• Home
  • 24 November 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 November 2003

    Daoed, Cucu, Buku

    Kehidupan hari tua bagi seorang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah soal mengurus cucu dan membaca setumpuk buku. Dua orang cucu, 12 tahun dan 4 tahun, dijemputnya dari sekolah setiap hari, sementara waktu lainnya ia pakai untuk membaca buku-buku yang tak sempat dibuka kala ia menjabat menteri. Ia menyukai buku-buku filsafat dan astrofisika. Ia membaca Fritjof Kapra. Itulah Daoed Joesoef, 77 tahun, bekas Menteri Pendidikan zaman Soeharto (1978-1983) yang namanya kerap kontroversial. Ia jadi menteri ketika gerakan mahasiswa menentang pemerintah sedang marak-maraknya: demonstrasi membuncah, tank masuk kampus, dan aktivis ditangkapi. Lalu, Daoed Joesoef sang menteri memisahkan kegiatan akademis dari kegiatan politik di kampus. Ia memberlakukan NKK (normalisasi kehidupan kampus), menerapkan sistem pembatasan masa kuliah, dan sistem satuan kredit semester (SKS)—peraturan yang mudah ditafsirkan sebagai upaya membelenggu gerakan politik mahasiswa. Ia pun lalu dicemooh. Tapi Daoed bergeming. Tapi, itu masa lalu. Sekarang ia menulis buku. Salah satunya adalah Emak, buku yang diterbitkan pada Oktober lalu. Ibunda Daoed, Djasi'ah Joesoef, adalah tokoh sentral dalam novel ini sekaligus dalam kehidupan Daoed sendiri. Kepergiannya ke Prancis (1964-1972) untuk belajar ekonomi hingga mendapat gelar doktor dari Universitas Sorbonne tak lepas dari dorongan semangat sang ibu. Daoed teringat ketika ia bertemu Rektor Universitas Sorbonne saat ia mulai belajar di tahun 1964 itu. "Anak muda, hendak apa kamu datang ke sini?" "Saya ingin belajar ekonomi, Tuan Rektor," jawab Daoed "Hanya itu saja?" tanya rektor itu lagi. "Oh, tidak. Juga belajar kebudayaan," jawabnya, "Bicara tentang kebudayaan itu berarti bicara tentang Prancis sebagai salah satu tempat penghasil para pemikir. Dan bicara tentang Prancis, mau tak mau harus menyebut Universitas Sorbonne sebagai penghasil para pemikir itu." "Ah, kau perayu cilik. Ya sudah, belajar seturut kehendakmu," rektor itu tersenyum. Emak, kata Daoed, selalu memperhatikan masalah pendidikan. Prinsipnya sederhana saja, Emak mengutip ayat pertama yang turun dalam Al-Quran, yakni "Iqra, bacalah…". Dengan dasar ini, sang ibu memperhatikan pendidikan kelima anaknya—termasuk Daoed, putranya yang nomor empat. Jika Daoed hendak menyewa buku bacaan, Emak pastilah memberinya uang saku. Sang emak pula selalu menumbuhkan rasa aman, tenteram, kepada anak-anak. Kala ekonomi keluarga sedang sulit, Emak selalu meyakinkan anak-anak bahwa ia memiliki tabungan berlian. Kalau mendengar Emak bercerita demikian, sang suami cuma terbatuk-batuk. Anak-anak tak tahu bahwa sebenarnya tabungan berlian itu hanyalah usaha Emak untuk memberikan rasa tenteram. Anak-anak baru tahu bahwa tabungan berlian itu tak pernah ada ketika suatu saat mereka patungan hendak membelikan berlian buat Emak. "Kata Emak, berlian pemberian anak-anak ini adalah berlian pertama yang ia miliki," kisah Daoed. Sayangnya, ketika sang Emak meninggal dunia, Daoed sedang berada di Paris. Daoed menggambarkan dalam bukunya, saat itu ia tengah berada di rumahnya di Paris sambil terpekur menghadapi berbagai kitab di muka meja. Kabar menyedihkan itu ia terima ketika ia sedang sendiri. Anak dan istrinya sedang pergi ke taman. Daoed lalu membaca surat Yasin, yang teksnya selalu ada di saku bajunya. Selepas jabatan sebagai menteri, Daoed aktif di lembaga kajian CSIS (Centre for Strategic and International Studies). Di sana ia sempat menjadi ketua dewan direktur dan aktif membuat kertas kerja tentang pendidikan, pertahanan-keamanan, dan beberapa bidang lainnya. "Tak mengelola usaha tertentu setelah tidak jadi pejabat?" "Tidak," kata Daoed tegas. Ia merasa dirinya terikat dengan suatu doktrin, jangan menjadi pebisnis ketika menjadi pejabat, dan pun setelah masa jabatannya. Menurut dia, hal itu tak etis, karena banyak orang sungkan kepada mantan pejabat. Daoed menyebut tiga tesis yang ia percayai. Pertama, pendidikan tidak bisa baik jika situasi politik tidak baik. Kedua, kalaupun politik berjalan dengan baik, pendidikan baru bisa baik jika pengelolanya adalah orang yang cinta pada pendidikan. Ketiga, sumber korupsi itu bukan pada kekuasaan yang absolut, melainkan pada ketakutan akan kehilangan kekuasaan. Seturut sikapnya itu, ia lebih memilih hidup sebagai pembaca buku dan menikmati hari tua di rumah dengan taman bunga yang dirawat istrinya, Soelastri. Sesekali ia melukis. Bahkan ia pernah menggelar pameran lukisan dua kali. Dan seluruh ilustrasi, termasuk gambar dalam cover buku ini, ia kerjakan sendiri. Ignatius Haryanto

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Garin Nugroho, 42 tahun

Buku

Menulis Emak, Menulis Daoed

Daoed, Cucu, Buku

Catatan Pinggir

Allah

Fotografi

Hutan, Cermin, dan Filsuf

TEMPO|interaktif

Di Bangkok, Lady Gaga Kunjungi Kabaret Waria  

Olahraga

Persisam Minta Polisi Usut Pelempar Mercon Roket  

Otomotif

Toyota Rakit 8 Mobil Murah untuk Negara Berkembang  

Internasional

Kisah di Balik Pengusap Kepala Obama

Given Kembali Berlatih Pekan Depan  

Ozil Prediksi Giliran Jerman Juara  

Lagi, Pemain Inggris Cedera  

Internasional

Gara-gara Bahasa, Anggota Dewan Ukraina Adu Jotos

Internasional

Bom Mobil Meledak di Turki, 2 Orang Tewas  

Olahraga

Barcelona Tetap Klub Terbaik di Dunia, Kata Bielsa  

Bisnis

Garuda Terbang Lagi ke Taipei  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif