• Home
  • 16 Juni 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juni 2003

    Ketenaran dari Panggung Liga

    GADIS-gadis itu langsung mengerubungi Ali Budimansyah, 28 tahun, pemain basket asal Aspac Texmaco, Jakarta. Hidung mereka sepertinya sudah tercocok bulu hidungnya sendiri sehingga bau keringat yang menyembur dari tubuh guard Aspac itu tak lagi dipedulikan. Maklumlah, Rabu pekan silam, bersama teman-temannya, pemain yang bertinggi badan 180 sentimeter ini baru saja menyelesaikan pertandingan melawan klub anggota Liga Basket Indonesia lainnya, Kalila Jakarta, di Gelanggang Olahraga Bhinneka, Solo. Hasilnya mengecewakan. Mereka cuma bisa menang tipis, 54-52. Bahkan mereka hampir kalah. Tapi apa peduli anak-anak baru gede alias ABG itu? Belum sempat mengelap keringatnya, Ali pun terpaksa melayani keinginan mereka untuk sekadar berfoto-foto dan ketawa-ketiwi. Pemain Aspac lainnya, Deni Sumargo, juga dihadang cewek-cewek tepat di teras ruang ganti. Pemandangan lebih heboh terjadi di mulut lorong ruang ganti pemain. Belasan gadis remaja rela berjubel dengan notes di tangan dan sebatang pena untuk meminta tanda tangan para pemain klub jawara Kobatama tiga tahun berturut-turut itu. Kilatan lampu blitz dari kamera saku yang dibawa gadis-gadis remaja itu sesekali menyambar wajah beberapa pemain. Memang tak ada histeria seperti yang terjadi saat para ABG bertemu dengan penyanyi atau pemain sinetron. Tak ada adegan cup-cup muah atau peluk mesra. Namun, dibandingkan dengan antusiasme penggemar olahraga lainnya di negeri ini, yang terjadi di arena bola basket ini amatlah luar biasa. "Kami memang bukan artis, kami ini atlet. Tapi kalau menjadi public figure memang iya," ujar Deni Sumargo, 22 tahun, pebasket Aspac. Dalam beberapa tahun belakangan, sosok pemain bola basket tidak lagi sekadar menjadi bintang lapangan, mereka sudah menjelma menjadi selebriti. Hal itu terjadi karena olahraga ini dikemas menjadi sebuah bentuk hiburan dengan kekuatan dahsyat televisi yang mengantarkan mereka ke bilik-bilik ruang tamu keluarga. Meskipun begitu, prestasi olahraga basket sebenarnya tidak sekinclong ketenaran para pemainnya. Simaklah, di ajang SEA Games dua tahun lalu di Malaysia, mereka paling cuma menjadi juara kedua persis di bawah jagoan Asia Tenggara, Filipina. Ini pun merupakan prestasi paling tinggi yang diraih tim basket Indonesia lewat penggemblengan Kobatama, sebelum akhirnya diganti dengan liga basket. Menurut I Made Sudiadnyana alias Lolik, pemain senior Bhinneka Sritex Solo yang juga langganan tim nasional, kemampuan pemain basket Indonesia sebenarnya tidaklah buruk, sekalipun dibandingkan dengan pemain Filipina. "Kendalanya, kita kalah dalam hal power dan speed. Kena senggolan sedikit saja pemain kita sering terjatuh," katanya. Barangkali dengan berputarnya Liga Bola Basket Indonesia (LBI), kendala itu bisa ditekan, walau masih terlalu pagi untuk sesumbar. Soalnya, liga ini pun baru berjalan dalam dua putaran. Pertama akhir Mei lalu di Bandung, dan pekan lalu di Solo. Jadi, mohon maaf, hasil kompetisi ini belum ketahuan. Yang jelas, tujuan liga ini tak lain biar prestasi olahraga ini makin menjulang. Lihatlah format yang dipakainya, meniru persis kompetisi bola basket bergengsi di Amerika Serikat, NBA. LBI juga bersifat profesional, yang diikuti 10 klub bekas anggota Kobatama, yang ditangani sebuah badan tersendiri. Tiap-tiap klub anggota diwajibkan membayar uang jaminan sebagai bentuk ikatan dengan LBI. Dan yang penting, LBI tidak mengenal lagi babak promosi-degradasi seperti yang terjadi di Kobatama. Tiap klub pun bisa mengumpulkan sponsor tanpa dibatasi aturan seperti yang terjadi pada era Kobatama. Dampaknya buat pemain? Jelas liga basket memberikan peluang pada para pemainnya untuk menjadi yang terbaik. Bagi Ali Budimansyah, lapangan basket telah menjadi semacam panggung bagi dirinya. "Selain olah raga, basket di Indonesia kan telah menjadi hiburan. Konsekuensinya, kami sering mendapat sorotan dari penonton," katanya. Selain menangguk popularitas, Ali dan kawan-kawannya juga mendapat fulus yang lebih baik. Penghasilan mereka tiap bulannya memang bikin ngiler. Ali, misalnya, mengaku memperoleh Rp 27,5 juta setiap bulan. Angka itu baru dari gajinya sebagai pemain Aspac Texmaco, belum termasuk uang tambahan dari sponsor. "Kontrak saya dengan Aspac Rp 100 juta per tahun, dengan sponsor Adidas Rp 20 juta per tahun, belum termasuk perlengkapan seperti sepatu dan kaus-celana olah raga," tuturnya terus terang. Angka itu hanya milik pemain papan atas. Tapi pemain papan bawah kondisinya tak terlalu buruk. "Penghasilan pemain basket sekarang lumayan bagus, rata-rata di atas Rp 3 juta untuk pemain pemula," kata Ali. Untuk seorang bujangan seperti Rony Gunawan, 23 tahun, gaji Rp 3 juta sudah cukup. Malah, pemain CLS Surabaya ini masih bisa menabung. "Sebagian saya sisihkan untuk keperluan yang lebih bermanfaat, misalnya untuk biaya kuliah," tuturnya. Selebihnya, duit itu masih cukup untuk dipakai sekadar mentraktir pacarnya menonton film di gedung bioskop Plaza Tunjungan, dengan menunggang motor bebek hasil jerih payahnya bermain basket. Ke mana pun pergi, Rony, yang bertinggi badan sekitar 193 sentimeter ini, selalu menarik perhatian orang. Wajah tampan anak muda asal Samarinda ini juga membuat banyak gadis tergila-gila. Tak mengherankan, pada saat-saat santai-ketika tak ada pertandingan-ia sering diserbu cewek untuk minta tanda tangan. Tak sedikit pula yang menghubungi melalui telepon untuk ngobrol. "Tapi semua masih dalam tahap wajar," katanya jujur. Ketenaran dan kecukupan materi sepertinya menjadi jaminan hidup bagi pemain basket di Indonesia. Deni Sumargo dan Ali Budimansyah tak menampik, basket telah pula menyeret mereka ke dunia yang gemerlap. Saat tak ada latihan, mereka sering kongko bareng di tempat-tempat hiburan. Ali, misalnya, tiap akhir pekan memilih nongkrong di kafe di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. "Kalau pas libur, paling jalan-jalan ke kafe sama teman-teman, biasanya saya dengan Gepeng (Romy Candra, rekannya sesama pemain Aspac)," tutur Ali. Deni pun mengakui, statusnya sebagai pemain basket juga membuat kenal dengan kalangan selebriti. Ia sering diajak oleh temannya yang menjadi model dan artis sinetron untuk pergi bersama. "Tapi itu hanya sebatas kenal. Kalau diajak jalan-jalan, ya mau, dan biasanya ramai-ramai," ujarnya. Tapi kalau keterusan hingga pacaran pun tak ada yang melarang. Ali, misalnya, pebasket nasional ini, akhirnya pernah kepincut pada artis sinetron Ira Riswana. Untunglah, anak-anak muda ini cukup sadar diri. Bagaimanapun, rezeki dari dunia olahraga tak akan bisa mengalir terus sampai tua. Itu sebabnya Rony Gunawan memandang olahraga ini lebih sebagai tempat penyaluran hobi sekaligus sarana untuk mencari koneksi. "Setelah lulus kuliah nanti, saya mungkin akan berhenti jadi pemain. Saya ingin merintis karier sebagai pengusaha. Yang penting punya usaha sendiri," katanya optimistis. Rupanya bukan cuma Rony yang menyiapkan hari tuanya. I Made Sudiadnyana alias Lolik pun berpikiran tak selamanya bisa hidup dari basket. Karena itu, pemain Bhinneka Sritex Solo ini mulai membangun masa depan di kampung halamannya. "Saya sedang membuat rumah di Singaraja, Bali, dekat rumah orang tua," katanya. Rumah inilah yang akan menjadi tempat setelah dirinya tak lagi bermain basket. Untuk itu, dia sudah menyiapkan tanah 400 meter persegi. Dalam bayangannya, kelak dia akan beternak ayam atau ternak lainnya. Hal serupa juga dilakukan Ali. Dia mengaku menginvestasikan uangnya di kampung halamannya. Di atas tanah seluas 10 hektare di Padang yang dibelinya beberapa tahun silam, dia membuat peternakan kambing dan kerbau yang dikelola salah seorang familinya. "Kecil-kecilan. Saudara saya yang memelihara. Nanti kalau pas lebaran haji dijual. Keuntungannya lumayanlah," katanya sambil tertawa. Ali dan rekan-rekannya tampaknya paham betul, tak selamanya bintang mereka akan benderang dan rezeki selalu gampang datang. Irfan Budiman, Imron Rosyid (Solo), Kukuh S.Wibowo (Surabaya)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Gelar

Meninggal

Buku

Tiga Pilar Sebuah Gerakan

Catatan Pinggir

Poster

Fotografi

Jagat Perempuan dalam Jeruji Fotografi

Indonesiana

Duel Hakim Versus Panitera

Cubitan Bermasalah

Layar

Layar Masa Lalu yang Retak

Durga di Tangan 'Meneer'

Demi Wisata, Wangsit, dan Klenik

Ralat

Ralat

Tari

Kandas di Tengah Jelajah

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Lady Gaga Batal Konser di Jakarta

Bisnis

Pengusaha Mineral Gugat Beleid Pungutan Bea Keluar

Bisnis

Anggarkan Rp 400 Miliar, Ramayana Buka 6 Gerai Baru

Nasional

Dua Sekolah Tidak Lulus Ujian Nasional 100 Persen

Seni & Hiburan

50/50, Kala Hidup Berubah 180 Derajat

Bisnis

Indonesia Kebal Krisis Eropa

Nasional

Hasil Ujian Nasional NTT Peringkat Terakhir Nasional

Nasional

Ruhut Minta Demokrat Pecat Thaib

Teknologi

Waspada, Blog Kini Jadi Sarana Penyebar Virus  

Nasional

Atasi Konflik, Jokowi Datangi Kasunanan Surakarta

Bisnis

Ini, Dua Syarat Untuk Tambahan Kuota BBM Subsidi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif