• Home
  • 01 Desember 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Iqra
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
  • Arsip
  • 01 Desember 2003

    Sang Legenda Telah Pergi

    SEBUAH perjalanan terakhir disiapkan untuknya. Jas safari gelap membalut tubuh setinggi 1,76 meter itu. Sepatu pantofel hitam mengkilat membungkus kakinya. Rambutnya yang putih seperti kapas disisir rapi ke belakang. Mukanya teduh, matanya terpejam, menikmati tidur yang panjang dalam peti mati itu. Ferdinand Alexander Sonneville, jasad dalam peti yang tiada henti dipandangi sanak saudaranya dengan haru itu, seorang atlet kebanggaan Indonesia, telah berpulang di usia ke-72, Kamis dua minggu lalu di Jakarta karena kanker usus. Istri, dua putrinya, dan dua cucunya melepasnya dengan tabah.

    Ferdinand, yang lebih dikenal dengan Ferry Sonneville, berjaya di dunia bulu tangkis tahun 1950-an sampai 1960-an. Pada zaman itu hiduplah para maestro seperti Erland Kops dan Finn Kobbero dari Denmark atau Tan Aik Huang dan pasangan kenamaan Ng Boon Bee/Tan Yee Khan dari Malaysia. Ferry satu angkatan dengan Tan Joe Hok, Eddy Yusuf, serta pasangan ganda Tan King Gwan dan Njoo Kim Bee. Ferry dan sederet nama inilah yang pada tahun 1958 merebut Piala Thomas untuk pertama kali setelah mengalahkan Malaya (kini Malaysia), yang pada saat itu nyaris tanpa saingan di dunia. Yang luar biasa, kemenangan telak Indonesia itu (skornya 6-3) direbut di Kuala Lumpur, di depan publik yang terkenal "ganas" dalam mendukung negerinya itu. Mungkin Tan Joe Hok, yang datang melayat jenazah Ferry, ingat betul perjuangan berat itu ketika ia berkomentar pendek, "Kami kehilangan teman yang penuh dedikasi."

    Dedikasi Ferry untuk olahraga dan bulu tangkis Indonesia mustahil dilupakan. Dialah yang pada 1951 mendirikan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) bersama tiga pemain lain: Sudirman, Ramli Rikin, dan Liem Sioe Liong. Sederet gelar juara turnamen diraihnya, namun satu yang belum sempat ia gapai: turnamen akbar All England. Di final tunggal putra tahun 1959, ia kalah dari Tan Joe Hok. Empat tahun kemudian, di final ganda putra All England, Ferry yang berpasangan dengan Tan Joe Hok dikalahkan jagoan Denmark, Finn Kobbero dan Jorgen Hammergaard.

    Di luar badminton, Ferry ternyata pelatih olahraga bela diri jiujitsu, pada tahun 1949-1955. Dia kemudian ikut mendirikan Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI).

    Ilmu jiujitsu ini didapat Ferry dari ayahnya, Dirk Jan, seorang keturunan Belanda. Tapi kesukaannya pada badminton dibentuk oleh sang ibu, Leoni Elisabeth, yang sejak dini sudah mengajaknya bermain di lapangan badminton di halaman belakang rumahnya. Sejak remaja ia sudah menyapu gelar kejuaraan pelajar di Jakarta.

    Selain tangguh, Ferry dikenal keras hati. Pada 1954 ia ngotot bertanding dengan seorang pemain Malaysia yang tengah menjalani skorsing. Dia pun menerima skorsing dari PBSI, organisasi yang didirikannya. Orang mengira karier Ferry tamat. Apalagi ia kemudian terbang ke Belanda, melanjutkan sekolahnya di jurusan ekonomi di Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam. Lulus dari situ, ia bekerja sebagai pegawai Bank Indonesia cabang Rotterdam.

    Namun, selama sembilan tahun bekerja di bank, ia masih sempat menjuarai turnamen bulu tangkis tingkat internasional. Malah turnamen Belanda Terbuka dijuarainya enam kali berturut-turut. Namanya tak pernah luput dari tim utama PBSI, termasuk ketika merebut Piala Thomas untuk pertama kali. Pada tahun 1961, Ferry kembali bergabung dalam tim yang mempertahankan Piala Thomas yang membabat Thailand di final, begitu juga tahun 1964. Pada tahun 1967, dalam final yang ricuh melawan Malaysia di Istora Senayan, terjadilah "Peristiwa Scheele". Wasit kehormatan International Badminton Federation, Herbert Scheele, menghentikan pertandingan karena penonton tak terkendali, Indonesia menolak, dan Piala Thomas jatuh ke tangan Malaysia.

    Dunia Ferry tak hanya bulu tangkis. Sebagai lulusan Belanda, ia juga diminta membantu Bung Karno dalam persoalan ekonomi. Ia mengusulkan pemerintah Indonesia mendatangkan Jan Tinberger, pakar ekonomi bereputasi dunia dari Belanda. Kedatangan Tinberger ke Jakarta pada tahun 1964 menjadi cikal bakal berdirinya IGGI, lembaga donor internasional untuk Indonesia.

    Setelah "Peristiwa Scheele", Ferry seolah menghilang dari lapangan badminton. Yang diketahui, seperti yang kemudian diceritakannya kepada majalah Eksekutif, ia mundur dari Bank Indonesia karena malu menerima "gaji buta" dan memilih berkarier sebagai orang partikelir. Ia mendirikan Ferry Sonneville and Co. pada tahun 1968, yang bergerak di real estate dan properti. Perusahaan itu mulai menanjak ketika membebaskan tanah 350 hektare untuk proyek perumahan di Gunung Putri, Bogor. Nama Ferry menjulang saat diangkat sebagai Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) dan anggota Komite Eksekutif Federasi Internasional Real Estate (FIABCI). Ia juga aktif di banyak yayasan sosial, termasuk perintis berdirinya Universitas Trisakti.

    Tapi olahraga memanggilnya pulang. Ia terpilih sebagai Ketua Umum KONI (1970), Presiden International Federation Badminton (1971-1974), Ketua Umum PBSI (1981-1985), dan World President FIAC (1995). Anugerah Satya Lencana Kebudayaan (1961) dan Tanda Jasa Bintang RI Kelas II (1964) sangat layak ia dapatkan sebagai orang yang mengharumkan nama bangsa.

    Di peti itu, bibirnya tersenyum tulus: ia siap untuk sebuah perjalanan lain.

    I.G.G. Maha Adi, Faisal Assegaf (Tempo News Room), T.H.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

La Rose, 70 tahun

Buku

Ular Alur dari Australia

Catatan Pinggir

Maaf

Televisi

'Bye-Bye' Bajuri

TEMPO|interaktif

Teknologi

NetApp Indonesia Resmikan Kantor Baru

Inilah Para Calon Pengganti Paul Si Gurita

Olahraga

Robbie Fowler Hadapi Indonesia All-Stars Masters

Bisnis

Stop Ekspor Mineral, Indonesia Ditekan Asing

Olahraga

Mitra Kukar Cukur Gresik United 4-1

Teknologi

Penyebar Malware Angry Birds Didenda

Otomotif

Hambat Importir Umum, BMW Didenda Rp 1,5 Triliun

Bisnis

200 'Kuda Putih' Akan Diluncurkan  

Metro

Penembakan Satpam IPB, Lima Menit Jelang Adzan  

Metro

Penembak Satpam IPB Menyamar Jadi Mahasiswa

Di Bangkok, Lady Gaga Kunjungi Kabaret Waria  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif