• Home
  • 17 November 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 17 November 2003

    Emas di Kubangan Kerbau

    Gema azan magrib mengantar orang berbuka puasa. Tapi inilah Saritem. Di lokalisasi prostitusi Kota Bandung ini, azan magrib bagai gong "masuk kantor", tanda mulai bekerja. "Ramadan kami buka mulai pukul enam sore," ujar Yulisah, pelacur asal Sukabumi, kepada TEMPO. Selepas magrib, petang itu wisma-wisma prostitusi memercikkan lampu kerlap-kerlipnya. Sepanjang jalan sempit Saritem, mobil pelanggan memadat. Bingar musik karaoke berlomba tarik suara lewat pengeras suara. Sekonyong-konyong pupur menor dan pakaian seronok menjadi warna yang paling jamak lagi mencorong di ruang tamu wisma (sebutan untuk rumah bordil) milik para muncikari. Transaksi haram terjadi dari kamar hingga ke labirin lorong gang-gang becek Saritem, lokalisasi pelacuran yang konon berusia tiga abad itu. Berahi hidung belang, yang tak pernah surut, melintasi sang waktu. Malam itu, misalnya, TEMPO sempat menjumpai seorang polisi berpangkat sersan satu keluar dari kamar salah satu wisma. Pakaiannya belum dirapikan ketika ia keluar dari balik gorden. Saritem memang tak pernah berhenti berdenyut, bahkan di bulan Ramadan pun. Saritem mengukuhkan bentuk "ritual" lain. Mereka sendiri, para pelacur itu, menyebutnya "ibadah", perbuatan yang juga berkonotasi mencari nafkah. Padahal ibadah dalam arti sesungguhnya mungkin telah lama terlupakan. Bahkan kehadiran Pondok Pesantren Daar At-Taubah di tengah lingkungan mereka sejak empat tahun lalu terasa makin tenggelam. Malam hari, misalnya, At-Taubah hanya mampu menyulap bingarnya Saritem tak lebih dari satu jam. Itu pun hanya karena wisma-wisma mengecilkan volume pengeras suara musiknya. Saat itu pondok tersebut menyelenggarakan salat tarawih dan tadarusan. Seusai itu, hingga tengah malam, Saritem kembali larut dalam kesibukan bisnis berahi. Pondok pesantren dan pelacuran adalah dua hal yang seakan tak bersentuhan. Padahal sejatinya pondok pesantren seluas 218 meter persegi itu dibangun tepat di tengah Saritem untuk mengubah citra hitam kawasan ini. Begitu harapan Shonshaji, penggagas At-Taubah, kini ketua forum pondok pesantren se-Kota Bandung. "Kami mengharap mereka bertobat," demikian Ahmad Haedar, Ketua Harian Pondok Pesantren At-Taubah. Pelatihan menjahit, guna menunjukkan masih ada pilihan di luar bisnis berahi, telah didirikan. Tapi pondok pesantren berusia empat tahun itu berdiri dengan hasil nyaris nihil: segelintir muncikari berjanji mau bertobat, tapi tak satu pun pelacur ingin ikut nyantri. Yulisah, salah seorang penghuni di kompleks itu, mengaku tak peduli dengan kehadiran pondok pesantren tersebut. "Ah, kita cuek sama cuek saja," ujar sosok yang mengaku pernah menjadi santri di sebuah pondok pesantren di Sukabumi dan sempat mengikuti program menjahit itu. Koeksistensi "aneh" ini diangkat fotografer Arizona Sudiro dalam pameran Common Ground dengan tajuk Di Tengah Para Pendosa. Arizona berusaha menangkap bagaimana At-Taubah bertahan di sela-sela kehidupan para pendosa. Tentu saja ini bukan suatu pekerjaan mudah. Untuk proses pendekatan, ia sendiri menghabiskan waktu sampai satu tahun. Termasuk pendekatan dengan birokrat setempat yang hipokrit. "Mereka masih berusaha menutupi aib segamblang ini," kata Arizona. Tapi akhirnya uang punya kuasa. Setelah periode pendekatan, Arizona mengikuti kehidupan mereka beberapa bulan. Pelacuran dan agama memang tema lawas, tapi mengandung cerita ironi yang tak pernah kering. Melalui cetak foto hitam-putih yang kuat, Arizona tak luput mencatat semua hal kontras. Termasuk keseharian mereka ketika siang hari: tali jemuran dipenuhi handuk kecil sisa maksiat malam sebelumnya. Arizona, misalnya, di satu senja menangkap keseharian dua santri berjilbab, dengan mukena dalam pelukan. Kamera menangkap momen saat mereka berpapasan dengan pelacur on duty di sebuah gang becek. Ada juga ironi yang bergulir ketika, misalnya, seorang muncikari bertobat. Ia memakai jilbab kini dan hari-harinya diisi dengan menunggui anaknya yang belajar mengaji di At-Taubah. Begitu juga Susi, sebut saja begitu, seorang penjaja seks yang tinggal tepat di belakang masjid At-Taubah. Arizona memotret momen ketika Susi melepas dua anaknya nyantri. Mereka berbaju koko, sementara sang ibu siap dengan dandanannya yang kenes di muka pintu. Menurut Arizona, suami Susi-lah yang menjadi calo. "Mereka berdua tidak mau anak-anak mengikuti mereka, sehingga disekolahkan di At-Taubah," ujar Arizona, sosok yang kini aktif mengajar di Galeri Foto Jurnalistik Antara, kepada TEMPO. Anak-anak akhirnya yang membuat para ustad di At-Taubah banting setir. Mereka tidak lagi mati-matian menjala penjaja ataupun muncikarinya yang susah bertobat. Istilah Ahmad, "Kami potong generasi." Hasilnya sudah lumayan. Anak-anak di situ sudah hafal Juz Amma. Apa boleh buat, dewasa ini Pesantren Al-Taubah memiliki 186 santri anak-anak. Kebanyakan anak germo dan pelacur. Kasus serupa terjadi di Gang Dolly, Surabaya, lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara. Perbedaannya dengan Saritem, di bulan Ramadan ini Dolly tutup selama sebulan. Pemerintah Kota Surabayalah yang menerapkan larangan itu. Tobat adalah tema sentral. Saritem punya Pondok Pesantren At-Taubah, Gang Dolly punya Masjid At-Taubah. Masjid At-Taubah ini dibangun pada 1989 di atas tanah wakaf seorang muncikari yang insaf. Surip, muncikari itu, terpaksa memberikan tanahnya karena anaknya sakit. Ia telah membawa si anak berobat ke mana-mana dengan hasil nol besar. Perubahan baru terjadi setelah seorang kiai menasihatinya agar membangun masjid atau musala. Kini, hampir 15 tahun berselang, At-Taubah tetap berdiri, tanpa membawa perubahan berarti. Sesekali ada penghuni wisma berkunjung. Tapi, setelah itu, terpampang kenyataan: tak gampang mengajak pelacur ke rumah ibadah. "Di sini, ceramah agama yang keras dan main tabrak malah tidak laku," ujar Johny, wakil takmir At-Taubah. Namun, belakangan ini, terbitlah harapan baru. Bukan dari para pelacur, melainkan dari generasi penerus, termasuk cucu para pelacur dan muncikari pemilik wisma. Kasus di At-Taubah mirip dengan di Al-Taubah. Pagi-sore, Johny dan kawan-kawannya menyelanggarakan Taman Pendidikan Quran (TPQ) bagi anak-anak. Pesertanya sudah mencapai 175 anak. Mereka anak-anak warga di Gang Dolly dan sekitarnya. "Emas 24 karat tetap saja murni walau ia berada dalam kubangan kotoran kerbau," kata Johny. Banyak cara memercikkan nilai-nilai agama di daerah pelacuran, dari pendekatan simbolis, seperti mendirikan sebuah Islamic center di atas puing-puing pembongkaran lokalisasi Kramat Tunggak, hingga yang realistis. Ahmad Haedar langsung menusuk permasalahan dasarnya. "Kami sadari, kalau tidak didukung dengan membantu ekonomi mereka, tidak akan berhasil," katanya. Di Bangunsari, lokalisasi terbesar kedua di Surabaya setelah Dolly, Ustad Drs. H.M. Khoiron tinggal bertahun-tahun dengan para pelacur. Itulah yang membuatnya dijuluki "Ustad Pelacur". Ia, misalnya, terlibat dalam kegiatan kerja bakti atau acara hajatan di antara mereka. Ia tidak berdakwah karena kegiatan itu akan memberikan jarak. Ia hanya membekali mereka satu hal: suatu saat nanti, mereka akan bertobat, dan jalan agama sudah menunggu. Dolly, Saritem, dan Bangunsari bagian dari 42 lokalisasi pelacuran di negeri ini yang mengandung banyak ironi, tragedi, dan harap. Dan malam itu, hari kesebelas Ramadan, transaksi demi transaksi seks berlalu di Saritem. Setiap mobil yang masuk jalan Saritem segera didatangi calo. Yulisah malam itu tersenyum ketika seorang tamu menawarinya menemani ke sebuah hotel. Bayarannya Rp 700 ribu, empat kali lipat bayaran "short time" di wisma. Berbalut celana jins dan kaus ketat, Yulisah menaiki mobil sang tamu. "Bismillah...," rapalnya lirih mengawali dinas malamnya. Endah W.S. (Jakarta), Bobby Gunawan (Bandung), Sunudyantoro (Surabaya)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Kiamat Rasul Paulus dari Bale Endah

Maut di Antara Kiamat dan Surga

Pendeta Mangapin Sibuea:

"Kami Tidak Bodoh"

Album

Meninggal

Noor Achirul Layla, 44 tahun

Buku

Fundamentalisme Yes, Sekularisme Yes

Catatan Pinggir

Riba

Layar

Islam Lokal, Islam Minoritas

`Ruang Batin' Para Peziarah

Emas di Kubangan Kerbau

Seni Rupa

Seperti Kata Pepatah Latin

Tari

Anand dan Tari Gasing Rumi

TEMPO|interaktif

Di Bangkok, Lady Gaga Kunjungi Kabaret Waria

Olahraga

Persisam Minta Polisi Usut Pelempar Mercon Roket

Otomotif

Toyota Rakit 8 Mobil Murah Untuk Negara Berkembang

Internasional

Kisah di Balik Pengusap Kepala Obama  

Given Kembali Berlatih Pekan Depan  

Ozil Prediksi Giliran Jerman Juara  

Lagi, Pemain Inggris Cedera  

Internasional

Gara-gara Bahasa, Anggota Dewan Ukraina Adu Jotos

Internasional

Bom Mobil Meledak di Turki, 2 Orang Tewas  

Olahraga

Barcelona Tetap Klub Terbaik di Dunia, Kata Bielsa  

Bisnis

Garuda Terbang Lagi ke Taipei  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif