• Home
  • 27 Oktober 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 27 Oktober 2003
    Ikhwanudin:

    "Dendam Mereka Tak Habis-Habis"

    DI lapangan "tempur", dulu ia dikenal sebagai Ikhwanudin. Tubuhnya tinggi kurus. Umurnya baru 27 tahun. Namun konflik antar-agama di Poso, Sulawesi Tengah, yang berkepanjangan, membuat raut pemuda lulusan sekolah menengah ekonomi itu tampak lebih tua. Saat kota di Teluk Tomini itu sedang berdarah-darah pada tahun 2001, ia sempat mendapat latihan militer di sebuah kamp di pegunungan Buyung Kateda, Malei. Sang instruktur? Ikhwanudin menyebut nama Mustofa alias Pranata Yudha, Panglima Laskar Khos dan bekas Ketua Mantiqi Sulawesi dalam struktur Jamaah Islamiyah. Ikhwan kini banting setir. Ia tak lagi memanggul bedil menyerang kelompok yang berbeda agama. Ia bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat untuk kemanusiaan di Poso. Ia mengaku bertobat tak ingin ada lagi saling bunuh. Namun godaan itu masih saja ada. Tiga bulan sebelum terjadi penyerangan di Desa Beteleme, Morowali, 12 Oktober lalu, Ikhwanudin mengaku sempat diajak teman seangkatannya, Muhammadong alias Madong, untuk kembali masuk hutan. Namun ajakan pemuda keturunan Arab itu ia tampik. "Saya sudah cukup. Yang untung orang atas," katanya. Belakangan Madong tewas, Kamis pekan lalu, setelah ditembak aparat yang memergokinya hendak lari dari hutan Mompane, Morowali. Ikhwanudin yakin betul penyerangan di Desa Beteleme dan Poso Pesisir dilakukan oleh eks-laskar lokal-yang dia sebut lokalan-dengan aktivis kelompok Jamaah Islamiyah yang lari dari Jawa. Berikut ini pengakuan Ikhwanudin kepada Darlis Muhammad di Poso dan Edy Budiyarso, yang mengontaknya via telepon dari Jakarta, Kamis malam pekan lalu.

    Seberapa besar kekuatan kelompok bersenjata ini?

    Mungkin intelijen sudah tahu ada pimpinan JI (Jamaah Islamiyah) di sini, sehingga kekuatan harus ditambah. Mereka siap mati semua. Apalagi ada tambahan senjata dan amunisi. Aparat tentu tak berani bergerak dalam jumlah kecil. Mereka berani melawan jika cuma ada 10-20 aparat.

    Benarkah mereka menguasai hutan-hutan di Poso dan Morowali?

    Kalau pendatang baru tidak. Namun lokalan yang menjadi penunjuk jalan. Saya yakin masih ada orang dalam yang membantu. Tak mungkin pendatang dapat menyerang dan bergerak cepat.

    Berapa jumlah pendatang baru itu?

    Jumlahnya saya tidak tahu persis. Ada ratusan orang.

    Anda yakin aparat bisa membasmi habis mereka?

    Saya tidak yakin. Mungkin satu-dua bulan ini akan reda. Namun, jika aparat sedikit, mereka akan muncul lagi.

    Dulu Anda pernah bergabung dengan kelompok mana?

    Saya bergabung dengan Mujahidin, juga dengan kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah (yang dipimpin) Ja'far Umar Thalib. Tapi kelompok Ustad Ja'far tidak terlalu keras dibandingkan dengan Mujahidin.

    Anda pernah dilatih oleh Mustofa, Ketua Mantiqi Sulawesi JI dan pemilik bom rakitan di Semarang?

    Ya. Teman-teman Mujahidin memberitahukan, pelatih tertangkap di Semarang. Pada awalnya saya tidak tahu itu Mustofa. Sebagai pelatih teknik perang, dia memakai nama Abu Sayid. Saya baru percaya setelah dia muncul di televisi setelah ditangkap polisi. Juga Seyam Reda. Dia sempat melatih teknik perang beberapa hari.

    Dari mana Anda yakin itu Seyam Reda? Bukankah dia mengaku wartawan?

    Dia memang tidak lama melatih teknik perang, hanya empat atau lima hari di kamp pelatihan Mujahidin, karena di sini sudah ada beberapa pelatih. Dia bernama Abu Toha. Dia sering membawa rekaman. Saya yakin karena saya tahu ciri-cirinya, sama dengan yang di televisi saat sidang di pengadilan.

    Kabarnya, aparat keamanan juga ada yang melatih di kamp?

    Tidak ada. Ini murni masyarakat sipil. Tidak semua latihan militer. Ada bagian dakwah untuk memperkuat jihad. Ini yang utama. Kalau sudah mendapat pelajaran itu, tidak ada lagi yang ditakuti. Malah mati, itu yang dicari.

    Lalu kenapa Anda bertobat tidak lagi ikut gerombolan ke hutan?

    Saya rasa sudah cukup. Untuk apa lagi begitu. Saya sudah melihat sendiri yang untung pejabat dan pengusaha (setempat). Cuma orang besar yang untung. Kami-kami ini mau jadi apa. Lokalan yang tobat sudah lebih dari 75 persen. Saya jalan-jalan, banyak ketemu teman. Mereka bilang tak mau lagi.

    Jadi semakin sedikit yang mau terus berperang di dalam hutan?

    Di dalam kota juga ada. Aparat tak bisa melacak karena tidak ada bukti.

    Kenapa masih saja ada pertempuran?

    Ada orang-orang dari Jawa yang datang. Mereka memang pernah ke sini. Mereka masuk ke kampung-kampung, mengajak kembali teman-teman lokal. Akhirnya ada yang ikut, tapi banyak juga yang tidak mau.

    Siapa saja yang Anda kenal sebagai tokoh dalam penyerangan Beteleme?

    Semua yang ditangkap dan ditembak mati saya kenal. Yang mati: Madong, Ali, Isac. Mereka bersama saya sewaktu dilatih Mustofa. Madong sempat lari ke luar Poso, ke Jawa. Dia baru kembali ke Poso tiga bulan lalu. Dia keturunan Arab dari Ampana.

    Apa benar mereka menyerang dengan motif politik?

    Itu urusan yang di atas (para petinggi). Orang lapangan tak ambil peduli. Mereka hanya mendendam. Dendam mereka tak habis-habis.

    Dari mana saja mereka mendapat senjata?

    Senjata datang dari semua penjuru. Paling banyak dari Filipina.



    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Mahathir Mohamad, Aburizal Bakrie, dan Arifin Panigoro

Buku

Karet Gelang di Jempol Hamsad

Berhenti untuk Meneguk Kopi

Catatan Pinggir

Emak

Indonesiana

'Amrozi' Membajak Bus

Layar

Mengingat dan Melupakan 11 September

Bianglala Berwarna Hitam

Keraguan Menghapus Dosa

Seni Rupa

Banjir Kritik Berlimpah Sponsor

Metamorfosis Sebuah Gudang

Tari

Merindu Ibu, Menggelundung Batu

TEMPO|interaktif

Olahraga

Barcelona Tetap Klub Terbaik di Dunia, Kata Bielsa

Bisnis

Garuda Terbang Lagi ke Taipei  

Bisnis

Rupiah Terpuruk, Indeks Terjun Bebas 82 Poin  

Internasional

Istri bin Laden yang Ini Banyak 'Bicara' ke Intel  

Otomotif

18 Tim Mahasiswa Ikut Shell Eco-Marathon Asia 2012  

Metro

Polisi Bekuk Tersangka Pemilik Senjata Api Ilegal  

Nasional

Jokowi Akan Pertemukan Dua Kubu Keraton  

Olahraga

Persiwa Incar Poin Penuh di Sidoarjo  

Internasional

Hollande Kunjungi Afganistan, Siap Tarik Pasukan

Nasional

Ruhut: 99 Persen Kader Demokrat Dukung Ani Jadi Capres

Olahraga

Babak Pertama, Mitra Kukar Gulung Gresik United 3-0

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif