• Home
  • 13 Oktober 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Seni
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 13 Oktober 2003

    Dari Munich Meneropong 11/9

    DANIEL Feifal duduk tepekur di antara 500 pengunjung Munich's Literaturhaus, Munich, Jerman Barat. Mahasiswa arsitektur 24 tahun itu mendengarkan paparan seorang lelaki berambut perak berusia 64 tahun. "Pemerintah Amerikalah yang merencanakan penyerangan ke New York dan Washington sebagai cara untuk membenarkan peperangan di Afganistan dan Irak, " kata pria itu.

    Lelaki berambut perak itu adalah Andreas von Bulow, mantan Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jerman. Ia baru saja menulis buku berbahasa Jerman yang kalau diterjemahkan berjudul CIA dan Peristiwa 11 September: Teror Internasional dan Peran Dunia Intelijen. Hanya dalam beberapa pekan bukunya terjual lebih dari 90 ribu eksemplar. Di Jerman buku itu menempati posisi ketiga dalam deretan buku terlaris nonfiksi tahun ini.

    Sebagai bekas pejabat tinggi Departemen Pertahanan Jerman dan anggota parlemen selama 20 tahun, Bulow melihat banyak kejanggalan cerita AS tentang tragedi itu. Ia meragukan peran Al-Qaidah sebagai dalang tragedi yang mematikan lebih dari 3.000 orang itu.

    Buku Van Bulow bukan satu-satunya. Di Jerman saja, sedikitnya enam penulis telah meluncurkan buku yang menggugat teori AS bahwa Al-Qaidah di balik peristiwa September kelam itu. Stasiun televisi kondang Jerman, ARD, baru-baru ini mengudarakan film dokumenter yang menyangsikan klaim-klaim Amerika atas tragedi itu. Di Inggris, Michael Meacher-mantan menteri dalam kabinet Blair yang belum lama mengundurkan diri-menulis panjang lebar di koran Guardian yang isinya menunjukkan skeptisisme yang sama.

    Thierry Meyssan, seorang jurnalis asal Prancis, tahun lalu juga menerbitkan buku berjudul 9/11 The Big Lie-buku yang kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di Amerika sendiri buku kumpulan wawancara intelektual kiri Noam Chomsky laris terjual di seluruh dunia. Von Bulow mengaku menulis karena terinspirasi oleh buku karya Meyssan.

    Sesungguhnya banyak hal yang sama dari buku-buku "anti-Amerika" ini. Van Bulow, misalnya, mengajukan pertanyaan yang mirip dengan penulis Jerman lain seperti Mathias Broeckers dalam Konspirasi, Teori-Teori Konspirasi dan Rahasia 11.9. Beberapa di antaranya adalah spekulasi yang menyebut tidak ada korban Yahudi dalam peristiwa 11 September.

    Bisakah buku "alternatif" itu membuktikan kesaksiannya tentang tragedi 11 September? Tak selalu. Seperti banyak buku yang mendasarkan diri pada teori konspirasi lainnya, buku Von Bulow, yang ditulis dengan mengandalkan bahan sekunder dari Internet dan buku lain, tak secara telak memberikan argumentasi baru.

    Bulow menyadari itu: ia cukup berhati-hati melontarkan tudingan. Ia, misalnya, banyak menggunakan kalimat yang terkesan "abu-abu", dengan cara menambahkan kata "bisa saja" atau "ada kemungkinan".

    Di Munich's Literaturhaus saja tak semua orang menerima argumentasi Bulow. "Itu semua omong kosong," kata seorang perempuan setengah baya yang hadir. Tapi tak sedikit pula yang menerima pendapat Bulow. "Fakta yang dikuak Bulow meruntuhkan kepercayaan saya terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang dipegang pemerintah AS. Saya siap mempercayai pendapat Bulow," kata Daniel Feifal.

    Percaya atau tidak, itu soal lain. Tapi pandangan alternatif tentang peristiwa 11 September, bagaimanapun, tetap dibutuhkan.

    Ignatius Haryanto (Asia Wall Street Journal, Freedomfiles.org, Audioasylum.com)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Djoenadi Joesoef

Buku

Dari Munich Meneropong 11/9

Catatan Pinggir

Gelegar

Surat Dari Redaksi

Surat dari Redaksi

Hari ini, Setahun yang Lalu

TEMPO|interaktif

Olahraga

Berbatov Tertarik Gabung ke PSG

Nasional

Jumlah Guru di Indonesia Kalahkan Korea Selatan

Nasional

Gerakan Solo Mengajar Dideklarasikan  

Teknologi

Inovasi Apple Selanjutnya: iPen  

Bisnis

Rupiah Mulai Terbatuk - Batuk

Olahraga

Guardiola Tolak Pinangan Chelsea dan Liverpool  

Banjarnegara Gelar Dieng Culture Festival

Bisnis

Astra Butuh Ribuan Karyawan  

Teknologi

Juli, Tablet Google Tiba  

Teknologi

Vandroid T3, Tablet 3G dari Advan  

Metro

Delapan Penambang Emas Tewas Tertimbun Longsor

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif