• Home
  • 17 November 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 17 November 2003

    Riba

    Tuan Kapital menarikan dansa macabre.... Gambaran Marx yang muram, tentang modal yang membujuk manusia berjoget mengiringi Maut, kini tampak seperti lukisan yang ditemukan kembali di seberkas naskah kuno. Tuan Kapital kini tampil lain. Mungkin ia seperti Dasamuka dalam cerita wayang: selalu mampu menjelma dengan wajah yang baru, tak kunjung mati. Ia bahkan bisa menghilang.

    Dulu ia satu metamorfosis dari riba, uang yang lahir dari uang. Kita tahu bahwa perbuatan menganakkan uang itu dinistakan ramai-ramai dari zaman ke zaman. Devarim, kitab yang memaklumkan ulangan undang-undang Musa, yang konon disusun pada abad ke-7 sebelum Masehi, melarang orang Yahudi menarik bunga dari pinjaman kepada "saudara"-nya. Empat abad kemudian Aristoteles menegaskan bahwa riba memang layak dibenci. Delapan ratus lima puluh tahun setelah itu, di sekitar abad ke-6 Masehi, Uskup Jakob dari Saroug, di Suriah, menulis bahwa bunga (rebitha) adalah hasil siasat Setan untuk memulihkan kembali kekuasaannya. Pada abad itu pula kemudian Islam datang, dengan pesan yang mirip.

    Setelah Muhammad saw., mungkin yang layak disebut adalah Marx. Pada abad ke-19 Marx menggunakan kata Schaher, yang menurut mereka yang mengerti bahasa Jerman zaman itu berarti "seseorang yang siap mengambil laba dari apa pun dengan cara yang licik". Kata itu juga berarti "riba". Di sini tampak bahwa "riba" dan "laba" (yang dalam kata Arab konon disebut ribh) sangat dekat. Laba, bagi Marx, berasal dari kelebihan hasil dari memeras tenaga buruh. Ia buah pengisapan. Apalagi dari uang itu beranak pula uang, melalui bunga. Ketika terhimpun modal, lihat, kata Marx, modal itu sebenarnya "tenaga kerja yang telah mati" yang, "bagaikan vampir, hidup hanya dengan cara menyedot tenaga kerja yang hidup."

    Tapi berangsur-angsur zaman melihat Tuan Kapital bukan lagi sebagai makhluk asing yang mengerikan. Jika Mao gagal menghapuskannya dari sejarah, jika Cina, yang secara resmi masih disebut "Republik Rakyat" itu, maju dan makmur secara mengagumkan setelah menjadi "Republik Pasar Besar", orang pun bersepakat bahwa tentu ada yang keliru dalam cerita vampir di jilid kedua Das Kapital. Modal—yang menggerakkan pasar dan digerakkan oleh pasar, yang memuliakan milik dan menggairahkan kebebasan jual beli, yang mempertukarkan dengan giat barang dan jasa—sekarang terasa lumrah dan sekaligus modern. Ia ibarat sebuah generator listrik yang hanya terdengar derunya, tapi dari sana, lampu warna-warni dan roller coaster bergerak ramai di sebuah Pekan Malam.

    Getar generator itu kini menyebar praktis ke seluruh muka bumi. Di mana pun tampaknya tak ada pilihan selain menerima kekuatannya. Pada akhirnya dialah makna modernitas itu sendiri. Apa boleh buat, dunia, dalam kata-kata Fredric Jameson, hidup dengan a singular modernity.

    Pasti, Dasamuka itu telah berubah rupa. Ia telah menyulap dirinya dan berbareng dengan itu menyulap banyak hal lain. Kita tahu, dari Marx, bahwa dengan modal, barang bisa berubah menjadi komoditas, dan bersama itu memperoleh daya yang bisa memukau manusia, bagaikan sebuah azimat. Tapi tak hanya itu. Modal bisa membuat "riba" berhenti sebagai "riba". Seraya menggerakkan pasar, modal membuat perdagangan uang bersaing sengit, dan para peminjam tak lagi sepenuhnya bergantung pada seorang rentenir. "Riba" pun akhirnya diterima sebagai "ongkos modal". Artinya, sesuatu yang bisa dirancang (dan dikontrol) dalam anggaran.

    Dalam mengubah diri itu pula, Tuan Kapital bisa muncul sebagai Coca-Cola, MTV, atau media Murdoch, suatu kekuatan yang bergerak memusat dan cenderung menyeragamkan. Tapi ia juga bisa menyulap diri sebagai pembawa variasi, dari jenis ayam goreng sampai dengan jenis komputer jinjing.

    Dan ia bisa menghilang. Pada saat yang sama, ia menyusup ke mana-mana. Kini ada yang percaya bahwa zaman kapital sudah melenyap. Bahkan sebuah masa "pasca-kapitalis" telah tiba, sebab, kata mereka, kini bukan modal yang berkuasa, melainkan informasi. Dan informasi, dalam zaman netokrasi kini, kata mereka (mungkin seraya menghitung jutaan warung Internet di pelosok bumi), tak pernah tetap berada di satu pusat. Tapi benarkah? Bisakah netokrasi berkembang tanpa Bill Gates dan para pemodal sejenisnya? Tidakkah perbedaan kelas di sini juga ditentukan oleh siapa yang memiliki modal yang—meskipun Bourdieu mungkin akan menyebutnya sebagai "modal kultural"—bermula dari basis ekonomi tertentu?

    Jika dilihat demikian, Tuan Kapital memang bisa tampak gagah dan berubah-ubah dengan cerah. Ia bahkan bisa menampilkan diri sebagai pembebas. Penelaah kebudayaan populer Arswendo Atmowiloto baru-baru ini memperkenalkan satu dikotomi yang menarik: ada "siaga" dan ada "niaga". Yang pertama adalah kecenderungan kekuatan politik untuk menutup diri seraya curiga kepada yang "luar". Yang kedua adalah kecenderungan perdagangan untuk membangun pasar yang terbuka. Sebab pasar adalah tempat orang asing atau bukan asing bertemu, yang, untuk kepentingan mereka sendiri, menjaga agar pertemuan itu bukan sebuah konflik. Pada abad ke-18 orang Prancis menyebutnya sebagai un commerce doux.

    Hari ini, memang lebih dipujikan untuk merayakan niaga ketimbang siaga—dan saya kira itulah maksud dikotomi Arswendo. Tapi tentu saja orang bisa mencatat bahwa niaga bisa membawa siaga: perang dagang bisa menjadi perang senjata. Perebutan wilayah di Nusantara antara Inggris dan Belanda adalah contohnya, dan tak salah jika Marx pernah mencemooh pengertian doux commerce itu. Kini, kalaupun perang macam itu tampak mustahil, ada yang tak mustahil: dalam siaga terdapat niaga. Pertumbuhan ekonomi AS belum lama ini, misalnya, banyak disumbang oleh perang, dengan segala perabot dan persiapannya.

    Dengan kata lain, Tuan Kapital memang tak selamanya membujuk manusia untuk menarikan dansa macabre. Tapi ia, yang ada di siang, ada di malam, memang bisa mencemaskan kita.

    Goenawan Mohamad


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Kiamat Rasul Paulus dari Bale Endah

Maut di Antara Kiamat dan Surga

Pendeta Mangapin Sibuea:

"Kami Tidak Bodoh"

Album

Meninggal

Noor Achirul Layla, 44 tahun

Buku

Fundamentalisme Yes, Sekularisme Yes

Catatan Pinggir

Riba

Layar

Islam Lokal, Islam Minoritas

`Ruang Batin' Para Peziarah

Emas di Kubangan Kerbau

Seni Rupa

Seperti Kata Pepatah Latin

Tari

Anand dan Tari Gasing Rumi

TEMPO|interaktif

Ozil Prediksi Giliran Jerman Juara  

Lagi, Pemain Inggris Cedera  

Internasional

Gara-gara Bahasa, Anggota Dewan Ukraina Adu Jotos

Internasional

Bom Mobil Meledak di Turki, 2 Orang Tewas  

Olahraga

Barcelona Tetap Klub Terbaik di Dunia, Kata Bielsa  

Bisnis

Garuda Terbang Lagi ke Taipei  

Bisnis

Rupiah Terpuruk, Indeks Terjun Bebas 82 Poin  

Internasional

Istri bin Laden yang Ini Banyak 'Bicara' ke Intel  

Otomotif

18 Tim Mahasiswa Ikut Shell Eco-Marathon Asia 2012  

Metro

Polisi Bekuk Tersangka Pemilik Senjata Api Ilegal  

Nasional

Jokowi Akan Pertemukan Dua Kubu Keraton  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif