GAGAL jadi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Bachtiar Chamsyah malah membuat pernyataan panas. Kader PPP yang Menteri Sosial ini mempersilakan para anggota Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi)-salah satu organisasi yang berfusi ke PPP-memilih partai lain di luar PPP dalam Pemilihan Umum 2004.
Pernyataan ini menjadi kontroversi, karena Bachtiar sendiri adalah Ketua Umum Parmusi. Terang saja, ia menuai protes dari dalam Parmusi sendiri. Ketua Parmusi, Rachman Sadaf, menganggap Bachtiar mengingkari sejarah, tak paham anggaran dasar Parmusi, dan mengingkari komitmennya sendiri.
Ia menilai, kisruh ini bermula dari gagalnya Bachtiar terpilih sebagai Ketua Umum PPP menggantikan Hamzah Haz pada Muktamar V PPP, Mei lalu. Akibatnya, katanya, Bachtiar merajuk.
Namun, Bachtiar sendiri membantah pernyataannya itu sebagai usulan. Kepada Fitri Oktarini dari Tempo News Room Kamis pekan lalu, ia mengatakan secara konvensi Parmusi memang menyalurkan aspirasinya ke PPP. Tapi ia juga tidak bisa memaksa bila anggotanya memilih partai lain. "Itu pekerjaan wartawan yang pandai bertanya," katanya, "Apa alat paksa saya? Sebab, orang memilih kan sesuai dengan nurani."
Tomi Lebang, Deddy Sinaga (Tempo News Room), Kukuh S. Wibowo (Surabaya), Mahbub Djunaidy (Lumajang), Fadilasari (Lampung)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

