Jane, bukan nama sebenarnya, 20 tahun, sungguh bukan gadis biasa. "Me? A wee bit crazier than people of my age," katanya. Dia fasih berbahasa Inggris, Belanda, Spanyol, Jerman, Turki, dan Cina. Semuanya dia pelajari otodidak. Kegemarannya menjelajahi dunia Internet. Jane juga punya jurnal maya atawa blog site yang seluruhnya dihiasi catatan harian berbahasa Inggris.
Satu poin lagi, Jane punya riwayat yang penuh warna kelabu. "Sudah lima kali aku mencoba bunuh diri. Pertama sewaktu aku berumur 9 tahun dan terakhir ketika aku 18 tahun," katanya. Suaranya bergetar. Tangisnya hampir pecah.
Jane kemudian berkisah. Dia lahir dari keluarga papan atas di Jakarta. Bapak-ibunya menyekolahkan Jane di sebuah SD swasta yang terkenal bermutu bagus di Jakarta Selatan. Tapi si Upik tak merasa cocok dengan lingkungan sekolah yang serba menekan-kelewat banyak beban pelajaran. "Masa, kelas 3 SD aku mendapat pelajaran geometri, aljabar, aritmetika yang biasanya diajarkan untuk anak SMP," tuturnya. Beban Jane masih ditambah dengan les balet intensif selepas sekolah.
Situasi makin sulit buat Jane. Seorang guru laki-laki kerap meraba-raba tubuh Jane, baik sembunyi-sembunyi maupun di hadapan kawan-kawan sekelasnya. Jane tentu merasa tidak nyaman. Tapi dia takut mengadukan hal ini kepada orang tuanya. "Soalnya, tiap kali aku mengadukan persoalan, selalu aku yang disalahin dan dimarahin," katanya. Kualitas komunikasi Jane dengan orang tua memang kurang bagus. Ayahnya, pengusaha sukses, terlalu banyak bepergian. Jane mengeluh, "Kami sangat jarang ketemu, apalagi ngobrol panjang lebar."
Jadilah segala masalah dipendam dalam hati. Jane bahkan tak pernah membiarkan orang lain memergoki dia sedang menangis. Sebab, orang tuanya mengajarkan bahwa menangis adalah tanda jiwa yang lemah. Andai Jane tumbuh dengan pemahaman bahwa menangis sanggup meringankan beban depresi, mungkin cerita hidupnya bakal lain.
Suatu ketika, pada saat kelas 4 SD, keresahan Jane memuncak. Saat istirahat, dia bongkar laci meja guru dan menemukan pisau (cutter) di sana. Tanpa pikir panjang, Jane menyilet urat nadinya. Untung saja seorang teman memergoki dan segera menyetop aksi Jane.
Seusai kejadian ini, Jane kian kesulitan bergaul. Di sekolah dan juga di rumah, dia dianggap sebagai bocah aneh. Ibunya membawa dia berobat ke psikiater. "Ada enam psikiater yang aku datangi, termasuk dua di Singapura," kata Jane. Sayang, keenam psikiater itu tak banyak membantu. Mereka hanya sibuk memberikan Ritalin dan obat penenang lainnya. Hanya ada satu psikiater yang menanyakan kualitas hubungan Jane dengan kedua orang tua serta teman-temannya. Tapi pertanyaan itu tidak berlanjut pada langkah konkret untuk membantu sang pasien.
Maka hidup bagi Jane berlanjut dalam warna kelabu. Setiap kali ada tekanan sekolah, pergaulan, atau putus cinta, dia berpaling ke alternatif bunuh diri. Mati agaknya lebih baik ketimbang menanggung semua beban. Pernah dia minum puluhan pil pereda sakit mag sekaligus. "Bangun-bangun, saya sudah di kamar rumah sakit," katanya. Beberapa kali dia melompat dari jendela lantai dua rumahnya. Untung, percobaan bunuh diri ini gagal karena dia keburu dipergoki orang rumah.
Perlahan-lahan depresi yang menggantungi hidup Jane berkurang. Tekanan hidup amat menurun ketika Jane lulus SMU dan tak lagi harus belajar matematika, biologi, dan kimia. Dia bisa memilih kuliah yang dia suka, yakni fakultas sastra jurusan bahasa Inggris di universitas negeri ternama di Jakarta. "Aku enggak mau ikut pilihan Nyokap, yang maunya aku kuliah di jurusan komunikasi," tuturnya.
Jane kini merasa betul-betul menikmati hidup. Dia mendalami topik-topik yang dia minati. Dia juga bertemu dengan kawan-kawan yang sehati, yang sama-sama berminat di bidang bahasa, dan yang mau berbagi cerita. Semangatnya sedang tumbuh. "Mudah-mudahan," bisiknya, "hidupku tidak lagi kelabu."
Mardiyah Chamim
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

