• Home
  • 25 Agustus 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
  • Arsip
  • 25 Agustus 2003

    Merdeka di Nusakambangan

    Ngebor teruuuus...!" teriak mereka saat penyanyi itu bergoyang erotis sambil menyanyi lagu Sinden Panggung. Seorang melepas baju memperlihat tato di sekujur tubuhnya, matanya merem-melek, tangannya pun mulai jail mencoba memegang bokong si penyanyi. Sambil bergoyang, kawan-kawannya ikut menyemangati, "Teruskan, Bleh." Tapi penyanyi itu tampak biasa menghadapi aksi nakal bekas begundal, bromocorah, dan penjahat kelas kakap itu. "Mereka sudah jinak kok, Mas," ujar penyanyi itu. Hiburan organ tunggal dengan perempuan seksi yang menyanyikan lagu-lagu dangdut itu adalah salah satu upaya pembinaan yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Batu, Nusakambangan, untuk mengisi acara HUT Kemerdekaan RI ke-58. Mantan bromocorah, pengedar narkoba, dan penjahat kelas kakap itu adalah para penghuni Penjara Batu di Nusakambangan yang terkenal keangkerannya. Kita tentu masih ingat nama seperti Kusni Kasdut, penjahat kawakan yang sempat mendekam di sana sebelum dieksekusi, atau Johny Indo, narapidana yang kisah pelariannya difilmkan. Mereka memang selebriti jebolan Nusakambangan. Tapi, dengan hadirnya dua narapidana "intelektual", wajah Nusakambangan, khususnya Penjara Batu, mulai berubah. Penjara angker itu kini menjadi tempat menyenangkan. Keduanya siapa lagi kalau bukan bekas Menteri Perindustrian dan Perdagangan 'Bob' Hasan, dan putra kesayangan mantan presiden Soeharto, Hutomo "Tommy" Mandala Putra. Pada peringatan hari kemerdekaan RI tahun ini, pemerintah memberikan tambahan remisi kepada keduanya karena dianggap ikut membina penghuni LP yang lain. Lihatlah bagaimana akrabnya Kepala Pengamanan Penjara Edi Wahyu saat menggandeng sang "Raja Hutan" menuju selnya setelah mengikuti upacara. Bob sangat disegani semua pegawai dan penghuni Penjara Batu karena kedermawanannya merenovasi fasilitas seperti masjid, sel penjara, kamar mandi, kakus, lapangan voli, basket, dan sepak bola. Para napi bisa menikmati siaran televisi juga karena Bob. Perlakuan khusus diberikan pula kepada Tommy. Ketika semua penghuni penjara memakai kaus biru bertuliskan "Warga Binaan Lapas Batu Nusakambangan" saat upacara, Tommy cukup menggunakan kaus warna senada dengan tambahan topi biru bertuliskan "Grup Humpuss" dan inisial namanya HMP di sisi kiri dan kanan. Begitu upacara selesai, empat petugas dengan ramah mengantarnya menuju sel. Tommy, yang 16 Agustus lalu genap setahun menjalani masa tahanan, juga tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM di Nusakambangan. Penghuni penjara lainnya tentu tidak mendapat perlakuan istimewa. Tapi mereka ikut merasakan manfaat kehadiran kedua napi itu. "Pokoknya, sejak kedatangan bos tua dan bos muda, hidup kami di sini lebih bergairah, Mas," ujar salah satu penghuni penjara yang berjumlah 220 orang itu?enam di antaranya "camat" (calon mati) dan lima berpredikat SH (seumur hidup). Selain perbaikan segala fasilitas, keterampilan juga diajarkan, seperti membuat batu cincin dan menjahit. Bahkan batu cincin kini jadi komoditas andalan pulau penjara itu. Soal menjahit, jangan heran jika napi yang rata-rata tangannya dipenuhi tato itu ternyata kini lincah bergerak saat memadukan potongan kain di mesin jahit. Kalau saja apa yang ada di Penjara Batu terus diperbaiki dan ditingkatkan, bukan tidak mungkin para napi akan menjadikannya tempat favorit untuk menjalani hukuman. Foto dan Naskah: Hariyanto

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penobatan

Abdurrahman Wahid

Buku

Sampul 'Time' Setelah 26 Tahun

Doktrin Usang Pembangunan Industri

Melawan Si Penendang Tangga

Catatan Pinggir

Techne

Seni Rupa

Pak Dirman, Selamat Pagi

Mengapa Bukan Korban Semanggi?

Televisi

Empat Sutradara di Hari Jadi

TEMPO|interaktif

Metro

Di Balik Gagasan Kopaja Boleh Masuk Busway

Nasional

Tukang Gigi Gugat Uji Materi UU Praktek Kedokteran

Nasional

Ketua MA: Kini, Mahasiswa Hukum Emoh Jadi Hakim

Nasional

Jokowi Pertemukan Seluruh Kerabat Keraton

Nasional

Diperiksa KPK, Sakit Jantung Bekas Walikota Kambuh

Nasional

Serbuan Massa ke Ibas Urusan Polisi, Bukan BIN  

Gaya Hidup

Ibu Hamil, Gamelan Lebih Mutlak Dibanding Mozart  

Nasional

LSM Granat Gugat Grasi Corby Pekan Depan  

Olahraga

Fakta Menarik Athletic Bilbao vs Barcelona  

Internasional

Amerika Potong Bantuan ke Pakistan  

Sudah 3.500 Pekerja Wisata Solo Tersertifikasi  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif