Mereka kini hidup di atas perahu. Lautan yang mengelilinginya adalah seonggok sampah dan puing-puing rumah yang bergelimang akibat roda buldoser yang mematikan. Pada bulan Ramadan ini, saat azan buka puasa ini, mereka jauh dari kecukupan.
Dua ribu nelayan Kali Adem, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara itu kini hidup di atas perahu motor. Ketika gemuruh roda-roda besi buldoser melumat rumah mereka, Rabu dua pekan lalu, maka mereka tahu: hidup hanya untuk bertahan. Untuk memimpikan rumah susun yang dijanjikan Pemerintah Daerah DKI Jakarta tentu saja menjadi sebuah kemewahan. Pembangunan rumah susun yang dijanjikan itu tak jelas kapan terselenggara.
"Tahun ini tak ada baju baru untuk anak kami. Tidak ada zakat fitrah dari kami," ujar Darmawi, salah satu nelayan. Getir. Kini mereka malah bergantung pada sumbangan orang untuk hidup.
Hidup di atas lautan puing dan sampah; mandi di kali dengan udara yang lembap yang merangsang penyakit kulit dan disentri itu kemudian menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Dari azan ke azan, mereka berlindung dari terik matahari dan hujan, di bawah atap perahu daratan.
Jobpie Sugiharto
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

