• Home
  • 07 Juli 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Iqra
  • Seni
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 07 Juli 2003
    Indosat

    Pesta di Kala Paceklik

    RAPAT umum pemegang saham Indosat yang semula berjalan tertib mendadak gaduh ketika seorang pemegang saham mengajukan pertanyaan yang menggelitik. "Memang operasinya berjalan lancar, tapi bagaimana jika pasiennya jadi koma?" katanya. Pertanyaan itu menanggapi keputusan rapat yang menyetujui rencana pembagian bonus tahun 2002 dan remunerasi (gaji dan tunjangan) tahun 2003 kepada direksi dan komisaris sebesar Rp 36,46 miliar. Sebagian yang hadir dalam rapat yang berlangsung pada Kamis dua pekan lalu itu kontan tertawa, sedangkan sebagian lagi tersenyum kecut. Yang dimaksud operasi dalam pertanyaan pemegang saham tadi tak lain adalah divestasi 42 persen saham pemerintah di Indosat. Meski sempat diprotes sebagian karyawan dan sejumlah tokoh Indonesia, penjualan mayoritas saham pemerintah kepada Singapore Technologies Telemedia, Singapura, memang berjalan lancar. Saham pemerintah sudah berpindah tangan dan rapat pemegang saham tadi adalah yang pertama di bawah kendali ST Telemedia. Tapi benarkah Indosat kini sedang koma? Pemegang saham tadi bisa jadi berlebihan. Kondisi Indosat masih segar bugar. Selama triwulan pertama 2003, perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia itu mampu membukukan laba bersih Rp 53,75 miliar. Tapi, apakah dengan laba sebesar itu Indosat layak membagikan remunerasi sampai Rp 33 miliar, itu yang jadi soal. Jumlah itu kira-kira sama dengan 10,5 persen laba bersih yang ditargetkan Indosat pada tahun ini, sebesar Rp 314 miliar. Bandingkan misalnya dengan laba bersih pada tahun 2001, yang mencapai Rp 1,45 triliun. Ketika itu, remunerasi yang diterima direksi dan komisarisnya cuma Rp 10 miliar-tak lebih dari satu persen. Susahnya, kinerja keuangan Indosat terus memburuk dalam tiga tahun terakhir. Pendapatannya terus menurun. Begitu pula perolehan labanya. Pada tahun 2000, misalnya, Indosat berhasil membukukan laba bersih Rp 1,64 triliun. Bisnis utama Indosat, sambungan langsung internasional (SLI), sudah mengecil, sementara bisnis selulernya melalui Satelindo dan IM3 masih belum mampu menyaingi Telkom, yang memiliki Telkomsel. Agustus nanti, Telkom sudah mendapatkan lisensi SLI. Dengan basis pelanggan lebih dari 5 juta, Telkom akan dengan mudah melibas Indosat, yang cuma punya pelanggan tak lebih dari 20 ribu di bisnis ini. Analis telekomunikasi Danareksa, Joshua Tanja, memperkirakan pendapatan Indosat bakal turun pada tahun ini karena keluarnya izin SLI Telkom. Bisa jadi angkanya akan lebih kecil dari target Indosat. Data yang diperoleh TEMPO memang menunjukkan indikasi penurunan pada triwulan pertama tahun ini. Bisnis seluler yang kini menjadi andalan Indosat mulai kedodoran melawan Telkomsel. Pada Januari lalu Satelindo masih menguasai 27 persen pasar dan pada Maret lalu tinggal 26,2 persen. Sebaliknya, pasar Telkomsel justru naik dari 52 persen menjadi 52,9 persen. Pada saat yang sama, pendapatan seluler Indosat lebih rendah 20 persen dari yang ditargetkan. Tak aneh jika pemegang saham waswas. Dan karyawan pun ikut terkaget-kaget mendengar bagi-bagi tunjangan yang sangat besar itu. Dengarlah apa yang dikatakan Tris Budi Suroso, Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Indosat. "Tiga tahun terakhir ini, sebagian karyawan tidak pernah mendapatkan kenaikan gaji," katanya. Para karyawan bisa menerima keputusan itu karena keuntungan Indosat memang terus menurun. Tapi kali ini mereka mempertanyakannya. Apalagi rapat pemegang saham kali ini juga dilaksanakan di sebuah ruang pertemuan yang lumayan mahal di Plaza Bapindo. Pada tahun-tahun sebelumnya, rapat dilaksanakan di kantor Indosat. "Kami cuma ingin manajemen bersikap adil," kata Tris. Juru bicara Indosat, Indar Atmanto, menolak berbagai kekhawatiran tadi. Menurut dia, kinerja Indosat pada tahun ini tidak akan menurun. Lihat saja pendapatan Indosat pada triwulan pertama 2003, yang mencapai Rp 1,9 triliun atau naik 27 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2002. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga naik 22 persen menjadi Rp 1 triliun. Indosat pun tak khawatir terhadap Telkom yang akan segera masuk ke bisnis SLI. Soal remunerasi yang dianggap kelewat besar, Indar cuma menjawab, "Besar atau kecil itu relatif." Memang, angka itu bisa sangat besar jika kinerja Indosat ternyata menurun. Sebaliknya, bisa jadi angka itu kecil kalau Indosat membaik. Iwan Setiawan

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Pelantikan

TEMPO DOELOE

Buku

Buku Pintar Kutu Buku

Membukukan 'Kaki Langit'

Catatan Pinggir

Titanic

TEMPO|interaktif

Internasional

Calon Presiden Ikhwanul Muslimin Unggul  

Pemerintah Tegal Buat Album Khas Pantura  

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ancam Batalkan Konser di Jakarta

Bisnis

Pengusaha Mineral Gugat Beleid Pungutan Bea Keluar  

Bisnis

Anggarkan Rp 400 Miliar, Ramayana Buka 6 Gerai Baru  

Nasional

Dua Sekolah Tidak Lulus Ujian Nasional 100 Persen  

Seni & Hiburan

50/50, Kala Hidup Berubah 180 Derajat  

Bisnis

Indonesia Kebal Krisis Eropa  

Nasional

Hasil Ujian Nasional NTT Peringkat Terakhir Nasional  

Nasional

Ruhut Minta Demokrat Pecat Thaib

Teknologi

Waspada, Blog Kini Jadi Sarana Penyebar Virus  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif