak Lulus Ujian Nasional 100 Persen

Seni & Hiburan

50/50, Kala Hidup Berubah 180 Derajat

Bisnis

Indonesia Kebal Krisis Eropa

Nasional

Hasil Ujian Nasional NTT Peringkat Terakhir Nasional

Nasional

Ruhut Minta Demokrat Pecat Thaib

Teknologi

Waspada, Blog Kini Jadi Sarana Penyebar Virus  

Nasional

Atasi Konflik, Jokowi Datangi Kasunanan Surakarta

Bisnis

Ini, Dua Syarat Untuk Tambahan Kuota BBM Subsidi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif