Malam belum lagi larut. Sebuah mobil buatan Jerman memasuki sebuah vila di kawasan Kaliurang, Yogyakarta. Tujuh anak muda menghambur ke teras. Di sanalah mereka mengobrol panjang. Tiada topik diskusi yang jelas, tapi nyamannya udara saat itu membuat pembicaraan hangat lagi tahan lama. Ya, mereka bertahan, sampai akhirnya-entah kenapa-satu per satu undur diri sehingga tinggallah empat orang cewek yang masih seru berbincang menggunakan bahasa gaul, bahasa anak muda kini. Maklumlah, mereka semua awak sebuah radio anak muda yang kondang di kota itu.
Santi, cewek usia 20-an tahun, masih asyik bicara ketika sesosok makhluk aneh tiba-tiba muncul dari kegelapan. Mulanya Santi seorang yang menjerit histeris. Kemudian tiga kawannya bergabung menjerit sejadi-jadinya. Nyali Santi semakin ciut. Apalagi salah seorang kawannya jatuh pingsan, tak sadarkan diri. Sambil berteriak-teriak menyebut nama Tuhan, dia lari ke dalam mobil. Sial, bukan teman yang ditemui, melainkan makhluk hantu berambut panjang berwajah menakutkan. Disodori tampang itu, dia pun langsung semaput, tak ingat apa-apa lagi.
Melihat Santi pingsan, teman-temannya berusaha memberi pertolongan. Dan ternyata mereka tidak hanya berempat. Sekonyong-konyong muncul wajah-wajah lain sambil memanggul kamera. Mereka mengikuti ke mana pun Santi pergi, termasuk saat digotong teman-temannya. Setelah siuman, dijelaskanlah bahwa semua yang baru dialaminya bohong-bohongan belaka, hanya syuting untuk acara televisi Paranoid. Para awak menyaksikan Santi menyembur teman-temannya, "Bajingan kalian semua. Sudah, gua mau pulang saja."
Santi tentu kesal dan merasa tertipu bukan buatan. Tapi sekarang dia tahu betul dirinya hanya korban, yaitu korban dari sebuah acara televisi yang menjebaknya di sebuah tempat yang sudah di-set-up dengan atribut hantu-hantuan. Sekaligus korban-lebih tepat lagi, produk-dari masyarakat yang hidup di bawah bayangan hantu makhluk halus, genderuwo, atau makhluk jadi-jadian lain yang belakangan ini rajin muncul di layar televisi. Dan keberhasilan acara Paranoid yang ditayangkan Trans TV ini terletak pada kemampuannya memancing ekspresi ketakutan para anak muda korbannya-kian takut dia, kian sukseslah acara ini.
Paranoid, seperti Harap-Harap Cemas, Playboy Kabel (keduanya di SCTV), Ketuk Pintu (TV7), Berani Dong (Indosiar), dan Katakan Cinta (RCTI), adalah tayangan yang lumayan laku. Acara berbentuk reality show ini sangat patuh pada pemeo: dari masyarakat, untuk masyarakat penonton. Sementara Paranoid memetik rasa takut pada hantu, acara Katakan Cinta menangkap gelagat makin ekspresifnya generasi muda perkotaan di negeri ini. Resep mereka cuma satu: tak menampilkan bintang yang langsing bodinya dan ayu tampangnya. Mereka orang biasa, atau tampil sebagai orang biasa.
Tentu acara sejenis ini bukanlah hal baru dalam dunia televisi. Di awal dekade 1990, pernah muncul acara seperti ini yang berasal dari negeri manca di stasiun televisi negeri ini, seperti Hit Squad atau Candid Camera, yang mengeksploitasi keterkejutan para korban, sasaran kejahilan kru acara itu. Kita tahu, acara macam itulah yang ide dasarnya lantas dijiplak oleh Spontan, acara yang hingga kini masih banyak peminatnya. Lumayan lama Spontan jadi satu-satunya reality show seperti itu, sampai akhirnya muncul Katakan Cinta yang tertayang di RCTI tujuh bulan silam dan memantik demam panjang reality show di negeri ini. Acara yang sempat mematok rating rata-rata hingga 5,7 ini tentu saja mengundang air liur produsen acara lain yang ingin mendapat berkah serupa.
Perjalanan berikutnya, ketahuan, tayangan macam ini mengalami perkembangan, dengan banyak variasi. Kebanyakan dari mereka tak lain merupakan pengembangan dari acara yang telah ada. Harap-Harap Cemas, diakui Fanny Rahmawati, produser acara ini, sebagai upaya lanjutannya yang meraup sukses dari Katakan Cinta. Harap-Harap Cemas sama dengan pendahulunya, menampilkan urusan asmara remaja. Sementara itu, Paranoid sendiri, menurut Ari Kristianto, merupakan pengembangan dari acara yang telah ada sebelumnya, Dunia Lain. Itulah program horor yang punya rating lumayan. "Saat evaluasi, satu segmen dari Dunia Lain, yaitu uji nyali, banyak peminatnya. Dan dari situ kami berpikir untuk membuat acara tersendiri," tuturnya. Sebulan setelah itu, lahir Paranoid.
Acara seperti ini, selain gosip yang dikemas dalam infotainment, punya banyak peminat. Sebut saja Ria, seorang ibu rumah tangga di Depok, Jawa Barat. Ibu yang satu ini dalam beberapa bulan terakhir selalu telat masak. Gara-garanya, dia ingin menonton acara Ketuk Pintu, yang ditayangkan di TV7 tiap pagi. "Lebih baik enggak masak dulu deh," katanya.
Tontonan seperti Ketuk Pintu memang bisa memuaskan orang seperti Ria. Dalam acara itu, sosok selebriti, yang biasa tampil dengan dandanan medok dan selalu menjaga image alias "jaim", tampil apa adanya. Kru acara itu masuk ke kamar selebriti di kala mereka masih tidur. Ekspresi marah, kesal, dan pasrah lantaran ditangkap kamera dalam keadaan baru melek itu jadi tontonan mengasyikkan bagi pemirsa, terutama bagi yang mengidolakan mereka. Lihatlah, dari acara ini penonton tahu kebiasaan Zarima, si Ratu Ekstasi, yang gemar meletakkan termos air panas dan ember cucian berisi rendaman baju di kamar mandi. Atau, siapa sangka bahwa Roy Marten, yang digilai sebagian kaum ibu fanatik sinetron, kalau mau bobo selalu pakai sarung. Meski dalam soal rating acara ini hanya mencapai angka 1,7, Bryan Stone, sang produser, cukup puas. "Ini prestasi lumayan untuk sebuah morning show di stasiun televisi yang baru," katanya.
Soal peringkat memang beragam. Namun, rata-rata sebagai acara baru mereka mendapat perolehan yang lumayan. Paranoid, misalnya, dalam dua bulan saja sudah bisa mendapat angka 4,4. Sedangkan Harap-Harap Cemas, yang belum lagi meluncur selama sebulan, sudah duduk di angka 3,9. "Tapi itu termasuk tinggi di jam yang sama ketimbang tayangan lain," ungkap Budi Dharmawan, Manajer Hubungan Masyarakat SCTV.
Rating tinggi itu pun berimbas pada antrean slot iklan. Dalam durasi 30 menit, nyaris sepertiganya diisi oleh iklan. Padahal, biaya pengemasan acara ini terhitung tak terlalu tinggi ketimbang sinetron dengan durasi waktu yang sama, misalnya. Tak mau menyebutkan angka pasti, Bryan menyebut: biaya produksinya jauh di bawah tayangan infotainment lain keluaran rumah produksinya, seperti Kabar Kabari, Klise, atau Bisik-Bisik.
Namun, seorang pelaku bisnis ini mau membocorkan rahasia. Sebuah rumah produksi terkenal mengatakan harga jual paket tayangan infotainment berkisar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per episode. Sedangkan biaya produksinya tak sampai setengahnya. Ini pula yang membuat acara sejenis kian banyak. Untungnya besar, biaya pembuatannya malah murah. Maklumlah, acara ini hampir minim memakai bintang, kecuali untuk presenternya. Selain itu, orang yang berpartisipasi sama sekali tak dibayar.
Namun, sampai kapankah acara seperti ini bisa menjadi tambang uang? Arswendo Atmowiloto, pengamat televisi, melihat, seperti halnya tren acara-acara sebelumnya yang sempat booming, paling pol bisa bertahan selama tiga tahun. Setelah itu, tren pun berganti lagi. "Tiap acara memiliki masanya," kata Arswendo.
Tapi tentu masih ada waktu. Mumpung belum game over, beberapa produk sejenis pun bermunculan. Pencet saja saluran Anteve. Di situ ada Kecian Deh Lo, yang mirip-mirip dengan Berani Dong. Yang lainnya, rumah produksi Vis Caldecot membuat reality show yang lain, Venus & Mars, yang lagi-lagi bercerita tentang asmara. Wajarlah, namanya juga lagi booming. Lagi pula, siapa yang tak ngiler: sedikit modal, banyak untung.
Irfan Budiman, Telni Rusmitantri, Syaiful Amin (Yogyakarta)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

