• Home
  • 08 September 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Iqra
  • Seni
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 September 2003

    Agar Arwah Tak Telantar

    SAMADIJO Setijo, 68 tahun, gemetar. Tangannya menggenggam lilin menyala. Membungkukkan badan, cekatan ia menyulutkan lilin itu ke kaki replika Tjiap In Tay To Su (Dewi Kwan Im dalam wujud mengerikan).

    Yang lain mengikuti langkah sang kakek. Menyulut rumah, uang, kertas doa, batangan emas, perak, sesajian, kapal.... Wah!

    Byar.... Api membakar dengan hebatnya. Samadijo mundur beberapa langkah ke posisi mudra, menyembah sarana puja yang mulai menyala. Hanya menyisakan abu. Umat Tri Dharma percaya, saat itulah Dewa Akhirat mendatangi sekeliling kelenteng menjemput para arwah, yang "menggelandang", ke alam abadi.

    Membakar uang dan batangan emas? Nanti dulu. Itu semua hanya tiruan-hanya "uang-uangan dan emas-emasan".

    Pembakaran menjadi klimaks dalam Sembahyang Rebutan, King Hoo Ping. Atau dikenal pula sebagai Ulambana dalam religi Buddhisme di sejumlah kelenteng di Semarang. Tahun ini, puncak Ulambana bagi umat Tri Dharma setempat digelar pada Selasa dua pekan lalu, bertepatan dengan hari akhir bulan 7 (Djit Gwee) di kelenteng berusia 2,5 abad itu. Pilihan pada tanggal ini karena merupakan hari kebesaran Ksitigarbha Bodhisattva atau Ti Cang Wang Po Sat.

    Ritual tahunan umat Tri Dharma (Konghucu, Tao, dan Buddha) itu digelar sejak 15 hingga 30 bulan 7 ( Djit Gwee) penanggalan Imlek. "Ini penutupan Ulambana bagi kelenteng di sekitar Semarang," kata Samadijo, Ketua Yayasan Kematian Tji Lan Tjay Semarang. Ia pemrakarsanya bersama Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie

    Mereka percaya, para arwah telantar yang tak dirawat keluarganya akan menderita di alam akhirat. "Mereka kan seperti di sini, butuh hidup sejahtera, perlu uang, pakaian, rumah. Inilah saatnya kami berbakti kepada mereka," ujar Samadijo.

    Karena para arwah yang disembahyangi "tak teratur", harus ditunggui Dewi Kwan Im dalam wujud setan, lengkap dengan lidah terjulur ke tanah. "Adanya patung kertas Dewi Kwan Im dalam wujud Tjiap In Tay To Su itu supaya para arwah tertib tak berebutan persembahan kita," ujar Tio Tian Gie, seorang sesepuh Kelenteng Tay Kak Sie yang juga dalang Wayang Potehi terkenal di Semarang.

    Ulambana diawali dengan doa pembuka sembahyang arwah oleh Tio Tiong Gie sebagai tokoh spiritual Tri Dharma di Semarang. Tujuannya, meminta doa agar seluruh acara sembahyangan lancar dan semua keinginan makbul.

    Kemudian, panitia bergotong-royong menyiapkan 108 macam sesaji: nasi berikut lauk-pauk, bak pao, aneka kue tradisional, buah, ingkung (daging bebek utuh). Semua disajikan dalam meja 3 x 5 meter berhias kertas aneka warna, dan diletakkan lurus di pintu Kelenteng Tay Kak Sie. Di sisi kanan-kiri diapit meja kecil dengan aneka sesaji pendamping. Di bagian luar dijejer babi dan kambing panggang utuh.

    Di altar luar, dipajang sarana puja lainnya: gunungan kue moho (mirip bakpau), pisang emas, dan wajik merah setinggi enam meter. Ini istimewa, karena untuk membuat wajik itu, sedikitnya dibutuhkan empat kuintal beras ketan. "Memang kita buat agak luar biasa ketimbang biasanya," kata Samadijo.

    Dalam situs resmi Wali Umat Buddha Indonesia (Walubi), pelaksanaan Ulambana sebenarnya tak harus menyertakan sarana puja selengkap itu. Yang disyaratkan dalam kitab suci, menurut Biksu Dutavira Mahasthavira, minimal 5 macam buah, nasi, 6 macam sayur kering/matang, 6 macam manisan, 5 macam minuman atau cairan, hio, bunga segar, dan lilin. "Cuma, kalau mau sempurna, ya 108 macam makanan seperti ini," kata Samadijo.

    Setelah semua sesajian siap, Biksu Dharmavijayo dan pengiringnya tampil membacakan parita. Dipohonkan kepada Tuhan agar para arwah leluhur selamat di alam kekal menuju Sukhavati dan diampuni dosa-dosanya.

    Berikutnya, sesepuh Tay Kak Sie, Samadijo Setijo, meminta izin dengan melempar pwee, semacam kayu berbentuk simbol yin dan yang, kepada arwah Sang Buddha. Jika sepasang pwee ini berposisi terbuka dan tertutup, berarti Sang Buddha merestui sembahyangan. Dianggap sudah selesai, aneka sajian makanan dan beras untuk fakir miskin lalu dibagikan. Kini saatnya acara penutup: membakar replika uang akhirat dan kebutuhan arwah.

    "Dulu, pada tahun 60-an, kita berebut, makanya dinamakan sembahyang rebutan. Tapi, kalau begitu, yang fisiknya lemah tak kebagian. Makanya, kami membaginya merata," tutur seorang panitia.

    Selain makanan matang, untuk fakir miskin disediakan 25 ton beras dan ribuan mi instan. "Salah satu inti Ulambana kan menjalankan cinta kasih dengan memberikan sedekah kepada fakir miskin," kata Samadijo.

    Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sembahyang rebutan tahun ini sangat meriah, digelar besar-besaran. Menurut Budiharto, seorang umat yang hadir, pada tahun 65-an ia masih menyaksikannya, tapi kemudian tak ada lagi. Karena itu, sebagai penganut Tri Dharma, ia senang bisa terlibat dalam sembahyangan lagi, apalagi semeriah itu.

    "Ini memang sembahyangan terbesar setelah 30 tahunan tak bisa digelar seperti ini," ujar Samadijo. Biayanya sedikitnya Rp 100 juta.

    Adi Prasetya (Semarang)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Agar Arwah Tak Telantar

Album

Pelantikan

Erna Witoelar

Buku

Knitter dan Nasib Dialog Antar-Iman

Hukum Kepailitan dengan Hantu-Hantu

Catatan Pinggir

11/9

TEMPO|interaktif

Olahraga

Giggs: Fans Tingkatkan Mental Pemain Muda United

Momen Pembuktian Hodgson

Preview Inggris Vs Norwegia

Metro

Di Balik Gagasan Kopaja Boleh Masuk Busway

Nasional

Tukang Gigi Gugat Uji Materi UU Praktek Kedokteran  

Nasional

Ketua MA: Kini Mahasiswa Hukum Emoh Jadi Hakim

Nasional

Jokowi Pertemukan Seluruh Kerabat Keraton  

Nasional

Diperiksa KPK, Sakit Jantung Bekas Wali Kota Kambuh

Nasional

Serbuan Massa ke Ibas Urusan Polisi, Bukan BIN  

Gaya Hidup

Ibu Hamil, Gamelan Lebih Mutlak Dibanding Mozart  

Nasional

LSM Granat Gugat Grasi Corby Pekan Depan  

Olahraga

Fakta Menarik Athletic Bilbao vs Barcelona  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif