Tender CPO buat Sukhoi
TAK ada pertarungan hebat seperti dibayangkanorang. Selasa pekan lalu, Perum Bulog mengumumkan hasiltender pengadaan minyak sawit (crude palmoil) dan minyak hasil olahan (refinedbleached deodorized-RBD) senilai US$ 15 juta. Dua komoditas ini merupakan pembayaran tahap pertama proyekimbal dagang pembelian pesawat tempur Sukhoi dariRusia seharga US$ 155,9 juta.
Dan pemenangnya adalah PT Multimas NabatiAsahan. Dua pesaing lain, PT Kurnia Praya Sukses dan PTAida KM, nyaris hanya jadi pelengkap. Multimas adalahanak perusahaan PT Bukit Kapur Reksa, produsen danpengolah minyak sawit di Sumatera serta pengelolapabrik minyak goreng "Sania".
Semula tender akan diputuskan dua minggu lalu.Namun, apa lacur, hanya sebiji perusahaan yangmemasukkan penawaran, PT Multimas itu. Karena itulah Bulogterpaksa menundanya.
Tapi tak ada yang aneh dengan menangnyaMultimas, kata Ketua Pelaksana Harian Unit Imbal Dagang Bulog,Johan Yudha Santosa. Perusahaan itu menyodorkanharga terendah, US$ 412 per ton untuk RBD dan US$ 360untuk minyak sawit. Soal kenapa sedikit yang berminat,Johan mengatakan instansinya telah mengundang 37perusahaan, tapi memang cuma tiga itulah yang datang.
Di mata pengamat komoditas dari lembaga kajianIndef, Fadhil Hasan, sepinya peminat tender membuktikanbahwa Bulog tak berpengalaman dalam imbal dagang."Buktinya, peserta tender hanya tiga. Itu pun hanya satuyang produsen, dua lainnya cuma pedagang," ujarnya.Gejala itu mestinya sudah bisa diprediksi, karena sawitmerupakan komoditas yang mudah dijual. "Tidak perlu imbaldagang, pembelinya sudah antre," kata Fadhil.
Juragan Baru 'TPI'
Ambisi Bimantara Citra menguasai bisnis televisitak berhenti di RCTI dan Global TV. Senin pekan lalu,perusahaan yang didirikan oleh Bambang Trihatmodjoitu mengumumkan bahwa Bimantara akan menjadi pemegang saham mayoritasPT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia, pemilik stasiuntelevisi TPI-yang dibangun oleh Siti HardijantiRukmana. "Kami akan menguasai lebih dari 50 persen sahamTPI," ujar Diono Nurjadin, Direktur Keuangan Bimantara.
Bimantara berhasil menguasai saham mayoritasTPI setelah anak perusahaannya, PT Berkat AnakBersama, membeli obligasi konversi TPI senilai US$ 150 juta dariPT Indonesia Satellite Corporation (Indosat). Menurutperkiraan Indosat, obligasi yang beralih tangan itu setaradengan 30 persen saham di Cipta Televisi. Namun Dionobelum bersedia menyebutkan berapa angka kepemilikan pastiBimantara di TPI. "Masih dibahas karenapengambilalihan ini kami lakukan bersama investor lain," kata Diono.
Sebelum mengambil alih TPI, Bimantara telahmenguasai 70 persen saham RCTI dan 100 persensaham Global TV. Sementara itu, kepemilikan 25 persensaham di Metro TV telah dilepas Bimantara ke PT PancasaktiSelular. "Sekarang ini cukup tiga dulu," ujar Diono.Untuk mengelolanya, Bimantara akan membentuksubholding di bisnis media.
Jatah Exxon di Cepu
BAIHAKI Hakim, Direktur Utama Pertamina,tersenyum lega. Exxon-Mobil Oil Indonesia akhirnyamenyetujui pola kerja sama yang diajukan Pertamina dalamnegosiasi perpanjangan kontrak pengelolaan kilang minyakdi Cepu, Jawa Tengah. "Masalah Cepu sudah adakemajuan. Kami telah setuju pola kerja samanya," kata Baihakikepada pers, Selasa pekan lalu.
Pola yang dimaksud adalah kontrak kerja samakhusus (KKSK). Dengan begitu, besar kemungkinan Exxonbakal mendapat perpanjangan hak pengelolaan,mengingat raksasa minyak asal AS itulah yang paling mengenalpotensi kilang Cepu.
Selama ini negosiasi Exxon-Pertamina nyaris macet.Setelah ditemukan deposit minyak baru di Cepu sebesar 770juta barel pada 2001 lalu, Exxon yang telah mengantongilisensi hingga 2010 minta perpanjangan hingga 2030dengan pola kontrak lama, technical assistance contract(TAC). Hal itu jelas ditolak Pertamina. Mengacu keUndang-Undang Migas No. 22/2001, Pertamina berpandangan kontrakharus dibuat dengan model semacam KKSK.
Berdasarkan perjanjian TAC, keuntungan dibagidengan persentase 65 persen pemerintah, 20 persenExxon, dan 15 persen Pertamina. Sedangkan menurutkonsep KKSK, Pertamina akan mendapat jatah lebih besar. Diluar porsi pemerintah yang 65 persen itu, pendapatanakan dibagi dengan proporsi 60 persen untuk Pertaminadan 40 persen untuk Exxon.
Utang IMF
Barisan penentang keputusan pemerintah yangmemilih post monitoring program (PPM) bertambah.Adalah MPR dan DPR yang minta agar Indonesiamempercepat pelunasan utang Indonesia kepada IMF tanpamengikuti PPM. Ketua Panitia Anggaran DPR, Zainie Abdullah,misalnya, mengusulkan agar Indonesia bisa mempercepatpembayaran utang IMF setidaknya US$ 2 miliar pertahun mulai tahun depan. Dengan begitu, pada 2006 utangIndonesia kepada IMF sudah sesuai dengan kuota yangada. "Pada saat itu, Indonesia sudah bisa menjadi anggotabiasa IMF," katanya.
Namun pemerintah terlihat bergeming mendengar usulitu. Ketua tim exit strategy pemerintah, JannesHutagalung, menyatakan sulit bagi Indonesia untuk mempercepatpembayaran utang kepada IMF pada tahun 2004."Karena Rancangan APBN 2004 disusun berdasarkan asumsipembayaran utang ke IMF dilakukan sesuai denganjadwal," ujar Jannes kepada Tempo NewsRoom. Kendati demikian, jika perekonomianIndonesia terus membaik, kata Jannes, tidak tertutupkemungkinan Indonesia mempercepat pelunasan.
KPPU Denda Garuda
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mendenda Garuda Indonesia Rp 1miliar. Dalam keputusan yang dikeluarkan Senin pekanlalu, perusahaan penerbangan terbesar di Indonesia itu jugaharus membatalkan kerja samanya dengan AbacusIndonesia dalam pendistribusian tiket. Menurut Ketua KPPU, M.Iqbal, Garuda terbukti melanggar UU No. 5/1999tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan UsahaTidak Sehat.
Menurut KPPU, Garuda melanggar undang-undang tersebut karena kerjasamanya dengan Abacus Indonesia telah menyebabkanterjadinya monopoli penjualan tiket Garuda. Dalam kontrakitu disebutkan bahwa pendistribusian tiket Garuda mestidilakukan melalui terminal Abacus. Akibatnya,semua agen penjualan tiket Garuda harus menggunakanterminal yang sama. "Kami sedang mempelajari keputusanKPPU. Kami juga akan mengajukan keberatan atassanksi tersebut," kata Pujobroto, juru bicara Garuda.
Jepang Bantu Juanda
Proyek perluasan Bandar Udara Juanda, Surabaya,yang sempat terkatung-katung, kini sudah bisa diteruskan.Kelanjutan proyek ini makin jelas setelah pemerintahJepang membantu pendanaannya. Jumat pekan lalu,pemerintah Jepang setuju memberikan pinjaman 15 miliar yenatau sekitar Rp 1,06 triliun untuk Surabaya AirportConstruction Project II. Penandatanganan nota kesepakatanini dilakukan Duta Besar Jepang untuk Indonesia, YutakaLimura, dan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan AfrikaDepartemen Luar Negeri Indonesia, Makarim Wibisono.
Nantinya, pinjaman Jepang itu akan dipakai untukmembangun terminal penumpang, kargo, menara kontrol,perpanjangan apron, serta modernisasi fasilitas sistemnavigasi. Proyek perluasan Bandara Juanda itumerupakan satu dari empat proyek yang disetujui pemerintahJepang lewat paket pinjaman khusus senilai US$ 1,13 miliar.Proyek lainnya adalah pemipaan gas SumateraSelatan-Jawa Barat, Pembangkit Listrik Tenaga Gas Muara Karang,dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Muara Tawar.
Astra Mengikis Utang
JIKA tak ada aral melintang, September nanti PT Astra Internasional Tbk. akan kembali mencicil US$ 118,65 juta guna mengikis gunungan utangnya. Rabupekan silam Presiden Direktur Astra, Budi Setiadharma, menjelaskan bahwa duit untukitu diambil dari hasil penjualan 46 persen saham Toyota Astra Motor (TAM) kepadaToyota Motor Corporation senilai US$ 226 juta. Sebelumnya, padaMaret dan Juni lalu, Astra sudah mencicil US$ 21,74 jutadan Rp 27 miliar. Selain itu, perusahaan tersebut jugatelah membeli kembali utangnya sejumlah US$ 113,53juta dan Rp 7,67 miliar.
Dengan itu semua, ditambah pembayaran rutin, utangperusahaan otomotif terbesar di Republik ini pada September nantidikalkulasi "tinggal" US$ 422,1 juta plus Rp605,34 miliar-dari total kewajiban sebesar US$ 1,1 miliarper tahun 1999. Sehingga, kata Budi berharap, Astrabisa segera mendapatkan release date, terbebas darisejumlah pembatasan yang kini ketat dikenakan olehpihak kreditor.
Harapan Budi terdongkrak dengan terus naiknya keuntungan divisi otomotif, jasa keuangan, dan agrobisnis mereka. Di semester satu tahun ini, Astra membukukan kenaikan laba operasional konsolidasi 27,8 persen atau Rp 1,67 triliun, seiring melonjaknya pendapatan perusahaan sebesar 2,9 persen atau senilai Rp 15,7 triliun.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo"
Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9.
Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486 Download versi digitalnya : Terima Kasih.
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
