• Home
  • 24 November 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 November 2003

    Guncangan Reksadana

    Tidak hanya bank, reksadana obligasi juga rupanya tidak kebal terhadap rush. Walaupun tergolong instrumen investasi paling aman, sepanjang tiga minggu terakhir reksadana obligasi tergilas aksi pencairan(redemption) antara Rp 5,5 triliun dan Rp 6 triliun. Para manajerinvestasi nyaris panik, mungkin karena mereka tidak sedikit punmemperkirakan musibah itu akan terjadi. Badan PengawasPasar Modal (Bapepam) pun seperti kecolongan dan belakanganbaru menyadari bahwa sektor reksadana, yang selama initenang tenteram, ternyata menyimpan "bom waktu" yangledakannya bisa juga mengguncang pasar modal.

    Obligasi memang tumbuh pesat dan kini sudahmenghimpun dana masyarakat sekitar Rp 80 triliun. Perusahaanberlomba-lomba menerbitkan obligasi, sementara pemerintah jugamengeluarkan surat utang negara (SUN). Tren ini agaknyamembuat manajer investasi terbuai, padahal merekaseharusnya waspada, terlebih-lebih semenjak Bank Indonesia melarang bank turut aktif dalam aktivitas reksadana. Belum lagikenyataan bahwa pasar kebanjiran obligasi, sehingga harganyaikut tertekan. Di atas itu semua, perbedaan dalampenghitungan nilai aktiva bersih (NAB)-seperti ramaidiberitakan-muncul sebagai pemicu utama yang menyebabkanrush.

    Dalam prakteknya, ada tiga cara menghitung NAB.Pertama, dengan mengacu ke harga pasar (marked tomarket). Kedua, dengan mengakumulasi semua perolehan dariperdagangan obligasi ditambah nilai kupon. Dan ketiga, denganbertumpu pada nilai obligasi ketika dibeli oleh investor. Bapepamsendiri menetapkan bahwa penghitungan NAB harusdisesuaikan dengan harga pasar alias marked tomarket. Konsekuensinya, yield yang diperoleh investor bisa turun, sesuai dengankondisi pasar. Hal ini wajar-wajar saja sebenarnya. Namun,investor yang reksadananya dikelola dengan sistemmarked to market tidak mau perolehannya turun, terlebih-lebih karenainvestor yang reksadananya dikelola secara akumulatif,penghasilannya terus bertambah. Perbedaan penghitungan NAB sepertiinilah, kabarnya, yang menjadi kunci pemicu rush.

    Kalau memang benar kesimpang-siuran penghitunganNAB itulah yang menyebabkan terjadinya rush, berartipengawasan Bapepam tidak efektif. Semestinya Bapepammenjatuhkan sanksi pada mereka yang tidak menghitung NAB dengancara marked to market-minimal menegur secara keras.Namun, kalau gejolak terjadi karena salah satu manajer investasimenetapkan penghitungan NAB tidak secara bulanan, tapiharian, masalahnya jadi agak berbeda. Dalam hal ini,penghitungan NAB harian mungkin belum disosialisasi secara benarsehingga para investor bukan saja tidak siap, tapi justru mencurigainya.

    Harus diakui, secara teknis, investasi reksadana obligasimemang sedikit lebih ruwet dari investasi saham. Berbedadengan saham, perdagangan obligasi terjadi di luar pasar(over the counter) sehingga tidak bisa dipantau seketika dansejelas-jelasnya seperti di bursa. Dalam reksadana obligasi jugamasih ada kerancuan antara dua pihak yang memainkan peranutama: manajer investasi dan bank kustodian. Yang jugamerepotkan adalah ketidaksiapan investor untuk menerimakenyataan bahwa reksadana obligasi berpenghasilan tetapsekalipun bukanlah tanpa risiko. Padahal mereka harus menyadaribahwa sewaktu-waktu harga obligasi bisa turun, demikian pulayield yang ditawarkannya.

    Kendati rush telah mengenyakkan kita, peran obligasi tetap sangat diharapkan dalam menarik dana masyarakat. Adanya surat utang negara (SUN) berjangka panjang tentu bisa ikut mengurangi risiko di sektor ini. Yang penting, gairah investasi di pasar modal perlu dijaga, dan stabilitas perdagangan bursa-termasuk reksadana-harus diutamakan. Kita telah membayar mahal untuk rush yang melanda sektor perbankan, dan tiba gilirannya kini agar rush terhadap reksadana obligasi pun benar-benar diwaspadai.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Garin Nugroho, 42 tahun

Buku

Menulis Emak, Menulis Daoed

Daoed, Cucu, Buku

Catatan Pinggir

Allah

Fotografi

Hutan, Cermin, dan Filsuf

TEMPO|interaktif

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif