• Home
  • 16 Juni 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juni 2003

    Asap Tebal, Hutan Kembali Dibakar

    Gema Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni, belum sama sekali hilang ketika masalah perusakan lingkungan kembali mengusik sanubari kita. Terjadi di Riau, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah, dalam kenyataannya perusakan itu berupa pembakaran hutan besar-besaran, dilakukan dengan sengaja, tanpa upaya mengusut pelakunya, bahkan tanpa perhatian yang memadai dari pihak yang berwenang. Dalam dua pekan, jumlah titik api sudah mencapai sekitar 300 di Riau dan 75 di Kalimantan Tengah. Akibatnya, kabut asap semakin tebal, memperpendek jarak pandang, memedihkan mata, dan mengganggu pernapasan. Lebih dari itu, aktivitas penduduk terganggu, nelayan batal melaut, pesawat terbang berjam-jam menunda keberangkatannya, bahkan ada yang mengubah destinasinya. Pembakaran hutan dan kabut asap adalah dua hal berbeda yang erat berkaitan. Kabut asap tak akan ada kalau orang tidak sewenang-wenang membakar hutan. Aksi pembakaran hutan ini meningkat luar biasa sejak krisis moneter melanda Indonesia. Berawal pada tahun 1997 di Sumatera Selatan, wilayah yang hutannya dibakar meluas ke Riau, Jambi, Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, bahkan Maluku. Pada tahun 2002, aksi pembakaran lebih banyak terjadi di Jawa Barat. Sedangkan tahun ini pembakaran kembali mengganas di Riau dan Kalimantan. Dalang pembakaran hutan umumnya adalah pengusaha hutan tanaman industri dan industri perkayuan, yang bekerja sama dengan para tokoh lokal serta aparat setempat. Di negara maju, perbuatan seperti itu dikategorikan sebagai kejahatan terhadap lingkungan dan dibawa ke pengadilan. Tapi kita di Indonesia belum siap menerimanya sebagai tindak kriminal. Penggundulan hutan begitu saja dituduhkan pada otonomi daerah, yang katanya menyebabkan dualisme dalam kebijakan pengelolaan hutan. Selain itu, kelemahan dalam penegakan hukum telah dipertajam oleh kesulitan ekonomi, sehingga meniadakan pengawasan dan membuka peluang bagi pelaku pembakaran hutan. Penggundulan hutan dibiarkan terus berlangsung, padahal 40 persen dari total areal hutan sudah punah. Sungguh memprihatinkan. Tapi yang lebih memprihatinkan adalah sikap pemerintah yang terkesan tidak inovatif, juga tidak asertif. Selama lima tahun hampir tidak ada kemajuan berarti, baik dalam mencegah kebakaran hutan maupun dalam menangani kabut asap. Mungkin sekali penyebabnya adalah keterbatasan biaya. Tapi hal itu tentu tidak bisa dijadikan pembenaran untuk tidak bersikap dan tidak berinisiatif. Dalam hal ini bisa dikemukakan contoh penanganan kabut asap. Tanpa mengimpor teknologi, bahaya kabut bisa diatasi dengan menggunakan teknologi yang sudah dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (baca: Meminta Hujan Memadamkan Api). Namanya teknologi modifikasi cuaca. Kiatnya adalah menyiram-dari ketinggian tertentu-wilayah yang terbakar dengan kalsium monoksida yang kemudian berproses dan menghasilkan hujan. Hujan buatan ala BPPT ini menjadi inti dari pemadaman kebakaran hutan. Keberhasilannya sudah dibuktikan dua tahun lalu di Kalimantan. Biayanya juga tidak sangat mahal-sekitar Rp 800 juta. Masalahnya, mengapa teknologi itu tidak dipakai mengendalikan kobaran api di Riau dan Kalimantan? Wallahualam. Kita tidak tahu apakah Pemerintah Daerah Riau mengetahui adanya teknologi itu atau tidak. Namun, pemerintah pusat, yang tentu mengetahui, seharusnya mendukung pemakaian teknologi tersebut untuk mengatasi kebakaran. Melalui beberapa kali percobaan, kelak teknologi ini akan bisa lebih disempurnakan. Itulah yang terjadi di negara-negara maju. Dan proses itu biasanya sukses karena mendapat dukungan penuh pemerintah, dukungan yang ternyata langka sekali di negeri ini. Barangkali di situlah kunci masalahnya: pemerintah ada tapi seakan-akan tidak ada; bahkan, untuk memberi dukungan sekalipun, pemerintah nyaris tidak berdaya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Gelar

Meninggal

Buku

Tiga Pilar Sebuah Gerakan

Catatan Pinggir

Poster

Fotografi

Jagat Perempuan dalam Jeruji Fotografi

Indonesiana

Duel Hakim Versus Panitera

Cubitan Bermasalah

Layar

Layar Masa Lalu yang Retak

Durga di Tangan 'Meneer'

Demi Wisata, Wangsit, dan Klenik

Ralat

Ralat

Tari

Kandas di Tengah Jelajah

TEMPO|interaktif

Olahraga

Lawan Novara, Inter Milan Mainkan Stankovic  

Nasional

Jokowi Ternyata Rindu Didemo

Metro

Nyabu, Pegawai Kejaksaan Negeri Cibinong Ditangkap  

Metro

Penyerang Dua Polisi Bogor Tembakkan Pistol FN

Olahraga

Meski MU Menang, Alex Ferguson Tak Puas

Olahraga

Rooney Tertarik Jadi Kapten Inggris

Olahraga

Kalahkan Hong Kong, Indonesia Hadapi Thailand  

Seni & Hiburan

Panitia Grammy Ubah Acara Demi Whitney  

Nasional

Begini Ikrar Sumpah Pemuda Jilid II

Olahraga

Tim Thomas dan Uber Indonesia Bertemu Lawan Mudah  

Metro

Jakarta Utara Bangun Jalur Sepeda Pesisir 50 Km

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif