• Home
  • 10 November 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 10 November 2003
    Amerika Serikat

    Sinterklas Super dari Washington

    Pernahkah Anda melamunkan uang sebesar US$ 87,5 miliar? Jumlah ini kurang-lebih senilai Rp 744 triliun atau kira-kira setara dengan dua kali APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) Indonesia. Lalu, bayangkan ini: saat rakyat Amerika Serikat mulai pusing kepala mempertanyakan manfaat pemerintah dan tentara mereka bertahan di Irak, Senat AS meloloskan proposal Presiden George Walker Bush untuk menggunakan bagian terbesar dari uang tersebut guna membiayai operasi militer AS di Irak dan Afganistan pascaperang. Luar biasa! Inilah pengeluaran militer dan bantuan asing terbesar dalam sejarah AS. "Memang ini tugas berat, tapi penting sekali untuk keamanan AS dan perdamaian dunia," ujar Presiden Bush. Perdamaian? Coba kita lihat sebentar beberapa data berikut ini. Dua negara-Afganistan dan Irak-telah hancur-lebur dalam tiga tahun terakhir (2001-2003) setelah menghadang misi perang Amerika. Miliaran dolar telah dihamburkan untuk ongkos kedua perang ini. Kini, pembayar pajak AS lagi-lagi mesti menumpahkan Rp 744 triliun untuk ongkos "reparasi perang", sembari nyawa serdadu Amerika terus berguguran (lihat, Musuh Siluman Memetik Nyawa). Sebagian besar dari dana di atas digunakan untuk membiayai operasi militer di Irak dan Afganistan pascaperang. Dan hanya US$ 18,6 miliar yang dipakai membangun kembali Irak. Harus diakui kemahiran Presiden Bush meyakinkan para senator: proposal dengan jumlah uang fantastis itu akhirnya gol setelah perdebatan sengit selama dua bulan. Sejumlah senator dari Partai Demokrat, bahkan Partai Republik, memang sempat menolak keras penggunaan pajak rakyat AS untuk membiayai perang yang kian tak jelas arahnya. Jajak pendapat bulan lalu menunjukkan 59 persen rakyat AS menentang penggunaan US$ 87 miliar untuk Irak dan Afganistan. "Jika ada uang untuk Irak, kenapa tak ada uang untuk Amerika?" ujar narasi dalam tayangan video yang diputar lewat situs pendukung Partai Demokrat. Menurut situs tersebut, uang US$ 87 miliar itu bisa digunakan membangun 10 ribu sekolah baru dan membayar 2 juta guru di AS. Seorang senator Partai Demokrat, Robert C. Byrd, dengan sengit menentang keputusan tersebut. Menurut Byrd, keputusan Senat meloloskan Undang-Undang Anggaran untuk Irak lebih merupakan keharusan politik ketimbang kebijakan yang dilandasi alasan rasional. Tapi, memang tak banyak pilihan bagi politikus AS dalam menghadapi masalah Irak. Situasi keamanan yang makin buruk membikin para sekutu AS waswas. Alih-alih mengirim tenaga tambahan, mereka justru mulai pikir-pikir untuk menarik pasukannya dari sana. Dukungan dana dari dunia internasional hingga saat ini tak jelas juntrungannya. Jadi, mau tak mau Amerika mesti memanggul beban sendiri dalam menangani Irak pascaperang. Inggris, sekutu kental AS, hanya bisa sedikit meringankan beban. Agaknya kondisi ini yang membuat Senat meloloskan dana raksasa tersebut. "Anggaran ini akan memenuhi tanggung jawab kita kepada warga kita yang berseragam (militer-Red.) serta rakyat Irak dan Afganistan," ujar Ketua Komite Senat, Ted Steven, dengan gagah. Maka, suara penolakan Senator Robert C. Byrd pun tenggelam dalam "kor setuju". Bahkan, Senator Ernest Holling dari kubu Demokrat membandingkan situasi di Irak dengan Perang Vietnam, yang menghadapkan AS pada dua pilihan: mengirim lebih banyak lagi pasukan ke Irak, atau menarik semua pasukan dari Irak. "Jika kita tidak mengirim 100 ribu hingga 150 ribu pasukan lagi, operasi 'penggilingan daging' kita akan terus berlangsung," ujarnya. Seorang lain dari Partai Demokrat, Richard J. Durbin, berkeberatan dana rekonstruksi Irak berbentuk bantuan. Alasan Durbin, AS sendiri sedang mengalami defisit anggaran. Tapi Bush bergeming bahwa dana rekonstruksi Irak haruslah berupa bantuan. Jika berbentuk pinjaman, akan amat membebani Irak yang masih harus menanggung utang dari rezim Saddam Hussein sebesar US$ 200 miliar. Apalagi, Bush menambahkan, jika dana itu berupa pinjaman, kesannya Amerika menyerbu Irak hanya untuk menguasai minyak. Bantuan ini memang membikin AS lebih mirip "sinterklas super" ketimbang pasukan pendudukan. Tapi, tunggu dulu! Bukankah US$ 61 miliar dari dana itu digunakan untuk ongkos pendudukan militer AS di Irak dan Afganistan pascaperang? Alhasil, bagian terbesar uang itu justru mengalir ke pundi-pundi Pentagon yang mulai kempis karena perang. Raihul Fadjri (The Guardian, San Francisco Chronicle, WPost)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Buku

Kesaksian Seorang Eks-Tapol

Catatan Pinggir

Pohon-Pohon

TEMPO|interaktif

Ozil Prediksi Giliran Jerman Juara

Lagi, Pemain Inggris Cedera  

Internasional

Gara-gara Bahasa, Anggota Dewan Ukraina Adu Jotos

Internasional

Bom Mobil Meledak di Turki, 2 Orang Tewas  

Olahraga

Barcelona Tetap Klub Terbaik di Dunia, Kata Bielsa  

Bisnis

Garuda Terbang Lagi ke Taipei  

Bisnis

Rupiah Terpuruk, Indeks Terjun Bebas 82 Poin  

Internasional

Istri bin Laden yang Ini Banyak 'Bicara' ke Intel  

Otomotif

18 Tim Mahasiswa Ikut Shell Eco-Marathon Asia 2012  

Metro

Polisi Bekuk Tersangka Pemilik Senjata Api Ilegal  

Nasional

Jokowi Akan Pertemukan Dua Kubu Keraton  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif