• Home
  • 17 November 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 17 November 2003

    Seperti Kata Pepatah Latin

    Kanvas itu bagai rajutan serat. Baris-baris motif ukelan Bali dengan rapi berepetisi rapat bak tenunan. Lalu, ada sebatang kayu berujung bundar berusaha menonjol keluar. Karya abstrak I Wayan Suklu (Sujana dari Klungkung), Menembus Labirin, Menggelinding Mengempas Dinding, di Galeri Nasional itu mengingatkan pada karya Suklu berjudul Pertemuan di Philip Morris Indonesia Art Award (PMIAA) 2003, September lalu.

    Keduanya senapas, bahan campuran dari rotan, cat akrilik, aluminium, hanya beda motif dan warna. Dewan juri Indofood Art Awards memujinya sebagai "sebuah imajinasi kehidupan Indonesia yang terjebak dalam labirin dan kemudian terbebas tahun 1998...." Akan halnya dewan juri PMIAA menilai " karya ini benar-benar sebuah pengucapan mantra dan pencapaian ekstase imani".

    Indofood Art Awards 2003 membuktikan bahwa pepatah Latin de gustibus non est disputandum (masalah selera tidak dapat diperdebatkan) masih berlaku. Dua karya serupa bisa mendapat tafsir jauh berbeda. Menarik, harus dicermati, setelah Indonesia memiliki banyak kompetisi seni rupa (kompetisi Trienal Grafis Indonesia, serta CP Open Bienalle dan Bienalle Yogya untuk non-lomba). Tiap-tiap dewan juri dan kurator memiliki cita rasa sendiri.

    Indofood Art Awards (IAA) adalah kompetisi yang mencanangkan tempat kulminasi bagi para perupa yang setia pada bingkai lukis konvensional." Kami mencari karya-karya di atas kanvas yang betul-betul matang, perfek, beres dari proses eksperimen," kata kritikus Agus Dermawan T., penggagas IAA. Ini yang membedakan dengan PMIAA. yang memberi ruang pada karya berpotensi eksperimen. Istilah Agus, sementara PMIAA "menjunjung proses yang sedang berlangsung", IAA "menangkap hasil akhir dari proses itu".

    Dari 2.800 karya, dewan juri Srihadi Soedarsono, Oei Hong Djien, Taufiq Ismail, Agus Dermawan T., dan Dwi Marianto memilih 11 lukisan terbaik. Memunculkan karya mengesankan, seperti karya Ronald Manulang, Ritual Before Election Day. Tapi, menarik memperbandingkan nominasi antar-kompetisi. Ada 13 finalis IAA yang juga finalis PMIAA, tapi berbeda nasib. Karya Suklu, yang meraih predikat terbaik di IAA, hanya masuk kategori sepuluh besar di PMIAA.

    Karya Paul Hendro Nugroho berjudul Semua Hanya Anugerah-Nya di PMIAA. Sedangkan Demo Crazy of Banana Republic dari pelukis yang sama hanya menjadi finalis di IAA. Ratapan Ibu Pertiwi karya Agung Hanafi Purboaji di IAA menjadi pemenang utama kategori simbolis, sementara karyanya Kereta Tak Berkuda di PMIAA menjadi finalis. Karya Yayat Surya, akrilik di atas kanvas berjudul Aura Perubahan, menang dalam kategori abstrak di IAA. Sedangkan karya Yayat yang lain, Globalienation of Change, di PMIAA hanya menjadi finalis.

    Ini menunjukkan bahwa produk seniman-walau dibuat di tahun yang sama-relatif secara estetis. Di satu kompetisi, karya itu dianggap bagus. Di kompetisi yang lain kurang, tergantung perspektif. "Karya Hendro yang di PMIAA lebih bagus daripada yang di Indofood," kata Agus Dermawan. Apalagi dewan juri IAA bersikap tegas. Lima Tahun Reformasi Indonesia yang canggih disingkirkan karena tak memenuhi tema, sementara selera juri atas reformasi cenderung metafora, bukan berbau kritik politik tajam.

    Karya Melodia, seorang tukang becak mendengkur di becaknya dengan latar lembar rupiah, berjudul Mimpi-Mimpi yang Tertunda, meraih predikat terbaik. Yang menjadikannya juara menurut juri adalah deskripsi tematiknya tepat. IAA tahun lalu tanpa pengkategorian. Ketika diiklankan di koran, lomba tahun ini dibagi dua: representasional dan non-representasional. Namun, mempertimbangkan pelbagai masukan, ia dibagi menjadi abstrak, simbolis, representasional. Tahun depan, malah bisa kategorinya ditambah.

    Kompetisi seni lukis bukan lomba silat. Tak ada jawara sejati. Semakin banyak kompetisi, semakin banyak kategori, semakin saling melengkapi. Sebagian juri, Srihadi Soedarsono, M. Dwi Marianto, Fuad Hassan, Agung Rai (dua yang terakhir juri di IAA pertama), pernah juga menjadi juri PMIAA. Namun, berbeda forum, mereka bekerja dengan konsep penilaian yang berbeda, hingga hasilnya juga berbeda (meski tafsir subyektif tak mungkin hilang, seperti perbedaan tafsir karya Suklu di atas). Yang dibutuhkan adalah seleksi yang ketat, tanpa ampun, sesuai dengan visi tiap-tiap kompetisi. IAA tampaknya melebarkan sayap. Tahun depan, kompetisi ditambah dengan lomba seni patung. Semoga seru, karena ini baru pertama kali.

    Seno Joko Suyono


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Kiamat Rasul Paulus dari Bale Endah

Maut di Antara Kiamat dan Surga

Pendeta Mangapin Sibuea:

"Kami Tidak Bodoh"

Album

Meninggal

Noor Achirul Layla, 44 tahun

Buku

Fundamentalisme Yes, Sekularisme Yes

Catatan Pinggir

Riba

Layar

Islam Lokal, Islam Minoritas

`Ruang Batin' Para Peziarah

Emas di Kubangan Kerbau

Seni Rupa

Seperti Kata Pepatah Latin

Tari

Anand dan Tari Gasing Rumi

TEMPO|interaktif

Di Bangkok, Lady Gaga Kunjungi Kabaret Waria  

Olahraga

Persisam Minta Polisi Usut Pelempar Mercon Roket  

Otomotif

Toyota Rakit 8 Mobil Murah untuk Negara Berkembang  

Internasional

Kisah di Balik Pengusap Kepala Obama

Given Kembali Berlatih Pekan Depan  

Ozil Prediksi Giliran Jerman Juara  

Lagi, Pemain Inggris Cedera  

Internasional

Gara-gara Bahasa, Anggota Dewan Ukraina Adu Jotos

Internasional

Bom Mobil Meledak di Turki, 2 Orang Tewas  

Olahraga

Barcelona Tetap Klub Terbaik di Dunia, Kata Bielsa  

Bisnis

Garuda Terbang Lagi ke Taipei  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif