• Home
  • 01 Desember 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Iqra
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
  • Arsip
  • 01 Desember 2003

    Pedofilia, di Abad yang Baru

    Beberapa abad silam, pedofilia memiliki "rumah" dalam puisi, soneta, dan novel sastra. Di dalam sonetanya, Shakespeare pernah berkata "..the master-mistress ofmy passions..." dan "O, thou, mylovely boy". Di dalam cerita pendekDeath in Venice, pemenang Nobel Sastra tahun 1929dari Jerman, Thomas Mann, mencurahkan cinta kasih yangobsesif milik Gustave Aschenbach, seorang lelaki tua berusia 50tahun, kepada lelaki kecil rupawan Tadzio. Hidup yang penuhwarna dan petualangan seksual itu kemudian dikaitkan dengankehidupan nyata para sastrawan besar itu, Auden, Blake,Oscar Wilde, hingga Lewis Carol. Kecuali Oscar Wilde yangmemang pernah ditahan karena perilakunya itu, kita tak pernahtahu apa benar para sastrawan ini memang benar-benar seorangpedofil.

    Pedofilia, sebuah kecenderungan dorongan seksualkepada anak-anak di bawah umur, di abad ini tak lagi ditutupoleh keindahan kemeja dengan renda merah jambu. Pedofilia diabad yang lebih ruwet ini bukan hanya persoalan percintaanantara sepasang manusia (homoseksual atau heteroseksual) yangmemiliki perbedaaan usia yang terlalu jauh, melainkan sudahdianggap memasuki wilayah kriminal.

    Syahdan, nama besar di abad ini yang tengah dikaitkandengan pedofilia adalah penyanyi pop terkemuka MichaelJackson (baca rubrik Perilaku: Lagu Sumbang Sang RajaPop). Setelah berhasil "menyetip" tuduhan pelecehan seksual terhadapseorang anak lelaki berusia 13 tahun pada 1993 silam,Jackson kembali diganjar tuduhan telah berbuat tak senonoh padaanak lelaki (lain) berusia 12 tahun. Kali ini, polisi berhasilmembuat dia terpaksa "menyerahkan diri" dan kini tengah terjadiperang informasi antara pihak penggugat dan tertuduh.

    Kalaupun kasus Jackson itu menguap dengankompromi uang, agaknya ini sebuah persoalan serius yang tetapharus ditangani. Sesungguhnya yang perlu diingat dandipersoalkan oleh pihak yang berwajib, para pembuat undang-undang,orang tua, dan para pendidik adalah bahwa pedofilia bukanhanya persoalan moralitas belaka. Dengan peristiwa Robot Gedekdan berbagai nama di belahan bumi lain, pedofilia telahmemasuki wilayah kriminal karena adanya unsur pemaksaan tindakseksual terhadap anak-anak di bawah usia. Yang lebihmembuat kasus ini parah, kasus pedofilia ini sering juga dilakukanoleh orang dewasa yang dikenal oleh anak-anak itu (paman,kakek, atau bahkan ayah kandung sendiri). Dan celakanya, kasusini tak bakal terungkap media jika tidak melibatkan namabesar atau bukan kasus ekstrem seperti Robot Gedek.

    Di banyak rumah tangga, di banyak desa dan dipojok-pojok urban, begitu banyak "kasih sayang" para lelaki dewasaterhadap anak-anak yang berkembang menjadi suatuhubungan yang tak wajar, yang tentu saja menjadi hubunganpemaksaan karena sang anak tak memahami apa yang tengahterjadi. Kasus-kasus pedofilia ini tak menjadi sorotan hanyakarena para keluarga korban lebih suka menutupinya. Justifikasipara lelaki dewasa pedofilia yang menganggap bahwahubungan dengan anak-anak itu adalah "suka sama suka" adalahsebuah pernyataan yang mengandung problem mental. Kita semuatahu bahwa anak-anak di bawah usia sangat mudahdimanipulasi oleh orang dewasa yang bisa saja mengikatnya denganajakan sebuah pengalaman, perjalanan, atau bahkan petualanganke wilayah yang baru.

    Melindungi anak-anak dari kekejian seksual dan manipulasi orang dewasa bukan hanya kewajiban para orang tua dan para pendidik, melainkan merupakan kewajiban mendasar bagi kita semua.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

La Rose, 70 tahun

Buku

Ular Alur dari Australia

Catatan Pinggir

Maaf

Televisi

'Bye-Bye' Bajuri

TEMPO|interaktif

Teknologi

NetApp Indonesia Resmikan Kantor Baru

Inilah Para Calon Pengganti Paul Si Gurita

Olahraga

Robbie Fowler Hadapi Indonesia All-Stars Masters

Bisnis

Stop Ekspor Mineral, Indonesia Ditekan Asing

Olahraga

Mitra Kukar Cukur Gresik United 4-1

Teknologi

Penyebar Malware Angry Birds Didenda

Otomotif

Hambat Importir Umum, BMW Didenda Rp 1,5 Triliun

Bisnis

200 'Kuda Putih' Akan Diluncurkan  

Metro

Penembakan Satpam IPB, Lima Menit Jelang Adzan  

Metro

Penembak Satpam IPB Menyamar Jadi Mahasiswa

Di Bangkok, Lady Gaga Kunjungi Kabaret Waria  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif