• Home
  • 25 Agustus 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
  • Arsip
  • 25 Agustus 2003

    Melawan Si Penendang Tangga

    Kicking Away The Ladder: Development Strategy in Historical Perspective
    Penulis :Dr. Ha-Joon Chang
    Penerbit :Anthem Press, London, 2002

    Ekonom Jerman abad ke-19, Friedrich List, memiliki ilustrasi karikatural tentang peran badan keuangan internasional IMF di Dunia Ketiga. Menurut List, jika negara berkembang adalah seseorang yang menaiki tangga ke satu puncak bangunan, negara maju adalah orang yang menendang tangga itu hingga jatuh. Selain IMF, si penendang tangga itu adalah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Bank Dunia—lembaga yang memegang monopoli untuk menentukan "baik" dan "buruk"-nya kebijakan ekonomi di suatu negara.

    Ilustrasi tadi dipakai oleh Dr. Ha-Joon Chang, Asisten Direktur Studi Pembangunan Universitas Cambridge, Inggris, dalam buku Kicking The Ladder. Setelah pemenang Nobel dan mantan Wakil Presiden Bank Dunia Joseph Stiglitz dalam bukunya Globalization and Its Discontent, kini giliran Chang yang menelanjangi bias praktek kebijakan badan ekonomi dunia di negara berkembang.

    Pandangan Chang didasari oleh teori proteksi industri muda (infant industry)—belakangan teori ini dikembangkan oleh Friedrich List—tentang kebijakan pasar bebas Inggris atas Amerika Serikat dan Jerman. Menurut List, Inggris sebenarnya telah "menendang tangga" yang ia panjat sebelumnya untuk mencapai supremasi ekonomi.

    Pendekatan kesejarahan yang digunakan Chang menunjukkan bahwa hampir semua negara maju pernah memproteksi dan mengintervensi ekonomi negara mereka melalui kebijakan industrial, perdagangan, dan teknologi—sesuatu yang kini dianggap tercela pada era perdagangan bebas.

    Banyak pihak yang tidak menyadari bahwa insitusi yang kini disyaratkan oleh WTO, IMF, ataupun Bank Dunia sebelumnya juga tidak dimiliki oleh negara-negara maju pada waktu mereka masih berkembang. Di AS, misalnya, demokrasi formal baru dicapai pada 1965 dengan diberlakukannya peraturan yang memungkinkan warga kulit hitam AS ikut pemilu tanpa khawatir dibatasi oleh undang-undang negara bagian (hlm. 74).

    Di tengah kontroversi mengenai perpanjangan kontrak Indonesia dengan IMF, terasa penting menelusuri kebijakan-kebijakan IMF kepada pemerintah Indonesia. Benarkah paket reformasi yang berada di dalam "koper" IMF akan membawa Indonesia keluar dari krisis? Betulah kita perlu "lulus" dari sekolah IMF? Menurut Dr. Chang jawabnya adalah tidak.

    Roysepta Abimanyu, staf Indonesian Centre for Reform and Social Emancipation, Jakarta.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penobatan

Abdurrahman Wahid

Buku

Sampul 'Time' Setelah 26 Tahun

Doktrin Usang Pembangunan Industri

Melawan Si Penendang Tangga

Catatan Pinggir

Techne

Seni Rupa

Pak Dirman, Selamat Pagi

Mengapa Bukan Korban Semanggi?

Televisi

Empat Sutradara di Hari Jadi

TEMPO|interaktif

Nasional

Serbuan Massa ke Ibas Urusan Polisi, Bukan BIN

Gaya Hidup

Ibu Hamil, Gamelan Lebih Mutlak Dibanding Mozart  

Nasional

LSM Granat Gugat Grasi Corby Pekan Depan  

Olahraga

Fakta Menarik Athletic Bilbao vs Barcelona  

Internasional

Amerika Potong Bantuan ke Pakistan  

Sudah 3.500 Pekerja Wisata Solo Tersertifikasi  

Nasional

SBY Berikan Keterangan Tentang Mobil Listrik  

Nasional

BNPT: 15 Provinsi Masih Rawan Terorisme  

Nasional

Keracunan Kacang Hijau, 6 Balita Kritis

Seni & Hiburan

Promotor Bantah Lady Gaga Batalkan Konser Jakarta  

Nasional

Pendukung Keistimewaan Yogyakarta Siap Hadang SBY  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif