• Home
  • 01 September 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
  • Arsip
  • 01 September 2003

    Tak Ada Texmaco, Becak pun Jadi

    PESAN S.O.S. telah menjerit-jerit dikirimkan karyawan Texmaco kepada pemerintah. Dibelit utang senilai Rp 29 triliun, raksasa tekstil dan mesin ini berada di tubir jurang, bahkan sebelum dinyatakan gagal bayar oleh BPPN dua pekan lalu. Berbagai skema penyelamatan kini tengah dikutak-katik pemerintah. Namun, lebih dari sekadar soal nasib pemilik lamanya, tumpukan utang Texmaco adalah persoalan kelangsungan hidup 40 ribu lebih pegawainya berikut anak-istri mereka. Coba simak berbagai kisah nelangsa berikut.

    Untung, bukan nama sebenarnya, telah 10 tahun bekerja di bagian pemintalan PT Polysindo Eka Perkasa, salah satu anak perusahaan Texmaco. Kini, karena kas perusahaan bolong besar, Untung bersama banyak temannya yang lain terpaksa dirumahkan, dan hanya menerima 70 persen gaji sebagai uang kompensasi.

    Para pekerja di Texmaco Perkasa Engineering, misalnya, menerima sedikit lebih tinggi, yakni 75 persen gaji. Dengan "uang perpisahan" yang tidak sampai Rp 1 juta ini, tentu saja mereka kelimpungan. Jangankan membuka usaha kecil-kecilan, untuk memberi nafkah istri dan anak saja mereka kewalahan.

    Agar tetap bisa menyambung hidup, Untung, 35 tahun, warga Desa Karang Sari, Kendal, memilih jadi pengemudi becak. Sementara dulu harinya dimulai dengan langkah tergesa menuju pabrik, kini setiap pagi ia bisa lebih dulu memberi makan belasan ayam peliharaannya. Sementara itu, istrinya menyiapkan sarapan, terutama bagi kedua anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar. Menu mereka biasanya terdiri dari nasi, tempe, sambal, dan sayur seadanya.

    Saat jarum jam menunjuk angka 6.30 pagi, lelaki ceking dan berkulit gelap itu menyambar topinya, melangkah keluar rumah untuk lebih dulu mengantar anaknya ke sekolah dengan becak, lalu setelah itu barulah mengadu nasib. Biasanya Untung mengayuh "gerobak angin", yang disewanya Rp 10 ribu per hari, dengan santai sambil sesekali mengepulkan asap rokok Djarum 76 kegemarannya. Tempat mangkal Untung adalah perempatan di depan kantor DPRD Kendal. Dari sini ia biasa mengantarkan ibu-ibu yang pulang belanja dari pasar. Saat makan siang, agar hemat, Untung memilih makan di rumah bersama istrinya. Setelah itu, untuk mengusir penat, ia menyetel TV 14 inci, benda paling berharga di rumah itu.

    Menjelang pukul 15.00, Untung kembali mengayuh becak, berharap rezeki dari para langganannya yang baru pulang kerja. Menjelang magrib, barulah ia pulang-berarti tiap hari ia menghabiskan 10 sampai 12 jam kerja. Begitulah rutinitas yang dijalaninya sejak dirumahkan tiga bulan lalu. Sebelumnya, Untung bersama 1.100 pekerja Polysindo rata-rata menerima gaji Rp 800 ribu. Tetapi, saat dirumahkan, Untung cuma mendapat 70 persen upah atau Rp 600 ribu. Kontan ia pusing, dan memutuskan menarik becak sewaan sejak Mei lalu. "Saya tak malu narik becak, Mas. Ini yang paling mungkin, karena tak butuh modal dan keahlian khusus," katanya.

    Untung mengaku, setiap hari ia bisa mengumpulkan laba bersih sedikitnya Rp 10 ribu. Jika sedang laris, keuntungannya bisa mencapai Rp 20 ribu sehari. Tapi Untung tak kuasa menyembunyikan kegelisahannya. "Saya harap perusahaan tidak terus menggantung nasib kami. Kalaupun dikenai PHK (pemutusan hubungan kerja alias pemberhentian), saya ikhlas, asal ada pesangon yang memadai," tuturnya.

    Namun, kabar ihwal kebijakan Polysindo yang telah merumahkan 1.100 karyawannya itu dibantah oleh Dudy Syamsudin, General Manager Texmaco unit Semarang. "Tidak ada karyawan yang di-lay-off," katanya singkat.

    Lalu, bagaimana nasib karyawan di anak perusahaan Texmaco yang lain? Dari penelusuran TEMPO di lapangan, nasib mereka setali tiga uang. Aang Hendriyana dan Jarot-keduanya karyawan Texmaco Perkasa Engineering (TPE)- bersama 450-an orang pekerja lainnya dirumahkan sejak Maret lalu. Sebagai kompensasi, Aang cuma menerima 75 persen dari gaji tetap atau Rp 491 ribu dari Rp 731.500.

    Dengan duit segitu, Aang jelas pusing tujuh keliling menghidupi istri dan seorang anaknya. Belum lagi harus membayar sewa rumah tipe 21 di Ciseureuh, Purwakarta, sebesar Rp 90 ribu tiap bulan. Wajar jika Aang bekerja apa saja untuk menutup biaya hidup sehari-hari. "Kadang saya mengelas, kadang kerja sebagai buruh bangunan," katanya pelan. Kesulitan keluarga Aang terpancar langsung di ruang tamu rumahnya, yang tampak kosong karena tak ada meja dan kursi di sana.

    Sejak awal Agustus lalu, meja ruang tamunya memang telah berubah fungsi. Tiap pagi, meja berukuran 80 x 60 senti itu dihadirkan di depan rumah, karena Eti, istri Aang, memerlukannya untuk berjualan nasi uduk. Menjelang siang, Eti biasanya berkeliling kampung menjajakan kue, alat rumah tangga, hingga pakaian anak. Aang tak tega melihat istrinya banting tulang seperti itu, tapi ia sendiri tak bisa mencegahnya.

    Nasib Aang masih sedikit lebih baik dibanding Jarot, 30 tahun. Lelaki asal Yogyakarta yang menjadi karyawan PT Perkasa Heavindo Engineering (PHE) itu dirumahkan bersama 1.500 karyawan lainnya sejak April lalu. Oleh manajemen anak perusahaan Texmaco yang berlokasi di Desa Karangmukti, Subang, Jarot dibayar 75 persen dari gaji tetapnya, atau sekitar Rp 500 ribu. Tetapi, berbeda dengan Untung yang berharap dapat bekerja kembali di Texmaco, Jarot memilih langsung hengkang. "Tak ada lagi harapan," katanya, lemas. Jarot telah bekerja delapan tahun di Perkasa.

    Jarot terhitung nekat. Setelah tak mampu membayar cicilan rumahnya di Purwakarta, dia menjual rumah tipe 21 itu dan "mondok" di rumah mertuanya di Subang bersama istri dan anaknya yang masih balita. Dengan uang hasil penjualan rumah, barulah Jarot mencari pekerjaan. Untuk menghidupi keluarganya, bila terpaksa ia meminjam uang dulu dari orang tua dan saudaranya.

    Berbeda dengan Untung, yang yakin Texmaco bakal bangkit dan menariknya kembali bekerja, Aang dan Jarot justru pesimistis. "Situasinya sudah kayak benang kusut," kata Aang kecut. Keduanya berharap ada investor baru yang masuk menyuntik modal dan menutup segunung utang Grup Texmaco yang mencapai Rp 29 triliun.

    Selain di Kendal dan Subang, anak perusahaan Texmaco yang memproduksi sepatu olahraga di Sidoarjo, Jawa Timur, yakni PT Super Mitory Utama, telah tutup warung. Sebanyak 732 dari 2.500 karyawan Super Mitory telah dikenai PHK sejak November 2001 lalu. Kini sebagian besar lahan di lokasi seluas 100 x 125 meter itu dipakai untuk usaha garmen Texmaco. Paling tidak, begitulah penjelasan dari petugas keamanan yang menjaga kompleks Super Mitory.

    Menanggapi pengalaman pahit para karyawan Texmaco tersebut, Akhmad Sopari, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Divisi Logam Elektronika & Mesin (LEM) Texmaco, berjanji akan memperjuangkan hak-hak karyawan. "Yang terpenting, serikat pekerja berupaya agar tak ada karyawan yang dikenai PHK," katanya.

    Menurut perkiraan Sopari, dari 40 ribu karyawan Grup Texmaco, sekitar separuhnya dirumahkan. Yang terbanyak adalah karyawan pada anak perusahaan di bidang tekstil, garmen, dan engineering. Di bagian LEM sendiri, Maret lalu, dari 1.800 karyawan, 850 orang juga telah dirumahkan.

    Sopari mengaku, Juni lalu, perwakilan SP Karyawan Texmaco telah bertemu dengan Menteri Tenaga Kerja Jacob Nuwa Wea di Jakarta. Pada pertemuan itu, Jacob berjanji akan menjadi mediator yang adil antara manajemen Texmaco dan karyawannya. Selain itu, SP Texmaco juga mengadukan masalahnya ke DPR RI, Maret lalu, berharap para politikus yang, katanya, wakil rakyat itu memperhatikan pesan S.O.S. dari mereka.

    Iwan Setiawan, Nanang Sutrisna (Subang), Sohirin (Kendal), dan Sunudyantoro (Sidoarjo)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Sakit

Matori Abdul Djalil

Buku

Menggugat Jilbab, Sekali Lagi

Catatan Pinggir

Nippon

Indonesiana

Jenderal Naga Bonar

TEMPO|interaktif

Momen Pembuktian Hodgson

Preview Inggris Vs Norwegia

Metro

Di Balik Gagasan Kopaja Boleh Masuk Busway

Nasional

Tukang Gigi Gugat Uji Materi UU Praktek Kedokteran  

Nasional

Ketua MA: Kini Mahasiswa Hukum Emoh Jadi Hakim

Nasional

Jokowi Pertemukan Seluruh Kerabat Keraton  

Nasional

Diperiksa KPK, Sakit Jantung Bekas Wali Kota Kambuh

Nasional

Serbuan Massa ke Ibas Urusan Polisi, Bukan BIN  

Gaya Hidup

Ibu Hamil, Gamelan Lebih Mutlak Dibanding Mozart  

Nasional

LSM Granat Gugat Grasi Corby Pekan Depan  

Olahraga

Fakta Menarik Athletic Bilbao vs Barcelona  

Internasional

Amerika Potong Bantuan ke Pakistan  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif