Mereka tak pernah bisa lepas dari musik rock tahun 1970-an. Tapi mereka menolak disebut mengalami puber berkepanjangan alias remaja abadi. Sebagian mengaku selalu mendapatkan rasa damai setiap kali mendengar musik itu. Ada juga yang menjadikannya sebagai sumber ilham. Beberapa orang bahkan memutuskan menonton Yes di Singapura setelah band rock progresif itu batal tampil di Jakarta. Apa pun, yang sebenarnya membuat mereka setia—menyimak, mengobrolkan, serta mengikuti dan melacak perkembangannya—sepanjang masa adalah karya dari sebuah zaman ketika kreativitas bermusik mencapai puncaknya.
Musik rock pada akhir 1960-an menjadi akar dari pelbagai band pada 1970-an. Banyak yang sepakat, dari periode di antara kedua dasawarsa itulah classic rock berasal.
Selain melalui stasiun radio, kini dahaga para penggila musik cadas juga terobati lewat sajian ”menu rock” di kedai makan. Suguhan lihai memikat rockmania.