• Home
  • 25 Agustus 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
  • Arsip
  • 25 Agustus 2003

    Mengapa Bukan Korban Semanggi?

    Tiga bulan lalu, perupa Tisna Sanjaya dan Rahmat Jabaril, dari kelompok Gerbong Bawah Tanah, melakukan pertunjukan di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Monumen buatan Sunaryo yang terletak di Jalan Dipati Ukur, Bandung, yang lebih dikenal dengan nama Monumen Siliwangi ini menjadi obyek sindiran kedua seniman tersebut.

    Kata Tisna, "Monumen ini antilingkungan." Pokoknya, menurut seniman yang baru pulang dari mengikuti Bienale Venesia ini, tidak fungsional. "Tengok saja sekarang. Jika siang monumen itu tak jelas aturan masuknya. Malam gelap-gulita, dipagar, jadi lokasi mesum lagi."

    Ini mengingatkan pada masa-masa awal reformasi di Yogya. Beberapa seniman patung muda berkumpul merefleksikan keberadaan banyak patung warisan Orde Baru di kotanya. Misalnya Monumen Yogya Kembali di bilangan ring road atau Patung Serangan Umum di pojok Benteng Vredeburg.

    Kita tahu, monumen dan patung itu merupakan pentahbisan peran Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret. Namun sesungguhnya, bila kita memasuki pelataran Keraton—dari arah alun-alun utara—kita akan mendapati sebuah batu besar yang dinoktahi Sultan. Batu besar ini dimaksudkan Sultan sebagai tetenger atau tanda bahwa inisiatif Serangan Umum 1 Maret sesungguhnya sang ayahanda, bukan Soeharto. Tapi itu tak banyak diketahui masyarakat.

    Patung sebagai seni publik, menurut Ben Anderson, pernah secara cemerlang dimanfaatkan Orde Baru untuk menanamkan ideologinya ke benak masyarakat sampai jauh ke pelosok-pelosok dusun. Di pedesaan Yogya atau Jawa Tengah, misalnya, kita dapati "monumen-monumen" kecil yang melambangkan keheroikan Janur Kuning sampai berbagai macam tugu Korpri, KB, dan sebagainya. Sekalipun Soeharto lengser sudah, "aura" patung-patung itu kini masih menjadi bagian dari "wacana" kehidupan desa.

    Maka, rencana pembangunan 34 patung pahlawan di berbagai jalan Jakarta itu mengingatkan orang bahwa kita belum lepas dari wacana patung Orde Baru. Apalagi bila nanti dipilih lebih banyak patung pahlawan dari kalangan militer, bukan sipil "Tokoh sejarah Orde Baru kebanyakan militer," kata Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI. Sonny Sutanto, arsitek pendiri AMI, juga heran mengapa harus patung pahlawan lagi yang dibuat. Ia mempertanyakan kenapa bukan korbannya, korban perang itu sendiri yang dipatungkan.

    Atau, misalnya, kerusuhan mahasiswa. Menurut dia, biasanya patung dibuat disesuaikan dengan konteks kesejarahannya, terutama kesejarahan lokasi. "Di Jalan Sudirman, contohnya, lebih kuat kalau dibuat patung untuk mengenang matinya mahasiswa pada masa reformasi dulu," tuturnya. Maksudnya tragedi Semanggi. Tragedi Semanggi adalah sejarah kontemporer kita yang patut diingat dan dikarangi bunga tiap tahunnya.

    Monumen memang tidak terbatas pada sosok militer. Di kota-kota dunia bahkan banyak monumen yang inspirasinya diambil dari sosok fiksi sebuah novel terkenal atau sosok humanis yang menyegarkan. Di kota-kota yang memberi apresiasi terhadap kesenian, seperti Wina, terdapat patung sejumlah komposer. Bukannya patung seniman tidak ada di kita. Di Malang ada patung penyair Chairil Anwar, di Taman Ismail Marzuki terdapat patung Ismail Marzuki, meski keduanya sebatas torso. Karena itu, mengasyikkan membayangkan misalnya kita memiliki sebuah monumen besar W.R. Supratman menggesek biola.

    Suatu kali, pencipta lagu Bangun Pemudi-Pemuda, Alfred Simanjuntak, mengeluh kepada TEMPO, betapa ia nelangsa melihat almarhum Cornel Simanjuntak seolah jasanya dilupakan pemerintah. Namanya hanya diabadikan dalam sebuah taman kecil 5x5 meter di Jatinegara, yang kini tak terawat. Di antara komponis muda masa perjuangan, Cornel Simanjuntak diangap sosok genial. Ia menciptakan lagu Maju Tak Gentar, Padamu Negeri, Sorak-Sorai Bergembira, Tanah Air, Tanah Tumpah Darahku Yang Suci Mulia.

    Nasib Cornelis Simanjuntak sangat tragis. Cornel meninggal dalam usia 26 tahun. Ia ikut bertempur melawan Belanda di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, dan tertembak di pahanya. Karena tak mau peluru itu dikeluarkan, Cornel gugur. "Dengan segala hormat kepada Ismail Marzuki, sesungguhnya Cornellah yang merintis semangat baru, nada baru di Indonesia. Lagu-lagu dia, selain bersemangat nasional, juga berjiwa internasional. Itu yang tak dimiliki Marzuki," tuturnya. Sebuah patung untuk mengenang Cornel, menurut dia, layak didirikan.

    Seno Joko Suyono, Boby Gunawan, Endah W.S.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penobatan

Abdurrahman Wahid

Buku

Sampul 'Time' Setelah 26 Tahun

Doktrin Usang Pembangunan Industri

Melawan Si Penendang Tangga

Catatan Pinggir

Techne

Seni Rupa

Pak Dirman, Selamat Pagi

Mengapa Bukan Korban Semanggi?

Televisi

Empat Sutradara di Hari Jadi

TEMPO|interaktif

Metro

Di Balik Gagasan Kopaja Boleh Masuk Busway

Nasional

Tukang Gigi Gugat Uji Materi UU Praktek Kedokteran

Nasional

Ketua MA: Kini, Mahasiswa Hukum Emoh Jadi Hakim

Nasional

Jokowi Pertemukan Seluruh Kerabat Keraton  

Nasional

Diperiksa KPK, Sakit Jantung Bekas Wali Kota Kambuh

Nasional

Serbuan Massa ke Ibas Urusan Polisi, Bukan BIN  

Gaya Hidup

Ibu Hamil, Gamelan Lebih Mutlak Dibanding Mozart  

Nasional

LSM Granat Gugat Grasi Corby Pekan Depan  

Olahraga

Fakta Menarik Athletic Bilbao vs Barcelona  

Internasional

Amerika Potong Bantuan ke Pakistan  

Sudah 3.500 Pekerja Wisata Solo Tersertifikasi  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif